Sapto Hidup dari Biola

Rabu, 24 Desember 2008 | 03:13 WIB

Jimmy S Harianto

Alunan biola menyusup di telinga dari paviliun rumah Sapto di Bekasi, suatu Minggu lepas magrib. Bukan Sapto yang main, tetapi Fafa (9), anaknya. Ia memainkan partitur sungguhan, Concerto No 23 karya GB Viotti, dengan iringan musik komputer dalam tempo alegro.

Meskipun masih bermain tanpa vibrasi, si kecil Fafa sudah cukup cermat membidik nada dengan jari-jemarinya di biola. Tidak false. Pada kesempatan lain, Sapto berduet dengan anak sulungnya itu, disaksikan sang adik, Lala (6).

Di paviliunnya yang sederhana itu, Sapto juga menerima murid privat, di samping juga berlatih sendiri untuk mempersiapkan diri jika mendapat permintaan main dari Twilite Orchestra (pimpinan) Adhie MS, Erwin Gutawa Orchestra, ataupun Magenta Orchestra.

Akan tetapi, bukan permainan biola Sapto yang menarik. Maklumlah, meski ia pemain biola profesional yang sering diminta memperkuat berbagai orkestra, ia tak se-virtuoso Idris Sardi, misalnya.

Sapto lebih hebat sebagai pembuat biola berkualitas konser dan reparator (ahli reparasi) biola-biola bermerek terkenal—mulai dari buatan Carletti Carlo (Italia) sampai biola-biola tipe terkenal Stradivari, Guarneri, Guadagnini, Jacobus Steiner, ataupun biola-biola bikinan keluarga Klotz dari Jerman.

Sejak sekolah

”Saya sudah bikin biola sejak di SMM (sekolah menengah musik) di Yogyakarta, sejak usia 16 tahun,” tutur Sapto yang sejak kecil memang terampil membuat sendiri permainan masa kecilnya, mulai dari ketapel sampai mobil-mobilan. (Ayah Sapto, Sipon Pawiroleksono, adalah seorang sopir angkutan beras antarkota).

Mula-mula sering mengutak-atik dan mereparasi biola-biola milik SMM yang rusak (umumnya bikinan luar negeri), lama-lama Sapto pun ”meniru” bikin biola, dengan mal (contoh) biola-biola yang direparasinya. Dari kopian biola Strad, sampai biola-biola bagus bikinan Belanda milik sekolahnya.

Ada lima buah biola yang ia bikin semasa sekolah, tiga di antaranya sampai kini dipakai oleh kalangan keluarganya. Sampai suatu ketika, tahun 2000, ia bertemu seorang pemain biola berkebangsaan Jerman, Barbara Meyer (kini tinggal di Spanyol), yang kebetulan punya keahlian sebagai reparator biola dan juga cello.

”Setahun penuh saya belajar sama Barbara, bikin biola dan mereparasi. Ia tertarik sekali dengan biola-biola bikinan saya dan membelikan buku-buku tentang pembuatan biola sehingga saya bisa pelajari lebih dalam anatomi tentang biola-biola Amati, Stradivari, Guarneri, Steiner, dan sebagainya.”

Sebenarnya Sapto juga sudah mulai mendalami pembuatan dan reparasi biola bersama seorang guru sekolah musik bernama Grace Sudargo, tiga tahun sebelum bertemu Barbara (1997). Sapto juga sering diminta membantu dosennya di ISI, Kristianto Christinus, yang juga memiliki keahlian sebagai pembuat biola dan ahli reparasi biola.

Dari Grace Sudargo—yang pernah membeli biola bikinan Sapto seharga Rp 4 juta (1997)—Sapto banyak mendapat kesempatan mengenal anatomi biola-biola terkenal. Itu berkat kebaikan hati Grace membelikan beberapa edisi majalah Strad, majalah yang berisi berbagai anatomi rinci—dalam ukuran sesungguhnya—berbagai biola terkenal dunia.

Buat kawin

Hasil penjualan biola ia tabung, sampai suatu ketika, kata Sapto, ia gunakan untuk biaya menikahi istrinya kini, Yenny Priyastuti—penari lulusan IKIP Yogyakarta di Karangmalang pada 1999.

Tak hanya Barbara dan Grace yang membesarkan kemampuan Sapto membuat dan mereparasi biola. Juga ketika Sapto bertemu dengan Mr Charles (ia lupa nama belakangnya) tahun 2005, pemain biola di London Symphony Orchestra. Charles menyediakan buku-buku tentang pembuatan biola, di antaranya yang paling berharga adalah The Art of Violin Making terbitan Hale, London (1999).

Tabungan Sapto pun semakin ”menebal” ketika Wence Singson—seorang Filipina yang memiliki hobi mengumpulkan biola-biola tua—sering mereparasikan biola-biola temuannya kepada Sapto. Juga ketika mantan petinggi Astra, Ridwan Gunawan yang kolektor biola, sering pula mereparasikan biola-biola koleksinya.

Guru biola dan juga dirigen orkes, Adidarma, bahkan juga ikut menyumbang Sapto dengan berbagai alat reparasi biola, yang semua tentunya tak bisa didapat di dalam negeri, seperti alat-alat pengerat putaran senar dan klem-klem khusus untuk merekatkan lem biola.

”Yang pasti, saya sepenuhnya hidup dari biola, termasuk ketika membeli rumah dan mobil ini,” ungkap Sapto tentang rumahnya yang nan jauh di Villa Nusa Indah Bekasi dan mobil sedan mungilnya kini.

Harga biola bikinan Sapto sekarang? ”Terakhir, laku dijual sekitar Rp 20 juta,” tuturnya tentang biola bikinan terakhirnya. Jika selama ini Sapto selalu menggunakan kayu impor khusus untuk membikin biola, belakangan dia juga mencoba menggunakan kayu lokal yang karakternya kurang lebih serupa.

sumber : kompas cetak edisi 24 desember 2008

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: