Pendidikan Teknologi Terapan

Metode Pendidikan Teknologi Terapan sebagai Pengganti Metode Pembelajaran Ceramah dan Latihan Soal Dalam Sistem Pendidikan Sains dan Teknologi di Indonesia

Pendahuluan

Sistem pendidikan Indonesia sampai saat ini terus mengalami revisii yang cukup mendalam. Berbagai upaya terus dilakukan oleh pemerintah untuk dapat memajukan pendidikan di Indonesia. Antara lain dengan disahkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan menaikkan anggaran pendidikan sampai 20% diluar anggaran gaji guru sesuai dengan amanat konstitusi. Upaya diatas sudah sepantasnya disyukuri.

Pemerintah maupun seluruh kalangan sudah menyadari penuh pendidikan merupakan suatu hal yang sangat mendesak diperbaiki untuk dapat mencapai kemajuan sejajar dengan bangsa-bangsa maju di dunia. Derasnya laju pembangunan dan tercapainya kemakmuran menjadi salah salah satu indikator dari peranan teknologi dalam memberikan nilai tambah bagi daya dukung suatu negara. Kita ambil contoh Singapura dan Jepang, dua negara yang tidak ditopang oleh sumber daya alam yang memadai. Dua negara itu menyadari bahwa mereka akan tenggelam jika mereka tidak segera mengejar dalam penguasaan teknologi untuk upaya membangun negeri mereka. Di awalnya Singapura hanyalah negeri pulau yang keadaannya sama sekali masih berawa-rawa, pulaunya masih dipenuhi hutan rimba didiami oleh sekelompok nelayan dan suku gypsi. Sekarang Singapura sudah berubah menjadi kota modern. Salah satu negara di Asia yang memegang perekonomian penting, menjadi pusat perdagangan, transportasi, bank, wisata, dan komunikasi. Begitu juga negeri sahabat tua Indonesia, Jepang. Kemajuannya yang mengagumkan menyebabkan Amerika harus terus memantau perkembangannya setiap saat karena bisa jadi perekonomian Jepang bisa menggeser hegemoni yang selama ini masih dikuasainya.

Selain dua negara itu, India dan Cina kini melaju kencang dengan pembangunannya membuat semua negara maju menjadi teralihkan perhatiannya. Cina dengan prinsip hematnya membuat harga produk yang dijualnya akan menjadi setengah bahkan sepertiga harga produk buatan Amerika. India mempunyai fokus pada pembangunan teknologi informasi.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Supaya tak terlalu subjektif, mari kita cermati terlebih dahulu tabel Indeks Pembangunan Manusia dibawah ini.

Bahkan diantara negara-negara ASEAN pun kita hanya bertengger di posisi ke-6. Tanda-tanda yang sudah tak perlu diragukan lagi. Mereka bisa maju karena mereka menggunakan perangkat pendidikan terutama teknologi untuk mengangkat perekonomian masing-masing. Melihat fakta kemajuan yang dialami oleh negara-negara contoh diatas (keempatnya adalah negara Asia juga), maka tak ada kata lain untuk dapat mengejarnya selain mereformasi pendidikan kita.

Sebelum mulai melangkah dalam upaya kita dalam membangun metode baru ini dalam sistem pendidikan kita, terlebih dahulu kita harus menyamakan persepsi kita mengenai definisi teknologi dan pendidikan serta menengok kembali bagaimana sistem pendidikan sains dan teknologi didalam sistem pendidikan Indonesia saat ini. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, teknologi diartikan sebagai Ilmu Teknik, atau Pengetahuan tentang teknik. Tetapi bagi saya sendiri, teknologi saya artikan sebagai aplikasi atau terapan dari sains untuk tujuan mempermudah manusia agar dapat hidup lebih nyaman. Hasil dari teknologi yang berupa produk atau jasa dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, sains dan teknologi bukan semata-mata untuk dipelajari, dipahami dan menjadi hiasan intelektual kita semata tetapi ada upaya penerapan untuk kemudahan proses menjalani hidup kita sebagai manusia. Sedangkan menurut Wakil Presiden, H.M. Jusuf Kalla, dalam orasinya di pembukaan Dies Emas ITB, beliau mengatakan kita mengembangkan teknologi mempunyai tiga tujuan, yaitu membuat segala sesuatu menjadi lebih baik, lebih murah dan lebih cepat. Contoh riil seperti ini, bagaimana penerapan teknologi software Microsoft Word untuk membuat surat atau artikel menjadi lebih mudah, lebih cepat dan lebih bagus. Dulu kita harus menunggu berbulan-bulan untuk dapat menerima kabar dari teman kita yang berada di luar kota bahkan luar negeri, akan tetapi sekarang dalam hitungan detik kita dapat berkomunikasi dengan sepuasnya karena ada teknologi internet (email, chatting, friendster atau facebook).

Kemudian apakah pendidikan itu? Pendidikan adalah upaya kita untuk mendidik manusia agar mempunyai karakter mandiri dan kuat, pengetahuan yang luas dan keterampilan (skill) yang cakap. Adakah 50% dari siswa-siswi SMA kita begitu keluar dari lembaga pendidikan bernama sekolah menjadi seseorang yang mempunyai karakter mandiri dan kuat sehingga dia sanggup untuk untuk memberikan lapangan pekerjaan bagi orang-orang yang tidak bersekolah disekitarnya? Adakah juga 50% siswa-siswi SMA kita yang mengetahui dengan baik dan fasih dalam menerangkan apa dan bagaimana sistem politik, ekonomi, sosial budaya, dan hukum Indonesia? Dan adakah yang mempunyai keterampilan yang cakap dalam mengolah alam Indonesia yang kaya ini? Jawabannya bisa dikatakan dengan jelas, belum ada. Berbagai alasan bisa dikemukakan dalam setiap forum. Akan tetapi dapat dipastikan bahwa setiap jawaban akan bermuara pada sikap kita untuk menyembunyikan kegagalan sistem pendidikan saat ini. Bukan semata karena anggaran yang kecil, bukan juga hanya pada kompetensi guru yang tidak memadai. Banyak jawaban apology yang bisa diungkapkan atas kegagalan itu.

Jawaban utama atas kondisi diatas menurut saya adalah karena kita telah menyelewengkan tiga tujuan pendidikan diatas. Kita gagal menjadikan sekolah sebagai sarana untuk membuat anak menjadi orang yang mandiri, berpengetahuan dan mempunyai keterampilan. Pengetahuan yang didapatkan sang siswa tak dapat diterapkan untuk kehidupannya. Sang siswa menjadi kebingungan akan masa depannya karena tak tahu apa pun sekaligus karena tak punya keterampilan yang memadai. Pada akhirnya sekarang adalah pendidikan menjadi komoditas bisnis yang menggiurkan para pengusaha.


Mengembalikan Kembali Fungsi Pendidikan

Pertanyaan selanjutnya yang harus kita jawab adalah mengapa harus ada metode pendidikan teknologi terapan dalam sistem pendidikan Indonesia? Pertama, capaian indeks teknologi Indonesia yang jauh dibawah Negara-negara lain. Hasil studi The Third International Mathematics and Science-Repeat tahun 1999, melaporkan dari 38 negara di Asia, Australia, dan Afrika, siswa SLTP Indonesia menduduki peringkat 32 untuk IPA dan 34 untuk matematika (Tim Broad Based Educatio Depdiknas, 2002). Kedua, efektivitas pembelajaran akan dapat dicapai jika siswa mengerjakan apa yang sedang dia pelajari. Dalam buku Quantum Learning kita mendapati bahwa seseorang akan dapat mengingat informasi sebanyak 10% jika membaca, 20% jika mendengarkan, 30% jika melihat, 50% jika melihat dan mendengar, 80% jika berbicara dan 90% jika berbicara dan melakukan.

Alasan utama yang melandasi metode ini adalah membuat peserta belajar menjadi lebih bersemangat dan menarik karena bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita mengetahui apa karakteristik jamur dan bagaimana cara membudidayakannya, kemudian kita coba dan ternyata berhasil menjadi salah satu sumber penghasilan keluarga kita, bukankah hal ini dapat menjadikan kita menjadi lebih bersemangat karena kita mendapatkan hasil ekonomis dari apa yang kita pelajari. Bisa jadi kita tak bersemangat dalam mempelajari sesuatu karena kita mengetahui bahwa sesuatu itu tak berguna untuk kehidupan kita. Lebih parahnya lagi jika kita mengetahui bahwa banyak mahasiswa malas untuk kuliah karena semata ingin mendapat ijazah semata.

Ada tiga paradigma dalam pembangunan pendidikan teknologi kita adalah pertama, teknologi akan menjadi tools penting yang akan memudahkan kita dalam proses pembelajaran. Siswa-siswa sekolah-sekolah di Amerika Serikat sudah menggunakan laptop dan internet sebagai sarana pembelajaran. Jadi guru-guru disana sudah tidak lagi sulit menyediakan bahan ajar yang ribet dan cukup memberikan tugas menggunakan aplikasi Google doc atau I-movie. Para siswa pun merasa lebih antuasias karena memudahkan mereka dalam belajar. Kedua, kita harus berupaya mempelajari sains dan teknologi yang sudah berkembang saat ini untuk kepentingan kita. Perkembangan teknologi sudah berkembang sedemikian cepatnya. Akan tetapi, tidak semua teknologi harus kita pelajari. Kita harus fokus dalam mempelajari teknologi yang sesuai dengan kebutuhan kita dan untuk upaya pengembangan sumber daya lokal. Untuk itu kita membutuhkan teknologi yang menjadi sarana untuk mempercepat penguasaan dan pengembangannya, yaitu teknologi komputer dan informasi (internet). Internet sudah seharusnya menjadi hal yang tak asing lagi bagi para guru dan siswa. Sebab dengan menguasai internet kita lebih cepat untuk mendapat informasi pengetahuan. Dengan kata lain, ada skala prioritas penguasaan.

Pengembangan sumber daya lokal misalnya sekolah berada di daerah pedesaan (pertanian), maka pengembangan teknologi yang sebaiknya dipelajari adalah teknologi pertanian. Bagaimana menanam palawija, memahami cuaca dan iklim dan fenomena anomali, perbenihan, pembuatan pupuk organik dan kompos, serta tak lupa termasuk teknologi pascapanen. Meskipun sekolah itu bukan sekolah pertanian, tetapi sekolah merupakan agen akselerasi pembangunan. Ketiga, kita harus sedemikian cepat bersaing untuk berupaya dalam menghasilkan sains dan teknologi. Pusat pendidikan bernama sekolah bukan hanya manut dan pasrah menerima materi pelajaran dari pusat (Jakarta), sekolah bisa saja membuat dan mengembangkan materi pelajaran yang cocok untuk anak didiknya. Mungkin kita bisa menyebutnya dengan Kurikulum Berbasis Kebutuhan. Terbayang jika sekolah dari Sabang sampai Merauke mengajarkan hal yang sama dengan Jakarta. Apa kabar peternakan di NTT, Perikanan di daerah pantai diseluruh Indonesia? Kita tidak bisa mengharapkan kemandirian lokal akan terbangun jika keadaannya seperti itu.

Pendidikan teknologi merupakan hal yang masih gagap dilakukan oleh para pendidik kita sekarang. Berbagai sebab menjadi alasannya dan yang menjadi sebab utama adalah bahwa para pendidik juga belum terbiasa untuk menggunakan instrumen teknologi dalam upaya kesehariannya. Akibatnya berimbas ke para murid yang akan terdengar asing begitu mendengar kata sains dan teknologi. Yang terbayang adalah deretan rumus rumit njelimet, sulit untuk dihafalkan dan seolah tak terjangkau dengan akal sang murid. Anggapan bahwa matematika dan fisika itu rumit adalah salah satu “tembok” yang harus dipecahkan.

Skema 1. Pembelajaran Sains dan Teknologi Terapan

Mari kita coba ilustrasikan untuk pembelajaran sains biologi. Di kelas 3 SMP, murid-murid Indonesia akan mempelajari materi dasar tentang bioteknologi. Kita ambil contoh teknik kultur jaringan. Setelah 1(satu) kali memberikan materi tentang apa dan bagaimana itu tentang bioteknologi selanjutnya adalah bagaimana sang siswa mencoba untuk mempraktekannya. Membudidaya tanaman anggrek sampai berjumlah banyak sehingga oleh kelurga bisa menjadi penghasilan tambahan. lebih bagus jika bisa menyerap banyak tenaga kerja.

Metode ini memerlukan beberapa prasyarat yang menjadi kunci dalam keberhasilannya. Antara lain guru memberikan bimbingan yang intensif terhadap perkembangan dari sang siswa. Kemudian melibatkan shareholder sekolah (guru, orang tua siswa, alumni, perusahaan di sekeliling sekolah, atau donatur) untuk mendukung upaya pembinaan IPTEK ke siswa

Contoh lain :

1. Membuat dan me-maintenance blog (penggunaan internet) untuk mengenalkan dan mempromosikan usaha kecil dan menengah orang tua.

2. Penggunaan matematika statistik untuk mengukur kemajuan pendidikan diri siswa masing-masing.

3. Menanam, memelihara dan mengembangkan tanam-tanaman yang diajarkan dalam pelajaran biologi.

4. Menggunakan kreasi seni dalam pengolahan sampah

5. Menulis dan mengapresiasi sastra untuk dimasukkan ke media massa

Kesimpulan dan Saran

Di akhir gagasan tertulis ini saya menambahkan tentang gagasan perlunya stakeholder perguruan tinggi berbasis teknologi seperti ITB, ITS, dan IPB untuk masuk dan berperan dalam sistem pendidikan nasional. Apa sebab? Sebabnya adalah bahwa kitalah salah satu dari beberapa universitas yang berbasis kepada teknologi. Saya tidak mengatakan bahwa guru-guru SD, SMP, dan SMA kita – yang sebagian besar berasal dari IKIP dulunya – tidak menguasai teknologi untuk diterapkan dalam sistem pendidikan. Hanya saja dengan kompetensi sains terapan (teknologi) yang dimiliki oleh perguruan tinggi diatas saat ini, berpeluang untuk memberikan wawasan dan membuat kurikulum pendidikan teknologi yang dapat diusulkan untuk masuk dalam sistem pendidikan nasional.

Kedua, pembangunan karakter yang tak boleh dilupakan. Seperti pepatah Knowledge is Power, but Character is More. Karakter untuk terus berinovasi, karakter yang tak cepat berpuas diri, dan karakter untuk terus turut dalam pembangunan kemanusiaan. Pada akhirnya, pendidikan teknologi bukanlah untuk pendidikan itu sendiri tetapi pendidikan teknologi adalah upaya kita untuk membangun kemanusiaan kita.

Ketiga, materi pelajaran yang diberikan kepada siswa-siswa Indonesia saat ini dirasakan terlalu banyak sehingga menyebabkan mereka sulit untuk memahami dengan lebih mendalam. Artinya harus mulai ada penyederhanaan materi yang diajarkan di sekolah. Dengan dibuatnya penyederhanaan atau lebih tepatnya pemangkasan materi, membuat siswa mampu mengeksplorasi materi lebih dalam. Guru-guru pun dapat lebih leluasa mengajarkan permasalahan dalam satu bab materi karena waktu yang diberikan lebih banyak. Pada akhirnya siswa akan lebih menguasai materi pelajaran dibandingkan banyak tetapi “menguap”, masuk telinga kiri keluar telinga kanan.

Daftar Pustaka

1. http://smakos-kng.sch.id/?naon=berita&id=40&detail=yes

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: