Guritno, “Australian Artist” dari Bandung

Kamis, 27 November 2008 | 03:00 WIB

Agus Hermawan

Tarikan garis tampak sederhana, tetapi kuat menyedot perhatian dalam warna-warna yang memukau. Beragam ilustrasi flora-fauna-kanguru, koala, buaya, hingga Gedung Opera Sydney atau Jembatan Sydney diterakan dalam keramik berbagai produk suvenir, gelas, mug, mangkok. tatakan atau piring, sampai sabun atau buku catatan (notes). Gambar-gambar kartun, lucu dan mengundang senyum.

Di setiap suvenir selalu diterakan, ”Australian artist Guritno captures the essence of Australian culture, landscape and animals in his unique and colourful artworks.”

”Ha… ha… emang saya orangnya, Kang Guritno tea,” ujar si pemilik karya. Lelaki asal Bandung itu ditemui di tengah keramaian 150-an pedagang suvenir dan kerajinan pasar kaget The Rock Market, Sydney.

Masih kental dengan gaya anak Bandung, Agung Guritno kini dikenal sebagai seniman, desainer, serta perajin keramik papan atas di Negeri Kanguru itu. Karyanya tersebar tidak hanya di sekitar 400 toko cendera mata dari desa hingga kota, dari butik hingga toko biasa, dari mal hingga bandara internasional Australia. Akan tetapi, juga di seluruh dunia, dari Jepang, Selandia Baru, Amerika Serikat, hingga negara- negara Eropa.

Keberhasilan Guritno diraih setelah melalui jalan berliku. Cerita hidupnya mirip kisah sukses klasik, dengan kronologis waktu kecil hidup bersahaja, muda penuh perjuangan, dan pada akhirnya menikmati sukses yang didambakan semua orang. Kini dia memiliki sebuah bengkel kerja dengan tiga pegawai yang semuanya warga negara Australia dengan gaji per minggu 1.000 dollar Australia (sekitar Rp 8 juta), termasuk pajak, uang pensiun, dan fasilitas lainnya. Penjualan karya-karya Guritno setahun bisa mencapai 500.000 dollar Australia.

Putra pasangan Soeripto Prawirosemito dan Soepriyah itu memang sejak kecil, dari TK Bukit Dago hingga SMAN 14 Bandung, memang senang dengan hal-hal berbau seni, menggambar, dan bermusik. Kehidupan keluarganya yang bersahaja—ayahnya seorang pegawai negeri sipil golongan II di Bina Marga (Jalan, Jembatan dan Konstruksi ) Departemen Pekerjaan Umum.

”Ayah saya seorang surveyor sejati, dalam setahun paling dua bulanan ada di rumah, selebihnya keluar masuk hutan. Saya bangga sekali kepada beliau, karena peta jalan di Indonesia merupakan karya beliau,” katanya.

Berjualan kue

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sebelum pergi sekolah, Guritno kecil berjualan kue donat, dadar gulung, dan penganan khas lainnya buatan ibunya yang dia kenal jago masak. Keadaan itu tidak menyurutkan cita-cita Guritno kuliah di Fakultas Seni Rupa ITB dan ASRI Yogyakarta. Walaupun setamat SMA dia mengikuti bimbingan menggambar di Keluarga Mahasiswa Seni Rupa ITB, dua kali Guritno gagal menembus proses seleksi FSR-ITB. ”Peserta lain lebih pintar dan kreatif,” katanya merendah.

”Saya tidak patah arang,” kenangnya. Dia pun mulai bergaul dengan para seniman jalanan dari Jalan Braga hingga ke kawasan Alun-alun Bandung. Di kawasan wisata Bandung itulah dia mulai mengenal turis. Turis mancanegara kerap berseliweran di sekitar tempat Guritno nongkrong. Sambil mengasah bakat seninya, dia pun beralih profesi menjadi pemandu wisata. Guritno juga terus belajar membatik, menyablon, melukis T-shirt, hingga mengukir. Saat dia mencoba membikin kartu pos, ternyata turis-turis yang dipandunya suka dengan karyanya.

Kesenangannya bermusik dia salurkan dengan menghibur para tamu atau mengamen pada malam hari. ”Biasanya saya ngamen di Warung Kumis Pak Iing, depan Kantor PR Bandung,” kenangnya. Kehidupan jalanan membuat dia sering tertidur di emperan Jalan Braga Bandung.

Pertemanan dengan turis itulah yang mengantarnya ke Frankfurt, Jerman (1992), atas undangan temannya. Petualangan Guritno berlanjut di negara itu. Dia bekerja serabutan, dari kuli bangunan hingga di perkebunan bunga di Amsterdam dan Rotterdam, Belanda. Ini membuat dia menguasai bahasa Jerman dan Belanda.

Selama itu pula, kreativitasnya sebagai pekerja seni tak terhenti. ”Saya banyak mendapat order membuat dan melukis peralatan rumah seperti meja dan kursi,” kata Guritno. Kembali ke Indonesia, dia sempat nyangkut di kawasan wisata Cemoro Lawang dan tetap bergiat di bidang wisata.

Hidup Guritno semakin manis setelah berkenalan dan menikah dengan Rosalinda Corazon, wanita berkebangsaan Australia, di Bandung (1996). ”Rose, istri saya, mempunyai latar belakang jurnalis, penulis artikel, serta desainer dan editor untuk beberapa majalah di Australia,” katanya.

Pucuk dicinta ulam tiba, istrinya menghadiahi dia sebuah kamera Nikon FM2. Dia mulai tertarik belajar dunia fotografi. Erre Tasty A, seorang fotografer profesional di Jakarta, banyak mengajarinya perihal fotografi.

Guritno mulai masuk ke Sydney tahun 1997. Krisis ekonomi membuat dia harus banting tulang memenuhi kebutuhan keluarga. ”Wah, pokoknya edun- lah. Semua pekerjaan saya geluti, mulai dari membersihkan toilet, cleaning service , bahkan menjadi buruh kasar di pergudangan,” katanya. Dia juga pernah menjadi pegawai tetap di sebuah perusahaan perakit rolling door.

Ketertarikannya akan dunia seni mengantar Guritno belajar membuat keramik di TAFE Sydney Institute. Di sela-sela mandi keringat bekerja siang hari, selama tiga tahun setiap malam dia menimba ilmu perkeramikan di politeknik tersebut. Setelah lulus, dibantu Rose, dia mendirikan bisnis keramik berlabel ”Guritno”.

Jalan kehidupan

Lagi-lagi jalan kehidupan tidak selalu mulus. Pada awalnya banyak orang menertawakan soal prospek bisnis keramik Guritno. ”Carilah pekerjaan tetap, keramik hanyalah hobi semata,” ujar seorang guru keramiknya. Namun, Guritno tak patah semangat. Apalagi dia melihat peluang terbuka lebar di Sydney sebagai kota tujuan wisata dunia. Selama ini, cendera mata di Sydney didominasi produk dari China.

Guritno menawarkan cita rasa sendiri. ”Pokoknya, kalo budak Bandung yang umumnya kreatif mah enggak akan susahlah buat berkarya seni di sini, kata Guritno sambil melayani pembeli di Pasar York.

Pada mulanya dia memproduksi sendiri model keramik dengan konsep pengerjaan dan desain beragam, secara manual. Belakangan dia menemukan rahasia proses pembuatan yang mulai diakui pasar dan peminat keramik. Dia memakai bahan tanah liat white earthenware dan porselen, serta bone China.

”Setelah proses pengeringan, saya melakukan dekorasi, lalu dibakar untuk pertama kalinya, setelah itu barulah diberi lapisan glazur sebelum dibakar kembali,” katanya sambil memperlihatkan mug karyanya. Gambar kucing tertidur di selop wanita, mengundang senyum yang melihatnya.

Dia dan Rose mulai ”bergerilya” memasarkan produknya di pasar-pasar kaget di sekitar Sydney, setiap akhir pekan. Pameran dagang atau pasar raya tak pernah pula dia lewatkan. Semua itu mereka lakukan sendiri, dengan membawa anaknya, Daeya, yang kala itu berusia 3 tahun.

Demikianlah roda berputar. Karya Guritno mulai mendapat perhatian. Kerja keras mereka sangat diapresiasi di Australia. Itu terbukti dengan penghargaan tahun 2006-2007 sebagai finalis The Best Australia Gift Award. Pasar pun semakin terbuka lebar. Kini bahkan mereka mengimpor keramik dari China yang kemudian diberi sentuhan grafis dan pewarnaan di Sydney.

Mengapa tidak mendatangkan keramik dari Indonesia? Setelah terdiam sejenak, Guritno tersenyum, ”Birokrasi dan bea cukai di sana harus dibenahi dulu. Yang kitu-kitu-lah (begitu-begitu),” ujarnya. Katanya, banyak pebisnis Australia yang merasa kejegal dengan persoalan itu. Di Australia, menurut Guritno, pemerintah sangat mendukung para usahawan.

”Saya sangat bersyukur, bisnis keramik ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Melalui keyakinan, komitmen yang kuat, dan mendekatkan diri kepada Tuhan, kami berhasil melewati semua hambatan,” katanya.

Satu hal, dia tak pernah lupa akan Bandung, kota yang menempa jiwa seninya di usia muda. ”Insya Allah, saya segera membuka gerai karya (workshop) di Bandung. Pokokna mah Bandung euy!” katanya tertawa lepas.

sumber : kompas cetak edisi 26 November 2008

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: