Bang Yos, Perempuan dan Pemadam Kebakaran

KOMPAS/AGNES RITA SULISTYAWATY / Kompas Images

Kamis, 20 November 2008 | 03:00 WIB

Oleh Agnes Rita Sulistyawaty

Nama Yosi Anita kurang populer di kalangan pemadam kebakaran Kota Padang. Namun, sebutlah nama Bang Yos atau buyuang (sebutan ala Minangkabau untuk anak lelaki), maka sosok perempuan Pesisir Selatan inilah yang akan ditunjuk.

Pekerjaan sebagai petugas pemadam kebakaran sekaligus anggota tim SAR Kota Padang, Sumatera Barat, mungkin profesi yang relatif belum biasa dilakukan perempuan. Namun, kecintaannya akan pekerjaan ini sudah tumbuh dalam diri gadis lajang itu.

”Kalau ada orang yang hingga tua masih sulit menemukan profesi yang dicintai, saya sudah cinta mati dengan profesi sebagai petugas pemadam kebakaran sejak lima tahun silam. Kalau boleh, sampai tua nanti saya ingin jadi petugas pemadam saja,” ujar Yosi.

Berawal dari kebosanan kuliah, Yosi iseng-iseng meminta pekerjaan kepada Dedek Nuzul Putra yang pada tahun 2002 menjabat sebagai Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Padang.

Oleh Dedek, ia disuruh menjadi operator yang bertugas mengangkat telepon dan berkomunikasi dengan radio amatir di kantor Pemadam Kebakaran Padang. Inilah awal perkenalan Yosi dengan tugas pemadam kebakaran dan penanggulangan bencana.

Yosi, yang sejak kecil terbiasa berkawan dengan laki-laki, mudah akrab dengan rekan kerja yang semuanya pria. Lewat keakraban dengan kolega itulah, ia pertama kali diajak berpetualang di atas mobil pemadam kebakaran.

”Pertama kali diajak ikut memadamkan kebakaran, saya hanya membantu para petugas pemadam kebakaran. Dalam situasi terburu-buru untuk memadamkan api, bantuan saya sering dibutuhkan,” ceritanya.

Pekerjaan di lapangan inilah yang kemudian terasa nikmat bagi Yosi. Status dalam surat keputusan pengangkatannya sebagai pegawai negeri sipil pada 2003 masih mencantumkan jabatan dia sebagai operator. Namun, tugas di lapangan lebih menarik hatinya. Katanya, di sinilah dedikasi itu diikatkan.

Ia merasa lebih tertantang dengan berjuang di dalam kobaran api, menahan pedihnya asap, ketimbang hanya duduk di kantor untuk menjawab telepon atau berkomunikasi lewat radio.

Kerja keras sebagai petugas pemadam kebakaran justru menantang untuk berpacu dengan waktu, mengalahkan keganasan kobaran api. Urusan jenis kelamin tak diperhitungkan ketika tugas memanggil. Yosi kerap memanggul selang yang bila sedang dialiri air bertekanan tinggi berbobot sampai 20 kilogram.

Bila sedang sering terjadi kebakaran, Yosi pernah berpindah tempat sampai tiga kali dalam satu malam. Dia acap kali langsung melompat ke mobil pemadam kebakaran bila tanda kebakaran berbunyi, kendati saat itu bukan gilirannya dinas. Jika esok paginya ia harus tugas jaga, Yosi tetap bangkit dan bertugas di posko piket.

Selain memegang selang air, Yosi juga kerap ikut menyusuri sungai dengan perahu karet untuk mencari korban yang tenggelam. Yosi yang jago berenang itu menganggap pencarian korban di sungai dan laut sebagai pekerjaan yang tak kalah berbahayanya dibandingkan memadamkan api.

Bila ditotal, rata-rata dalam sebulan ada 29 kasus—mulai dari kebakaran hingga pencarian orang hilang—yang dia tangani bersama rekan-rekan.

Menjadi perempuan

Pekerjaan sebagai pemadam kebakaran mungkin hanya diimpikan sedikit perempuan pada masa kecil mereka. Namun, justru di sinilah perempuan yang pada masa kecilnya lebih akrab dengan kelereng ketimbang boneka itu mendapatkan penghasilan.

Sebagai perempuan dewasa, keinginan tampil feminin seperti yang dicitrakan para pemeran sinetron atau model iklan sempat menyelinap dalam benaknya. Keinginan untuk tampil dengan busana perempuan sempat dia sampaikan kepada teman kos.

Suatu hari Yosi menanggalkan kaus oblong bertuliskan ”Pemadam”, celana kargo, dan sepatu bot. Ia lalu memakai rok, blus, serta sepatu hak tinggi, lengkap dengan riasan di wajahnya. Hasilnya?

”Tidak cocok! Saya pun menerima bahwa memang saya tidak bisa berpenampilan sebagai perempuan yang feminin. Begini dan inilah saya apa adanya,” ucap Yosi yang sehari-hari merasa nyaman berkaus oblong dengan celana kargo.

Perilaku tomboinya, diakui Yosi, sempat mengundang cemooh dari sebagian tetangga. ”(Mereka bilang) mau jadi apa kalau sejak kecil suka bermain dengan anak laki-laki?” kata Yosi menirukan ucapan sebagian tetangga di kampung kelahirannya, Kambang, Pesisir Selatan, Sumbar.

Namun, menjadi perempuan dengan citra seperti perempuan dalam sinetron atau bintang iklan bukanlah satu-satunya pilihan untuk meraih sukses. Tekad Yosi untuk mengabdi sebagai petugas pemadam kebakaran juga membuahkan keberhasilan.

Selain membantu memadamkan api, mencari orang hilang, dan menjalankan tugas penyelamatan bencana lainnya, beberapa kali sosok Yosi muncul dalam surat kabar lokal, televisi nasional, sampai jaringan BBC.

Yosi pun menjadi bahan pembicaraan tetangga di kampung. Mereka yang dulu mencemooh kebiasaannya berteman dengan laki-laki belakangan justru bangga pada profesi pilihannya.

Sebagai petugas pemadam kebakaran, Yosi menempati rumah dinas yang terletak di kompleks Pemadam Kebakaran Kota Padang. Di ruang depan rumah itu, pakaian pemadam kebakaran bisa dikatakan menghiasi semua penjuru dinding.

”Agar mudah diraih kalau ada kebakaran,” kata Bang Yos beralasan.

Berkawan

Di ruang itu juga, koleganya, sesama petugas pemadam kebakaran (semuanya pria) serta keluarga mereka yang tinggal di kompleks yang sama, acap kali bertandang ke rumah Yosi. Dengan santai, para petugas pemadam kebakaran itu ngobrol dengannya, merebahkan badan di lantai, atau ikut menikmati masakan yang dibuatnya.

Semua itu mereka lakukan dengan santai sebab memang begitulah cara mereka berteman di kompleks rumah dinas yang menyatu dengan tempat parkir mobil pemadam dan peralatan SAR tersebut. Bila tugas malam, Yosi pun tidak sungkan tidur di tempat tidur lipat di ruangan untuk petugas pemadam kebakaran.

Dengan seluruh kehidupan dan karier yang tergenggam dalam tangan, Yosi masih menyimpan satu harapan. Dia ingin menyelesaikan kuliah yang terbengkalai sejak tahun 2002, atau ketika dia baru menyelesaikan semester ketiga.

Dengan penghasilan sebagai pegawai negeri sipil golongan IIA, Yosi yakin bisa menutupi sendiri biaya kuliah hingga selesai.

”Saya ingin mendapatkan ilmu dari kuliah. Ijazahnya nanti bisa menambah peningkatan golongan. Ya, semoga saja ini bisa meningkatkan uang pensiun saya nantinya,” ucap Yosi menambahkan.

sumber : kompas cetak edisi 20 November 2008

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: