Bertanam Sengon di Lahan Bekas Tambang

KOMPAS/KENEDI NURHAN / Kompas Images

Jumat, 21 November 2008 | 03:00 WIB

Bentangan lahan kritis sisa penambangan timah di Sadai, Bangka Selatan, akhirnya menggugah kesadaran Yono Muchtar. Namun, pohon-pohon sengon yang kemudian ia tanam di atas tanah berpasir itu tidaklah murni didorong keprihatinannya atas kerusakan lingkungan di tempat ini.

Ada sisi bisnis yang ia bidik. Juga obsesi untuk menjadikan kawasan ini sebagai pusat pertumbuhan baru di Provinsi Bangka Belitung. Di luar itu, ”dendam” yang membuncah akibat gagal mengeruk keuntungan ketika menjadi bagian dari pelaku penambangan timah (ilegal) juga ikut memicu niat Yono menghijaukan areal itu dengan pohon sengon.

Haji Yono Muchtar (61) memang bukan ahli ekonomi. Sekolah dasar pun ia tak tamat. Namun, sebagai pedagang yang bermukim di kawasan Pelabuhan Sadai, ia tahu persis gelar sarjana ekonomi—seperti yang diraih dua di antara empat anaknya—pun tak akan banyak membantu perkembangan daerah ini bila hanya berkutat pada timah dan lada. Dua komoditas yang sejak lama menghidupi warga Bangka.

”Timah segera habis, hanya akan menyisakan lahan kritis. Sementara tanaman lada kian menyusut, banyak yang tak diurus lantaran biaya perawatannya mahal. Belum lagi harga jual lada di pasaran makin tak menentu,” ujarnya.

Timah dan lada bagai dua sejoli yang ikut membentuk struktur sosial-ekonomi masyarakat di Pulau Bangka. Tak terkecuali di Bangka Selatan, tempat Haji Yono bermukim sejak 1979. Sebelum masyarakat mulai mengenal tanaman kelapa sawit, juga karet, timah dan lada (orang Bangka menyebutnya sahang) adalah tiang kehidupan.

Sebelum era reformasi, sebetulnya masyarakat Bangka Selatan, khususnya di daerah Toboali dan Sadai, lebih akrab dengan tanaman lada daripada mendulang pasir timah. Selama puluhan tahun, lada memberi mereka napas kehidupan, sedangkan timah hanya melibatkan segelintir warga. Itu pun tak lebih sebagai buruh di perusahaan negara (PT Timah) dan swasta (PT Koba Tin).

Ketika harga lada melambung pada 1980-an dan mengantarkan para petani lada ke puncak kejayaan mereka pada 1987, desa-desa miskin di Bangka Selatan tiba-tiba seperti disulap. Bangunan rumah yang semula kebanyakan berupa gubuk berubah seperti real estat yang tumbuh menjamur. Mobil dan motor baru yang diparkir di depan rumah warga jadi pemandangan biasa di desa-desa sepanjang menuju Toboali.

Haji Yono bukan bagian dari petani lada yang bernasib mujur itu. Sebagai pendatang, ia hanya kecipratan sedikit rezeki dari booming lada. Perantau dari tanah Jawa yang datang melalui kampung halaman istrinya di daerah Tulung Selapan, Sumatera Selatan, ini cuma ikut sebagai pemetik lada di Pulau Besar, Kecamatan Payung. Hasilnya ia belikan sepeda motor.

Jualan jamu

Di saat orang-orang terbuai menikmati hasil lada, Yono malah sibuk jualan jamu. Dengan sepeda motor yang dibeli dari upah memetik lada, ia berkeliling dari desa ke desa, sembari memperkenalkan cita rasa ramuan obat tradisional Jawa tersebut.

Bertahun-tahun pekerjaan sebagai penjual jamu ia tekuni, sebelum berganti menjadi pedagang kelontong. Keluarganya di Tulung Selapan ia ajak bermigrasi ke Bangka, persisnya di Kampung Terep, masih di wilayah Bangka Selatan.

Pada saat yang bersamaan, harga lada—yang pada paruh pertama tahun 1990 mulai turun—terus anjlok. Kebun lada penduduk mulai tak terawat, bahkan tak sedikit yang ditinggalkan, mengingat harga lada di pasaran di bawah biaya produksi. Rugi!

Tahun 1994 Yono pindah ke Sadai. Saat itu, Sadai sudah menjadi pelabuhan antarpulau, pelabuhan terbesar kedua di Bangka setelah Mentok. Perkenalannya dengan seorang pengusaha keturunan dari Toboali semakin membuat usaha Yono terus berkembang. Ia bahkan dipercaya menjadi agen penyalur bahan bakar minyak di wilayah ini.

Krisis ekonomi yang menimpa Indonesia tahun 1998 ternyata tak begitu memengaruhi usaha Yono. Di sisi lain, kehidupan warga Bangka pada umumnya kian sulit setelah selama satu dekade sempat dininabobokkan masa kejayaan sebagai petani lada.

Ketika rezim berganti, euforia reformasi datang bagai penawar dahaga. Menyusul pencabutan komoditas timah sebagai mata dagangan strategis oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan pada 1999, serta semangat otonomi daerah yang muncul belakangan di tingkat lokal, kebijakan ini lalu diterjemahkan sebagai peluang bagi rakyat untuk ikut terlibat dalam pencarian pasir timah.

Sejak itu, konsentrat pasir timah di lahan-lahan tandus sisa aktivitas pertambangan PT Timah selaku pemegang kuasa pertambangan (KP), ataupun wilayah kontrak karya (KK) PT Koba Tin, digarap ulang oleh penduduk, juga di Bangka Selatan.

Sebagian besar petani lada pun berubah haluan: ramai-ramai mendulang timah. Lokasinya tak hanya di wilayah KP PT Timah atau KK PT Koba Tin, tetapi juga hingga membabat kebun lada dan pekarangan rumah.

Ia sempat tergiur ikut membuka lubang tambang. Namun, ternyata rezekinya tidak di sini. Lokasi yang ia ajukan izin usahanya tak banyak mengandung konsentrat timah. Modal usaha yang ia keluarkan untuk membeli peralatan tambang, seperti pompa dan selang berikut upah pekerja, tak kembali.

”Ada sedikit kekecewaan. Tapi saya segera sadar, ternyata biaya untuk mengembalikan kondisi tanah bekas galian tambang juga tidak sedikit sehingga tidak heran kalau banyak yang dibiarkan begitu saja. Saya merenung, wah kalau begini, bisa-bisa daerah ini kelak jadi padang pasir,” tuturnya.

Berangkat dari pengalamannya ketika masih di Tulung Selapan pada awal 1970-an, menjadi pedagang kayu gelondongan hingga ke Jakarta, ia memutuskan menanami lahan bekas galian tambangnya dengan pohon sengon. Ternyata berhasil. Sengon Haji Yono cukup subur. Padahal, tanaman lain sulit tumbuh di tanah yang sudah kehilangan unsur organiknya itu.

Sejak itu, lahan-lahan bekas kebun lada yang sudah digali pemiliknya untuk menambang timah—yang tak bisa lagi ditumbuhi lada—ia beli dan ditanami sengon. Sejak 2005, sudah 25 hektar pohon sengon Haji Yono meneduhi tanah berpasir yang semula tandus, kini menjadi hijau.

Guna mengurusi pohon sengonnya, tiga pekerja khusus ia datangkan dari Jawa. Ia sendiri sehari-hari sibuk mengurusi barang dagangan di kawasan Pelabuhan Sadai.

”Kalau kelak sudah bisa dipanen, kayu-kayu sengon ini akan saya olah di sini, baru setelah itu dijual ke Jakarta. Dari Jakarta saya akan bawa barang ke Sadai. Kalau sekarang kan hanya barang-barang dari Jakarta yang dibawa ke Pelabuhan Sadai. Sedangkan dari sini kosong karena tidak ada muatan,” tuturnya.

Haji Yono adalah potret pekerja keras. Sejak kecil, ia sudah ditinggalkan orangtua. Yono kecil pun merantau dari tempat kelahirannya di Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah, ke Jakarta.

Berjualan jagung rebus, es lilin, dan koran ia lakoni di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, sebelum melanjutkan perantauan hingga ke daerah Tulung Selapan, Sumatera Selatan. Di sinilah ia menemukan jodoh, menikahi Nuraini (1977) yang memberinya empat anak, sebelum meneruskan perantauan ke Pulau Bangka…. (ken)

sumber : kompas cetak edisi 21 NOvember 2008

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: