Fatmah Bahalwan, Ibu Rumah Tangga Penjual Kue

Fatmah Bahalwan, Inspirasikan Teman Berhenti Ngantor (1)

TANGAN Fatmah Bahalwan dengan cekatan memainkan alat penghias kue pengantin. Nantinya, kue itu akan disusun tiga tingkat. Terkesan megah.  Sembari bekerja, perempuan yang kini makin aktif berkecimpung di industri rumahan penganan dan katering itu menerima kedatangan kompas.com di kediamannya, kawasan Matraman Dalam, Jakarta Pusat, beberapa waktu silam. “Ditunggu sama yang pesan soalnya,” begitu kata Mbak Fatmah, sapaan akrabnya.

Krisis moneter alias krismon 1998 adalah langkah pertama keberangkatan Fatmah  memperbesar pundi keuangan keluarga. “Awalnya aku cuma ngumpulin uang seribu-seribu. Di kantor, aku jualan kue sepuluh biji setiap hari,” kenang mantan sekretaris eksekutif di Bank Muamalat ini.

Kue memang membuat Fatmah makin dikenal di kantornya sejak waktu itu. Jadilah, dirinya kerap dipercaya manajemen kantor untuk menyiapkan acara coffee break internal. Tentu saja, selain minuman, nyamikan alias penganan kecil macam kue-kue seperti lemper, sus, risoles, dan sebagainya adalah menu wajib. Peluang di depan mata ini disambarnya untuk berinvestasi kecil-kecilan. “Aku mulai punya teko, cangkir, dan sendok kecil. Investasi minjem nggak sampai dua juta deh,” tuturnya.

Nah, “armada” yang komplet justru menjadi pendukung Fatmah untuk mengembangkan usaha. Ditambah dengan makin seringnya acara coffee break, jumlah kue yang harus dibuatnya makin berlipat hingga 250 buah. “Saya sadar, kebutuhan kue serta coffee break selalu ada di kantor- kantor,” imbuh ibu tiga anak ini.

Di tahun sama, keuangan keluarga terbantu dengan meningkatnya omzet pembuatan kue. Sembari menghitung, Fatmah menjelaskan, dari bikin kue, sedikitnya tambahan Rp750 ribu sebulan diraih. “Waktu itu, gaji saya masih dua jutaan,” katanya.

Waktu bergulir cepat. Tak terasa, lima tahun sudah lewat dari krisis yang mengempaskan rupiah dari kisaran Rp2.500 ke Rp10.000 terhadap sedollar Uwak Sam itu. Selama masa itu, Fatmah malah makin getol membuat segala macam makanan. “Saya bikin tumpeng, kue ulang tahun, dan segala macam. Mulai deh, saya telat datang ke kantor. Izin nggak masuk. Jadi nggak enak lama-lama,” kata penyuka segala macam kegiatan menghias kue ini.

Ternyata, di rumah, Fatmah yang tak bisa diam menyelami segala hal tentang boga memang mulai kebanjiran order. Salah satu pemicu adalah, kebiasaannya  masuk ke komunitas-komunitas di dunia maya. “Tapi, waktu itu belum punya kartu nama. Saya pakai jaringan teman-teman sekretaris,” imbuhnya.

Konsekuensi dari seluruh kegiatannya, lalu, Fatmah jadi super sibuk, di rumah dan di kantor. Terlebih pada bulan puasa, Fatmah mengaku tenaganya betul-betul terkuras demi meladeni beragam pesanan. “Saya harus mulai memilih antara terus menjalankan usaha atau bekerja di kantor,” aku Fatmah yang butuh setahun untuk menimbang-nimbang demi keputusan terbaik.

Begitu keputusan berhenti diambil pada 2004, perempuan kelahiran 15 Januari 1964 ini kehilangan rutinitas kerja kantoran. “Tiga bulan aku merasa seperti itu,” katanya.

Namun, bagi istri Wisnu Ali Martono ini, di masa seperti itu membina jaringan malah merupakan kewajiban menjadi-jadi. Setiap pagi, Fatmah rajin menghubungi dan menyapa para pelanggan. Sekaligus, memperjelas identitas. “Saya juga memberi tahu mereka kalau saya sudah tidak ngantor lagi. Saya bekerja dari rumah,”ujarnya.

Sementara, soal komunitas Natural Cooking Club (NCC) yang didirikannya pada 2005, Fatmah punya cerita sendiri. “NCC saya dirikan untuk mendapatkan pasar. Khususnya, kursus masak,” katanya.

Maka dari itulah, seabrek kegiatan pun tertuang di NCC mulai dari info kursus sampai dengan kegiatan silaturahim kopi darat hingga ke saling tukar kekayaan menu. Membernya kini lebih dari 5.000. “Nah, stabilitas kursus didapat dari milis NCC,” tutur Fatmah.

Ia menambahkan proses saling menguntungkan yang terjadi adalah pada satu sisi anggota milis membutuhkan kursus, sementara, pada sisi lain, kursus adalah sarana untuk mencari uang. “Itu matching. Mereka senang belajar di sini dan kami seneng dapat uang,”katanya.

Hingga tahun ini, dalam hitungan Fatmah, sedikitnya lima orang rekannya sesama anggota milis mulai kepincut atawa jatuh hati mengikuti pilihan bekerja dari rumah. Apalagi, belajar memasak dan membuat kue tidak mungkin bisa sukses kalau seseorang tidak mengerjakan sendiri. “Kuncinya itu,” terang Fatmah.

Maka, Peni Reswati, Vita, Riana, Ika, dan Melani pada akhirnya memutuskan berhenti bekerja untuk kemudian menjalani status baru sebagai pengusaha makanan. Usaha pun dijalankan dari rumah, bukan dari mana-mana. “Pengalaman saya ditiru oleh mereka. Itu positif sekali,” katanya sambil mengatakan bila dalam satu hari, sedikitnya, Rp1 juta tunai pun sudah bisa berada dalam genggaman. (Josephus Primus)

Fatmah Bahalwan, Tukang Ojek Bisa Jadi Manajer (2-habis)

JARAK dari Taman Amir Hamzah di Jakarta Pusat sekitar dua puluh langkah ke awal Jalan Matraman Dalam III. Di bawah plang nama jalan yang mengingatkan kisah penyerbuan pasukan Mataram ke Batavia lebih dari tiga abad itu ada pangkalan tukang ojek.

Nah, kalau Anda datang ke situ dan bertanya di mana kediaman Fatmah Bahalwan, para tukang ojek itu bakal dengan senang hati menunjukkannya. “Nggak jauh kok. lurus aja. Nanti, rumahnya ada di sebelah kanan dari sini,” kata seorang tukang ojek berdialek Betawi seraya menunjuk arah.

Keramahan para tukang ojek di tempat itu, selidik punya selidik, ternyata berkaitan erat dengan kiprah Fatmah berbisnis makanan dari rumah sejak 1998. Hingga kini para tukang ojek itulah yang menjadi mitra mengantarkan pesanan para pelanggan ke segala penjuru Ibu Kota. “Kadang-kadang ada pesanan yang diantar ke Tangerang,” kata Fatmah.

Awalnya, terang mantan sekretaris eksekutif di Bank Muamalat ini, dirinya membutuhkan tenaga tukang ojek untuk meringankan pekerjaan. Bayangkan, bagi yang berbisnis makanan seperti Fatmah, kegiatan memasak sudah barang tentu menguras banyak tenaga. Kalau hal itu masih ditambah dengan kewajiban mengantar pesanan ke pelanggan, bisa-bisa, kondisi badan drop habis-habisan. Bisnis malah jadi seret, risikonya.

Makanya, tatkala pesanan sudah makin banyak dan cenderung tak tertangani dengan baik, Fatmah Bahalwan pun mulai berpikir untuk menggandeng orang lain, memuluskan kerjanya. Sebelum para tukang ojek, tetangga sekitar rumahlah yang dirangkul.

Fatmah mengaku, makin hari pesanan jenis kue kering dan jajanan pasar makin banyak. Pekerjaan membuat penganan seperti itu betul-betul padat karya. “Aku ajak ibu-ibu yang suka ngobrol di depan rumah untuk ikutan. Yuk sambil ngobrol, cetakin kue aja,” kata Fatmah sembari menyebut ada sekitar enam orang tetangga yang tetap membantu sampai sekarang.

Tentu saja, terang Fatmah, para tetangga yang membantu, tetap diganjar dengan penghasilan. Biasanya, sekali membantu, ada uang Rp50 ribu untuk masing-masing orang. “Sebetulnya bukan penghasilan sih. Kalau ada untung, saya bagi-bagi dengan mereka,” imbuh Fatmah merendah.

Cuma, karena bisnis memang tak berhenti sampai di pembuatan kue, Fatmah yang saat ini mampu mengantongi pendapatan sedikitnya Rp1 juta tunai sehari, masih memerlukan tenaga pengantar pesanan langsung sampai ke alamat pelanggan. “Tadinya aku mengantar sendiri. Tapi, kalau pesanan sudah banyak, ya nggak mungkin aku sendiri. Jadi, tukang ojek yang aku mintain bantuan,” kata perempuan yang berprinsip ibu rumah tangga sejatinya bisa menambah penghasilan keluarga justru dari rumah, bukan dari mana-mana.

Fatmah menyebut nama para tukang ojek yakni Iwan, Taufik, Riki, Bang Yanto, dan Bang Boang sebagai partner yang membantu meringankan pekerjaannya. Namun, asal tahu saja, ongkos kirim pesanan memang ditanggung pelanggan. “Kalau kirim kue tart dari sini ke daerah Sudirman Thamrin (jaraknya relatif dekat sekitar lima sampai tujuh kilometer-red), tarif sekali antar Rp25 ribu,” terang Fatmah.

Logikanya, semakin jauh lokasi pelanggan, semakin besar pula ongkos pengantaran. Nah, pada Lebaran lalu, seorang tukang ojek pernah memperoleh pemasukan Rp100 ribu sehari. Ceritanya, ada pesanan kue kering ke Tangerang. “Lumayan kan, hitung-hitung uang itu sebagai THR (Tunjangan Hari Raya),” kata Fatmah.

Namun, sehari-hari, para tukang ojek itu minimal dapat order satu kali pengantaran. “Tapi, kalau lagi ramai, satu orang bisa empat kali jalan,” tutur perempuan kelahiran 15 Januari 1964 itu.

Kalau dihitung-hitung, lalu, bagi para tukang ojek tadi, pendapatan dari mengantar kue, lebih besar daripada mengantar penumpang. Rata- rata, ongkos ojek untuk penumpang sepuluh ribuan. Lagian, bahkan tidak ada penumpang yang minta diantar ke Tangerang dari kawasan tersebut.

Kue tart, nyatanya, membuat para tukang ojek memutar otak. Tak seperti makanan kering, kue tart memerlukan penanganan khusus saat pengantaran menggunakan sepeda motor. Soalnya, kalau membawanya gegabah, kue tart malah bisa rusak di jalan sebelum tiba di tempat tujuan.

Makanya, kata Fatmah, Taufik berboncengan dengan istrinya, Sinta, waktu mengantar kue tersebut. “Pintar juga dia. Karena, dengan berboncengan sama istri, Taufik nggak perlu berbagi ongkos,” kata Fatmah.

Sudah begitu, kalau tak diajak mengantarkan kue tart, Sinta membantu Fatmah memasak. “Artinya, tetap ada penghasilan buat mereka berdua,” ujar ibu dari Alia Prawitasari, Irfan Pradipta, dan Alfi Pramana ini.

Lain lagi cerita Iwan. Kalau Taufik berboncengan dengan istri, Iwan berboncengan dengan sang kakak.

Terus, dengan bermodal telepon genggam, Iwan berani mengambil semua pengiriman ke lokasi-lokasi berbeda dalam waktu relatif bersamaan. Taruhlah pada suatu hari ada pesanan yang harus dikirim ke Kampung Melayu (Jakarta Timur), Senen (Jakarta Pusat), dan Jalan Fatmawati (Jakarta Selatan). Banderolnya, seperti tadi, paling sedikit Rp25 ribu sekali jalan.

Supaya duit pengantaran tidak lari ke mana-mana, pekerjaan tadi dilimpahkan satu ke sang kakak, dan satunya lagi ke rekannya. “Si Iwan sudah jadi manajer kecil-kecilan untuk order tadi,” kata Fatmah tertawa.

Jadi, kalau suatu ketika Anda bertemu dengan tukang ojek di Matraman Dalam III yang emoh alias nggak mau mengantarkan Anda ke tempat tujuan, cermatilah, siapa tahu, tukang ojek itu memang mitra sekaligus manajer andalan Fatmah Bahalwan! (Josephus Primus)

sumber : Kompas.com


No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: