Kesesuaian adalah Kunci Keberhasilan UKM

oleh : Aguntaran

Pada suatu hari, terdapatlah suatu kompetisi yang hanya bisa dilakukan oleh dua peserta saja. Kompetisi ini adalah kompetisi mendapatkan sejumlah tumpukan uang yang diletakkan di jarak yang j0auh dari kedua peserta itu. Mungkin mirip dengan lomba lari dengan target mengambil ‘segepok’ uang di akhir lintasan. Kompetisi dibagi menjadi dua ronde. Peserta yang ikut kali ini adalah Samson yang bertubuh tinggi besar dan Ucil si pemeran tuyul dan mbak yul. Uang diletakkan di tengah lapangan. Peluit dibunyikan untuk babak pertama. Dan tahukah anda siapa yang memenangkan pertarungan awal? saya bisa tebak anda akan memilih Samson sebagai pemenangnya, (dan memang dia yang menang untuk babak pertama ini).

Sekarang perlombaan memasuki babak kedua. Bedanya ‘gepok’ uang itu diletakkan di bawah kasur yang sangat berat bahkan sang Samson pun tak bisa mengangkatnya. Peluit telah berbunyi. Keduanya berlari menuju uang tadi. Tahukah anda siapa pemenang kali ini? Baiklah anda memang hebat dalam memilih. Sekarang Ucil adalah pemenang untuk kali ini. Kenapa bisa? Ini adalah masalah logika persaingan semata. Jelas dalam perlombaan pertama, tempat pertarungan yang terbuka di lapangan tidak menguntungkan bagi si Ucil yang berbadan kecil tetapi area kasur yang sempit tentu akan menyulitkan bagi sang Samson yang berbadan besar.

Jadi inti yang hendak saya sampaikan adalah bahwa ternyata ada tempat dimana usaha kecil bisa sukses tanpa susah payah untuk bertarung dengan usaha besar. Seperti ilustrasi diatas. Cukup banyak contoh usaha yang bisa disebutkan untuk menunjang hipotesa ini. Saya pernah mendengar sebuah cerita ada pengusaha industri kulit di Garut, sebelum krismon ($1 = Rp 2500), mendirikan mesjid Rp 450 juta. Bisa anda bayangkan berapa profit yang dihasilkan? Ada lagi pengusaha kapas kecantikan, Bandung Selatan, mampu menyekolahkan anak, hingga S3. Seorang Ibu, Pangandaran, buta huruf, pedagang ikan asin, omset ½ milyar rupiah untuk tiap periode usaha. Terakhir ada pengusaha tekstil, Kabupaten Bandung, kelas 4 SD, telah mengunjungi seluruh bagian dunia, kecuali Afrika. Kelihatannya amazing, tetapi kisah diatas merupakan kisah nyata. Kenyataan diatas membuka mata saya tentang sesuatu dibalik kesuksesan sebuah usaha (kecil). Seringkali kita mendapatkan gambaran bahwa kunci sukses sebuah usaha adalah modal, bakat wirausaha, dan teknologi. Coba lihat lagi contoh seorang Ibu dan usaha ikan asinnya. Kira-kira teknologinya apa sih? Saya kira tidak perlu high tech untuk ’sekedar’usaha ikan asin.

Jadi kunci sukses usaha kecil menurut saya adalah kesesuaian antara produk/jasa dengan corak pasarnya. Jika kita memilih jenis usaha yang cocok dengan corak pasar kemungkinan berhasilnya akan semakin tinggi. Sekali lagi disini kita butuh sedikit kecermatan dalam memilih usaha. Sampai disini mungkin belum banyak yang terlalu paham. Baiklah kita ambil ilustrasi lagi. Kita ambil contoh usaha tekstil. Menurut saya ini adalah usaha yang hanya cocok untuk usaha besar. Tidak disarankan bagi pengusaha kecil untuk masuk ke dalam usaha jenis ini (kecuali beberapa segmen dari usaha tekstil). Usaha besar dengan mesin canggihnya akan membuat proses produksi semakin cepat dan semakin murah, akibatnya usaha kecil dengan sendirinya akan kalah oleh usaha besar. Semacam hokum rimba pasar, yang murah dan berkualitas yang akan menang. Hal ini merupakan jawaban dari fenomena matinya sebagian besar usaha tekstil Majalaya. Sewaktu pemerintah mewajibkan setiap pegawai negeri memakai batik Korpri, seharusnya banyak usaha tekstil batik yang berjaya, tetapi fenomena yang ada malah mengatakan sebaliknya. Banyak pengusaha kecil batik yang berguguran. Selidik punya selidik ternyata ada pengusaha besar (dengan modal besar) yang masuk ke usaha batik Korpri tadi. Dia mampu membuat batik dengan harga yang jauh lebih murah karena dukungan modal dan teknologi proses produksi yang dia miliki (mungkin juga koneksi bisnisnya). Contoh lain kita ambil usaha lotek. Saya kira sampai sekarang saya belum menemukan usaha besar yang bergerak di bidang usaha lotek ini. Jelas ambil langkah mati jika ada usaha besar yang masuk ke area ini. Permintaan lotek tidaklah sebesar permintaan tekstil. Kunci keberhasilan ini seringkali tidak disadari oleh banyak orang. Salah satu contoh diatas mengatakan usaha kecil akan gagal jika masuk ke dalam area yang tingkat permintaannya besar sehingga hanya cocok dimasuki oleh usaha besar.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: