Archive for the ‘Inspiring People’ Category

Afzalurrahman Assalam, Hafizh Quran ITB

Jangan salah sangka jika hafizh quran atau orang yang hafal quran 30 juz hanya ada di pesantren atau hanya sekolah di bidang keagamaan saja. Tak sedikit yang menempuh pendidikan formal di bidang selain agama. Contohnya yang ada di Institut Teknologi Bandung. Seorang mahasiswa yang hafal 30 juz quran, Afzalurrahman Assalam namanya. Mahasiswa Teknik Geofisika angkatan 2004 ini telah hafal al quran sejak duduk di bangku SMP. Melalui perbincangan via internet, Aaf, begitu ia akrab disapa menceritakan sedikit pengalaman menghafal quran hingga biaya kuliah yang ia tanggung sendiri.

Motivasi menghafal quran, Aaf akui keinginannya agar termasuk golongan yang Allah berikan keistimewaan di akherat kelak. Ketika sekolah di MTs (setingkat SMP), Aaf mengikuti program menghafal quran di Ponpes Al Hikmah, Cirebon. Dalam waktu kurang dari 3 tahun, Aaf telah menghafal seluruh isi quran. Menurutnya dengan menghafal quran, hatinya menjad tenang dan selalu menjadi juara kelas saat di MTs. Hingga kini pun diyakininya dengan menghafal dan berinteraksi dengan quran, emosinya lebih stabil dan tenang walau menghadapi persoalan seberat apapun. ”Membaca dan mendalami quran sudah menjadi hiburan khusus bagi saya” tukasnya.

Keberhasilan yang dicapainya diyakini tak lepas dari didikan orang tua. Selain pendidikan quran sejak kecil, penjagaan orang tua terhadap anak-anaknya yang ketat diakuinya menjadi kunci kesuksesannya. ”Gemblengannya setiap hari tidak boleh nonton televisi sebelum meyelesaikan tugas-tugas sekolah” akunya. ”(Pesan) yang paling saya ingat adalah motto mereka we are born to be the champ,” imbuh sulung dari sebelas bersaudara ini. Dalam menghafal quran menurutnya yang terpenting adalah semangat dan komunitas yang mendukung. Oleh karena itu saat di SMA dan sekarang kuliah, Aaf selalu mencari komuitas penghafal quran agar hafalannya terjaga.

Walaupun merupakan anak anggota DPR RI, Aaf memenuhi biaya kuliahnya secara mandiri, ”biaya kuliah dari bisnis (percetakan) sejak dua semester ini”, akunya yang menanam modal pada bisnis percetakan di Yogyakarta.

Selain membaca quran di waktu luangnya, Aaf juga senang menulis termasuk di blog pibadinya.”(Bahkan) lolos dalam seleksi Pertamina Youth Program (PYP) IV tahun ini karena (kemampuan) menulis terlebih dulu”, ungkap peserta Program Pembinaan SDM Strategis (PPSDMS) Nurul Fikri angkatan III regional Bandung ini.

Lebih banyak terlibat di organisasi luar kampus, membuat Aaf lebih banyak berinteraksi dengan masalah-masalah kemasyarakatan. Tergabung dalam Forum Indonesia Muda angkatan IV memberikan kesempatan padanya memperjuangkan RUU APP ketika pemerintah melakukan dengar pendapat masyarakat sebagai wakil mahasiswa. Aktif di bagian kepemudaan Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indonesia, menjadi narasumber acara TV Sahur Ramadhan di Lativi tahun 2004, dan pembicara acara dialog di MQTV  tahun 2007 salah satu pengalamannya. Tak mengherankan jika akhir bulan januari 2008 nanti, Aaf akan diundang ke Thailand oleh KBRI dan komunitas muslim Indonesia di sana.

Di ITB sendiri, Aaf merupakan anggota MPO Majelis Ta’lim (Mata) Salman. ”(Selebihnya) mendukung aktivitas-aktivitas kampus (ITB) supaya lebih banyak berkontribusi kepada masyarakat” yang menurutnya masih minim dilakukan. ”(Setidaknya) kurangi konsumsi BBM bagi yang membawa mobil, ini isu global warming, jangan tenggelam dalam dunia hedonisme”, pesannya.

sumber : http://www.itb.ac.id

Peneliti Membran Kelas Dunia (2)

(sambungan dari tulisan terdahulu)

Aplikasi membran untuk air minum

Aplikasi membran di bidang produksi air minum sudah sangat luas, dan teknologinya pun sudah berkembang pesat. Namun hingga kini produksi air minum kita  (PDAM) masih menggunakan cara-cara konvensional yang menyebabkan kualitas air masih di bawah standar air minum sehingga tidak dapat langsung diminum. ”PDAM sudah seharusnya menggunakan membran”, ungkap beliau. ”tapi apakah PDAM mau mengadopsi teknologi ini atau tidak itu bukan urusan kita, tekankan ini dengan keras”, lanjutnya.  ”Kita bersedia membantu tetapi saya tidak mau masuk dalam sistem mereka, birokrasi, yang akan menempatkan kita sesuai sistem mereka”, tutur beliau dengan tegas. Peneliti kita ini memang sosok yang ogah berurusan dengan masalah birokrasi pemerintahan. Namun beliau berani memberikan garansi bahwa penggunaan membran di sektor ini sangat kompetitif baik dari segi kualitas maupun segi keekonomisan.

“Level harga air minum kita saat ini masih terlalu tinggi sebenarnya. Jadi kalo akses air bersih itu mahal kita kurang setuju untuk itu. Kita sebenarnya sudah siap dengan teknologi portable drinking water yang mampu menghasilkan air kualitas tinggi. Bahkan rumah-rumah bisa memiliki instalasi air bersih sendiri dengan harga terjangkau”, itulah solusi yang ditawarkannya.

Posisi Industri Membran Indonesia

Indonesia memang terlambat start dalam teknologi membran. Negara-negara maju seperti USA, Jepang, telah mulai mengembangkan membran sejak 50 tahun yang lalu. Sementara kita jauh tertinggal dari mereka. Namun, saat ini kita sudah mulai bangkit dan mengejar ketertinggalan . ”Statemen kita di dunia membran keras dan saya rasa kita diakui diseluruh dunia”, kenang beliau saat memberikan plenary lecture pada Simposium membran ketiga beberapa waktu yang lalu. ”Membran kita lebih murah dari negara lain, khususnya di Asia. Bahkan lebih murah dari buatan Cina. Soal kualitas kita garansi”. Tanpa mengungkapkannya lebih jauh beliau lalu menceritakan sekilas tentang simposium membran yang diadakan di ITB beberapa waktu lalu (26-27/04/05). ”Afrika Selatan bahkan ngambil membran dari kita dan segala sektor sedang dijajaki untuk aplikasi membran dari kita”, lanjut beliau menjelaskan hasil dari simposium itu. Sebagai negara berkembang kita memang harus memiliki strategi jitu untuk mampu bersaing dengan negara-negara yang sudah maju.

Peran Pemerintah dalam Industri Membran

”Pemerintah nggak perlu ngrecoki, dan kita jangan terlalu berharap dengan peran pemerintah. Kalo mau regulasi juga silakan tetapi nantinya suka-suka mereka juga. Pemerintah ngatur pemerintahan dengan baik aja lah. Kalo pemerintah bisa akomodatif dan adaptif pasti kita dukung.  Kalo pemerintah memang akomodatif seperti PDAM kan merupakan salah satu peran pemerintah, jadi ya itu terserah mereka”, tutur beliau.

Tentang Penelitian

Masalah klasik seperti keterbatasan dana, diakui oleh beliau memang masih ada. Namun karena sudah terbiasa dan memiliki strategi tertentu maka hal itu bisa dihadapi. sendiri. ”Kalo kita mengandalkan pihak lain kita nggak jalan-jalan’, ujarnya. Tentang aplikasi di industri Wenten memiliki rumus jitu. ”Penelitian mengikuti alur mekanisme pasar. Kalo penelitian kita berkualitas dan dibutuhkan oleh industri maka tidak ada alasan kenapa mereka (industri) tidak membiayai dan menggunakannya”. Tidak seperti di Eropa dan negara-negara maju, peneliti di Indonesia tidak dibiayai negara.”Peneliti kita disuruh cari makan sendiri. Sehingga kita mati-matian membuat karya yang lebih kreatif dan inovatif agar penelitiannya tetap bisa jalan”, kenang beliau.

Ditanya tentang kerjasama penelitian, beliau ternyata memiliki banyak kerjasama dengan dunia Industri. Bahkan di bidang kelapa sawit nilainya mencapai empat miliar rupiah. Namun tidak sama halnya dengan kerjasama dengan peneliti lain. ”Saya itu berat sekali kalo mengenai kerjasama antar peneliti, karena kita tidak mau direpotkan oleh persoalan  rutinitas kampus persoalan antar peneliti yang seringnya hanya ’sama-sama’nya tapi kerjanya nggak jalan-jalan”, begitu penjelasan beliau.

Aplikasi Membran Skala Kecil

Aplikasi membran skala kecil banyak dirintis oleh beliau. Sebut saja alat portable drinking water, ’tebuku’ untuk petani tebu, Small Residential Ultra Purifier Package untuk rumah tangga, RO emergency kit, dan masih banyak yang lain. Bahkan tukang bakso pun diharapkan bisa memanfaatkan membran sehingga tidak perlu mencari air setiap saat. Alat-alat inipun telah digunakan dalam penanggulangan pasca Tsunami di Aceh, karena bentuknya yang kompak, ringan, dan mudah dibawa. Bahkan untuk RO emergency kit tidak membutuhkan pompa listrik hanya dioperasikan dengan pompa tangan.

”Kalo sekarang kemarau saya bisa jamin kalian tidak akan mengalami kekeringan. Air yang sudah dipake mandi ,cuci, dan sebagainya jangan dibuang. Ditampung ntar kita olah dan dipake lagi. Misalnya di atas dipake mandi, ntar dilewatkan membran berikutnya dipake apa gitu seterusnya”, papar beliau meyakinkan.

”Kalian harus bisa buktikan sendiri omongan saya. Kalo statemen kita keras seperti ini maka itu pasti sudah berdasar. Kalian harus bisa jadi penerus”, begitulah pesan beliau menutup pembicaraan.

(erwin)

sumber : http://www.itb.ac.id

Peneliti Membran Kelas Dunia (1)

Setelah melalui perjuangan panjang, akhirnya kami memperoleh kesempatan berbincang dengan I Gede Wenten. Diterima di ruang kerjanya yang sederhana, di Lantai I Gedung PAU (Penelitian Antar Universitas). Memasuki ruangan, kami disambut dengan berbagai piagam, plakat, dan medali penghargaan dari berbagai institusi yang pernah diraih, yang dipajang di salah satu sudut ruang. Segera setelah kami memperkenalkan diri, beliau menyilakan kami untuk duduk dan mulai wawancara.

I Gede Wenten merupakan sosok yang sangat energik dan bersemangat. Pria yang kerap dipanggil Wenten ini ini, selalu memberi inspirasi dan motivasi bagi lawan bicaranya. Dosen Departemen Teknik Kimia ITB yang mengaku senang menggunakan batik dalam kesehariannya ini, menghabiskan sebagian besar waktunya untuk dunia pendidikan dan penelitian. Selalu optimis namun tetap bersahaja adalah ciri khasnya.

I Gede Wenten merupakan sosok fenomenal di dunia industri membran. Betapa tidak, paten pertama sebagai hasil disertasi doktoralnya langsung mendapat perhatian dunia membran bahkan disebut-sebut sebagai revolusi terbesar pada industri bir dalam 50 tahun terakhir. Paten pertamanya tentang klarifikasi bir di Denmark ini adalah karya yang pertama mengangkat namanya. Penemuan itu sanggup membuat orang berdecak kagum karena sang penemunya justru orang Indonesia yang tidak memiliki industri bir besar seperti di Denmark. Penghargaan tertinggi dari Filtration society di London pun di sabetnya, bukti dari tingginya inovasi dalam temuan beliau. Produktifitas dan semangatnya yang sangat tinggi menjadikan beliau disegani banyak pihak, bahkan dari peneliti senior sekalipun.

Sejarah Pendidikan

Wenten lahir 43 tahun yang lalu di lingkungan keluarga nelayan kecil di Desa Pengastulan, Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali. Kehidupan sulit dimasa kecil telah menempanya menjadi pribadi yang mandiri dan pekerja keras. Ia meraih gelar sarjana di Jurusan Teknik Kimia ITB tahun 1987. Alur hidupnya kemudian membawanya melanjutkan studi ke Denmark. Gelar master tahun 1990 dan doktor tahun 1995 diraihnya dari Denmark Technical University (DTU). Saat mengambil program doktornya itu, ia berhasil menemukan dan mematenkan kontribusi pertamanya di dunia membran. Saat ini beliau aktif menjadi staff pengajar di Departemen Teknik Kimia ITB

Meraih Penghargaan dan Paten

Kiprah dan kualitasnya di bidang membran sudah diakui dunia. Berbagai penghargaan dari berbagai institusi telah diraihnya. Sebut saja “Suttle Award” dari Filtration Society di London, sebuah penghargaan tertinggi dari institusi tersebut bagi para peneliti di bawah usia 35 tahun. Penghargaan ini diperoleh atas karyanya yang berjudul “Mechanisms and Control of Fouling in Crossflow Microfiltration”,yang di buat pada tahun 1994. Dalam perjalanan kariernya yang bersangkutan juga berhasil meraih penghargaan “Adhicipta Rekayasa” dari Persatuan Insinyur Indonesia pada tahun 1995, “Science and Technology Award” dari Indonesia Toray Science Foundation tahun 1996, Penghargaan “Peneliti Muda Indonesia” dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia tahun 1996, Habibie Award tahun 2000, dan “Wipo Award” dari WIPO-UNDP sebagai “Best Inventor”, serta “RUT Award” dari Kementerian Riset dan Teknologi pada tahun 2004. Selain itu beberapa paten juga telah terdaftar di lembaga paten Indonesia, Jepang, Kanada, dan USA

Namun diluar sangkaan bahwa penghargaan yang menjadi favorit beliau, dan ternyata tidak pernah tercantum di CV, adalah dikukuhkan sebagai alumni terbaik ITB ’82. “Memperoleh pengakuan dari teman sendiri itu lebih sulit. Dunia boleh mengakui, tapi kalo teman, sampai mati pun kadang tetap nggak mau mengakui’, begitulah pengakuan Wenten ketika ditanya alasannya. “Penghargaan itu bagi saya adalah beban moral untuk tetap semangat berkarya”, lanjutnya.

Visi dan Misi dalam Dunia Membran

Saat ini perkembangan dunia membran sangat pesat dan kian hari pemanfaatannya bak jamur di musim penghujan. Namun aplikasi membran masih didominasi oleh perusahaan ataupun industri yang beroperasi dalam skala besar. ”Membran nantinya bisa dipake dimana-mana, membran dapat diaplikasikan disegala sektor bahkan termasuk rumah tangga dan penjual bakso sekalipun”, begitulah masa depan membran dalam pandangan Wenten. Selain itu, beliau juga bertekad untuk memerangi anggapan bahwa membran itu mahal sehingga tidak kompetitif. ”Saat ini harga membran sudah bisa ditekan sampai seperempat dari harga sebelumnya sehingga membran bisa sangat kompetitif”, ujar beliau meyakinkan.

Aplikasi Membran di Industri dan Medis

Aplikasi membran di industri sangat banyak. Saat ini yang paling banyak pada aplikasi pemurnian air dan pengolahan limbah. Aplikasi industri yang sedang dikembangkan di Indonesia, khususnya ITB, adalah aplikasi di bidang medis untuk produksi Dialysate dan mesin Mesin Hemodialisis. Bidang Bioteknologi untuk Single-Cell Protein Production, Cell recovery, dan membran bioreaktor (MBR). Juga dibidang lain seperti refinasi gula, pengolahan starch, Kelapa Sawit, tambak, dan sebagainya.

Beberapa aplikasi di Indonesia memang berbeda dari yang biasa digunakan di dunia. Seperti aplikasi di tambak udang, mungkin kita yang pertama di sektor ini. Bahkan menurut beliau, Indonesia adalah negara satu-satunya yang memanfaatkan teknologi membran di sektor ini.

Aplikasi membran untuk keperluan medis juga sangat diharapkan masyarakat, mengingat biaya cuci darah yang sangat mahal. ”Tidak hanya ginjal buatan, segala komponen cuci darah kita udah ada jalan ke sana. Ya kapanpun pemerintah siap ya kita siap untuk jalankan ini”, ungkap beliau optimis.

(bersambung)

sumber : http://www.itb.ac.id

Megah Mencetak Sawah di Kolong Timah

Jumat, 13 Maret 2009 | 03:29 WIB

BENNY DWI KOESTANTO

Sudah lama ada anggapan bahwa lahan bekas tambang timah atau kolong di Kepulauan Bangka Belitung tidak bisa direhabilitasi, direklamasi, apalagi menghasilkan. Namun, semua itu mentah di tangan Megah Hasan. Dengan tekun dan semangat luar biasa, pria asli Pangkal Pinang itu berhasil mencetak sawah di kolong timah.

Datanglah ke Kampung Jeruk, Pangkalan Baru, Bangka Tengah, 15 kilometer arah selatan kota Pangkal Pinang. Hamparan hijau petak-petak sawah yang sedang ditanami padi menjadi sebuah ”oase” di antara kolong-kolong timah, yakni kolam-kolam bekas galian dan gundukan tanah di sekelilingnya. Dua tahun lalu, kawasan itu mirip tempat ”jin buang anak”, tandus, sepi tak dijamah orang, dan merana setelah disedot bijih timahnya.

”Timah itu berkah bagi orang Bangka. Kita boleh menambangnya, karena itu memberi nafkah. Tapi, janganlah kita serakah untuk generasi kita semata. Penambangan membabi buta hanya meninggalkan nestapa bagi anak cucu kelak,” kata Megah di pondokan yang baru setengah selesai dibangun di lahan persawahannya, pekan lalu.

Pondokan itu berada di atas kolong terluas di kawasan itu. Di sinilah Megah terus memikirkan masa depan tanah kelahirannya, terutama fase ”apa lagi setelah masa jaya timah yang meninggalkan kerusakan lingkungan dahsyat di Bangka Belitung berakhir”. Terasa sulit membayangkan kenyataan lahan kritis di Bangka Belitung akibat pertambangan timah mencapai 1.600 hektar atau sekitar seperlima dari total wilayah kepulauan itu.

Selama ini upaya penyelamatan lingkungan lebih banyak dilakukan dengan reklamasi lahan, lalu ditanami aneka pepohonan. Namun, bagi Megah, pertanian lestari yang ditopang kegigihan menjadi salah satu jawabannya.

Dari lahan seluas 24 hektar, Megah mencetak seperempatnya menjadi lahan sawah dengan tanaman padi berbagai jenis dalam kurun waktu kurang dari dua tahun terakhir. Akhir tahun lalu ia mampu menghasilkan rata-rata 4-5 ton gabah kering per hektar lahan.

”Hasil itu tidak jelek, tapi juga belum berhasil. Pada sawah normal dengan irigasi lancar hasil rata-rata 8-9 ton gabah kering per hektar, sementara saya setengahnya. Cita-cita saya, masyarakat kepulauan ini tidak terlalu tergantung dari beras luar (pulau),” katanya.

Sekitar 200 meter dari pondokan Megah, di bagian depan lahan persawahan itu terdapat peternakan sapi pedaging dan sapi perah, serta lele dumbo. Ia mencoba mempraktikkan sistem pertanian terintegrasi. Namun, mencetak lahan sawah merupakan fase tersulit.

Pasalnya, tak ada irigasi teknis di sekitar kolong sawah Megah. Dia terpaksa menggunakan sumber air dari kolong-kolong yang ada. Tetapi, air kolong sangat rendah kandungan asamnya karena campuran timah dan logam-logam lain. Untuk menambah keasaman air, ia menanam eceng gondok di kolam-kolam tersebut.

Jika dirasa jumlahnya berlebihan, eceng gondok lalu diambil, dijemur, dan dijadikan pupuk kompos. Air dari kolong itulah yang digunakan mengairi sawah dengan cara dipompa. Sebelum untuk mengairi sawah, terlebih dulu air itu ditampung pada satu kolam khusus, dicampur air kencing sapi serta air dari kolam budidaya lele. Itulah mengapa ia tak menggunakan pupuk kimia pada tanaman padi di sawahnya.

Persoalan kedua adalah tanah. Gundukan-gundukan tanah harus diratakan. Untuk itu, Megah menggunakan ekskavator. Satu hektar lahan membutuhkan waktu dua hari, disusul seminggu untuk pencetakan sawah. Luas petakan tergantung selera, tetapi jangan terlalu luas agar air merata.

Langkah selanjutnya identifikasi tanah, terutama mengetahui ketebalan lapisan pasir. Kalau pasir terlalu tebal, air yang dialirkan tak tertampung karena meresap. Untuk menyiasati, ia menambahkan pupuk kandang dan kompos berupa jerami dan daun eceng gondok kering yang diaduk dengan traktor. Ia mendiamkan lahan itu beberapa pekan. Jika di atas tanah telah tumbuh ilalang, itu pertanda lahan siap dicetak menjadi sawah. Maka, tanah pun diaduk dan diolah kembali menjadi sawah.

Belajar dari Jepang

Upaya pencetakan sawah itu merupakan buah perjalanan Megah ke Kobe, Jepang. Hampir separuh perjalanan hidupnya dihabiskan di kota itu. Selepas SMA di Pangkal Pinang, ia merantau dan bekerja di perusahaan otomotif, hingga ia mampu mendirikan usaha berbasis otomotif pula. Ia menikah dengan gadis Jepang, dan menetap di Kobe dengan dua putranya.

Sejak menjadi petani di Bangka, otomatis ia tinggal sendiri di Pangkal Pinang. Dua bulan sekali ia menemui keluarganya di Kobe. Atau di kala liburan sekolah, keluarganya berkunjung ke Pangkal Pinang. Sementara bisnisnya tetap berjalan, dengan berkelakar ia mengaku mampu mengawasi usaha itu dari sawahnya di Kampung Jeruk. Di Bangka ia terdaftar sebagai komisaris salah satu perusahaan peleburan (smelter) timah swasta.

Ia memang hobi dan cinta bertani. Ia mulai bertani di Kobe sejak awal 1990-an, kala bersama dua teman membeli sepetak lahan sawah berukuran 1.000 meter di pinggiran kota. Ia bertani intensif di akhir pekan. Intensifikasi pertanian Jepang, katanya, sangat jelas. Lahan sempit dibayar lunas dengan hasil maksimal karena sistem pertanian yang maju dengan sistem bimbingan petugas lapangan pertanian secara simultan.

”Setiap petugas penyuluh di Jepang mempunyai kebun atau sawah percobaan sendiri. Mereka meneliti, beruji coba, dan dipraktikkan secara cermat. Coba bandingkan dengan penyuluh di sini,” katanya.

Praktik pertanian ala Negeri Sakura itulah yang diterapkannya di Kampung Jeruk. Hampir sehari penuh ia berada di sawah. Merenung dan berpikir di pondokan, lalu ke sawah lagi, begitu seterusnya. Tak jarang ia pergi ke sawah malam hari, sekadar melihat kondisi tanaman. Maka ia mampu menyebutkan berapa jenis hama, capung, hingga kupu di persawahan.

Salah satu hal menarik pada sistem pertanian Megah adalah jumlah petani. Untuk mengolah lahan seluas enam hektar itu, ia dibantu tiga karyawan. Katanya, pengaturan waktu dan jadwal pengerjaan lahan adalah kuncinya. Mereka bekerja profesional layaknya pekerja kantor, pukul 08.00-16.00 dengan istirahat satu jam per hari. Mereka digaji minimal Rp 1,25 juta per bulan. Mereka juga dibuatkan rumah tinggal di sekitar area persawahan, lengkap dengan listriknya.

Megah bangga dengan salah satu pencapaiannya ini. Pencetakan sawah menjadi bagian dari Bangka Goes Green, program corporate social responsibility PT Bangka Belitung Timah Sejahtera, konsorsium beberapa perusahaan smelter timah di Pangkal Pinang.

Namun ada hal yang menggelisahkannya, yakni bagaimana mengenalkan dan mengajak warga pemilik kolong mengikuti jejaknya. Sebab, butuh biaya tak sedikit untuk mencetak sawah. Ia telah menghabiskan Rp 600 juta untuk semua itu, di luar pembelian lahan.

”Tanpa bantuan pemerintah atau perusahaan swasta besar, pencetakan sawah sulit terealisasi dalam waktu singkat. Sudah saatnya pemerintah daerah di Bangka peduli lingkungan, demi generasi mendatang,” kata Megah.

Sumber : Kompas Cetak edisi Jum’at, 13 Maret 2009

Kadek Ari, Keteguhan Peneliti Ikan

BM Lukita Grahadyarini dan Helena F Nababan

Ari Wahyuni atau biasa disapa Kadek semula tak berpikir untuk membiakkan spesies ikan laut yang jumlahnya mulai langka di alam. Namun, kecintaan pada dunia perikanan membuat dia tergerak membudidayakan beberapa jenis ikan yang populasinya terancam akibat terus diburu dalam jumlah besar.

Salah satu buah ketekunannya adalah pengembangbiakan kuda laut (Hippocampus spp) dan ikan nemo (Amphiprion sp) secara massal. Kuda laut yang dikembangkan ada dua jenis, yaitu Hippocampus kuda dan Hippocampus comes. Tahun 2008, total benih kuda laut yang dihasilkan 30.000 ekor dan benih ikan nemo sekitar 10.000 ekor.

Pergulatan Kadek membudidayakan ikan nemo atau ikan badut diawali pada 2003. Keinginan mengembangkan nemo muncul ketika seorang keponakan menggelitiknya dengan pertanyaan, ”Bisakah ikan lucu itu dikembangbiakkan?”

Pertanyaan itu membuat sarjana biologi ini terpana. Kadek yang terbiasa berkecimpung dalam pembiakan ikan malah belum terpikir mengembangkan ikan hias semacam itu. Di tingkat pedagang, ikan nemo yang mengandalkan tangkapan di alam dijual relatif murah, Rp 3.500 per ekor. Ikan mungil itu memiliki penampilan yang lucu sehingga terus diburu dan semakin sulit ditemukan.

Ia lalu bereksperimen dengan membeli sepasang ikan nemo berwarna dasar oranye cerah dengan corak garis putih dihiasi siluet hitam (Amphiprion ocellaris). Ikan itu diambil dari perairan Teluk Lampung, Provinsi Lampung. Percobaan awal tak berhasil. Sepasang nemo itu malah mati.

Kadek membeli lagi ratusan ikan nemo untuk dikembangbiakkan. Ia juga mencari konsep ”rumah buatan” yang tepat sebagai pengganti terumbu karang untuk bersarang dan tempat bertelur ikan karang itu. Proses uji coba ini menyebabkan ratusan ikan nemo mati. Ia lalu menggunakan anemon laut untuk tempat induk nemo bersarang dan menciptakan modifikasi pipa bekas sebagai tempat tinggal benih nemo.

”Hal tersulit adalah mencari tempat tinggal, bersarang, dan bertelur ikan itu. Jika perairan tercemar dan terumbu karang dirusak, populasi ikan ini di alam mudah terancam,” kata Kadek yang bekerja sebagai peneliti di Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung.

Hampir berbarengan dengan budidaya nemo, ia juga berinovasi memijahkan kuda laut yang tergolong hewan langka. Kuda laut hasil pemijahan itu memiliki masa pertumbuhan relatif cepat sehingga butuh waktu pemeliharaan hanya 6-7 bulan untuk siap panen dengan ukuran di atas 10 cm. Pemijahan kuda laut di Indonesia pernah dirintis pada 1990-an oleh peneliti BBPBL Lampung, Sudaryanto.

Sebagai peneliti, Kadek tak ingin setengah-setengah. Ia juga mencari formula pakan yang tepat bagi nemo dan kuda laut melalui pemberian jenis pakan yang disesuaikan dengan umur spesies. Ikan nemo yang terbiasa mengandalkan pakan alam bisa mengonsumsi pakan buatan berupa pelet setelah berukuran 3 cm.

Pengembangbiakan ikan nemo dan kuda laut menuai hasil tahun 2008. Keturunan ikan nemo sudah menghasilkan generasi kedua, sedangkan kuda laut generasi keempat. Kuda laut yang merupakan bahan dasar obat-obatan itu produksinya mencapai 14.000 ekor, di antaranya dipasarkan ke Jepang dan Jerman.

Benih hasil budidaya juga memiliki daya tahan lebih baik ketimbang tangkapan alam dan bisa beradaptasi dengan pakan buatan, perubahan lingkungan, dan salinitas. Selain menekuni budidaya ikan nemo dan kuda laut, Kadek bersama tim peneliti BBPBL Lampung juga mengembangkan budidaya kerapu bebek (Cromileptes altivelis) dan rumput laut.

Modal sendiri

Lulusan Fakultas Biologi Universitas Satya Wacana, Salatiga, ini yakin perikanan laut adalah kekayaan hayati yang potensial dibudidayakan. Sebagai peneliti yang juga pegawai negeri sipil (PNS), Kadek menyadari penelitian selama ini kurang aplikatif untuk diterapkan masyarakat.

Lebih jauh ia mengkritik budidaya perikanan di negeri bahari ini belum maju, lantaran sikap peneliti yang cenderung enggan bekerja lebih keras memajukan dan mengungkap kekayaan perikanan Tanah Air.

Sebagai bukti keseriusan mengembangkan penelitian, Kadek merogoh kocek pribadi hingga jutaan rupiah untuk penelitian ikan nemo. Keteguhannya meneliti dan membiakkan nemo tanpa biaya pemerintah itu sempat menuai kecurigaan petugas pengawas PNS yang mengaudit BBPBL Lampung pada 2005.

Pengawas itu mencurigai Kadek menggunakan dana ”gelap” dan secara sembunyi-sembunyi melakukan penelitian ikan nemo dan kuda laut. Setelah melalui proses interogasi, petugas itu berbalik mendukung penelitian yang dilakukan Kadek secara swadaya.

Terinspirasi nemo

Bergelut dengan budidaya satwa air membuat perempuan pemalu ini kerap terilhami sikap dan perilaku ikan. Ia terkesan saat mengetahui ikan nemo dan kuda laut adalah satwa air yang setia dan hanya mau dikawinkan dengan pasangannya.

”Kesetiaan nemo itu menginspirasi saya untuk terus setia pada (budidaya) ikan,” ujar anak keenam dari tujuh bersaudara itu.

Kadek tak ingin menyimpan hasil karyanya. Ia bercita-cita menghidupkan kembali tempat pembenihan udang (hatchery) milik rakyat yang kolaps sejak 2003 dengan mengajak petambak membudidayakan nemo dan kuda laut.

Ia berkeyakinan, maraknya upaya pengeboman karang dan perburuan ikan hias tak bisa dihentikan semata-mata dengan larangan dan sanksi. Lingkaran setan perusakan biota perairan bisa diputus bila ada solusi berupa penghasilan alternatif bagi masyarakat.

Untuk mewujudkan harapan itu, Kadek mendaftarkan hasil temuannya ke Departemen Kehutanan guna mendapatkan sertifikasi budidaya kuda laut. Dengan sertifikasi itu, langkahnya memperluas budidaya nemo dan kuda laut secara besar lebih mudah.

”Budidaya ikan diharapkan menjadi alternatif penghasilan baru bagi masyarakat. Ini lebih baik ketimbang mengebom karang dan merusak populasi ikan,” katanya.

Tahun ini dia bertekad memijahkan empat jenis nemo lain, yakni Amphiprion sandaracinos, Amphiprion sebae, Amphiprion melanopus, dan Premnas epigrama. Di Indonesia terdapat 34 jenis ikan nemo yang tergolong ikan hias.

Menurut dia, salah satu kendala yang harus dipecahkan adalah rantai pemasaran yang serba tak pasti. Di antaranya harga ikan hasil budidaya yang relatif rendah atau dipatok sama dengan hasil tangkapan, kendati ikan hasil budidaya punya daya tahan hidup lebih baik.

Harga jual ikan nemo Rp 3.500 per ekor, jauh lebih rendah ketimbang harga ekspor yang 15 dollar AS per ekor. Sedangkan kuda laut Rp 10.000-Rp 15.000 per ekor, padahal harga ekspornya 20 dollar-25 dollar AS per ekor.

”Tanpa memecah persoalan pemasaran, upaya membangkitkan budidaya perikanan sulit tercapai,” tuturnya.

sumber : kompas cetak edisi 10 Maret 2009

Air mata ana menetes di rumah Hidayat Nurwahid

Nabil Almusawa
e: nabielfuad@yahoo. com

BismiLLAAHir RAHMAANir RAHIIM,

Beberapa hari yang lalu ana berkesempatan untuk ikut dalam acara buka
bersama dengan Ketua MPR-RI, DR Muhammad Hidayat Nurwahid, MA di rumah
dinasnya, kompleks Widya Chandra dengan beberapa ikhwah.
Ketika ana masuk ke rumah dinas beliau tsb, maka dalam
hati ana bergumam sendiri: Alangkah sederhananya isi
rumah ini. Ana melihat lagi dengan teliti, meja, kursi2,
asesori yg ada, hiasan di dinding. SubhanaLLAH, lebih
sederhana dari rumah seorang camat sekalipun.
Ketika ana masuk ke rumah tsb ana memandang ke
sekeliling, kebetulan ada disana Ketua DPR Agung
Laksono, Wk Ketua MPR A.M Fatwa, Menteri Agama, dan
sejumlah Menteri dari PKS (Mentan & Menpera) serta
anggota DPR-RI, serta pejabat2 lainnya.

Lagi2 ana bergumam: Alangkah sederhananya pakaian
beliau, tidak ada gelang dan cincin (seperti yg dipakai teman2
pejabat yg lain disana). Ternyata beliau masih ustaz
Hidayat yg ana kenal dulu, yg membimbing tesis S2 ana
dg judul: Islam & Perubahan Sosial (kasus di Pesantren
PERSIS Tarogong Garut).

Terkenang kembali saat2 masa bimbingan penulisan tesis
tsb, dimana ana pernah diminta datang malam hari
setelah seharian aktifitas penuh beliau sebagai
Presiden PKS, dan ada 10 orang tamu yg menunggu ingin
bertemu. Ana kebagian yg terakhir, ditengah segala
kelelahannya beliau masih menyapa ana dg senyum : MAA
MAADZA MASAA’ILU YA NABIIL?

Lalu ana pandang kembali wajah beliau, kelihatan
rambut yg makin memutih, beliau bolak-balik menerima tamu, saat
berbuka beliau hanya sempat sebentar makan kurma &
air, karena setelah beliau memimpin shalat magrib terus
banyak tokoh yg berdatangan, ba’da isya & tarawih kami semua
menyantap makanan, tapi beliau menerima antrian wartawan dalam & luar
negeri yang ingin wawancara.

Tdk terasa airmata ana menetes, alangkah jauhnya ya
ALLAH jihad ana dibandingkan dg beliau, ana masih punya
kesempatan bercanda dg keluarga, membaca kitab dsb,
sementara beliau benar2 sudah kehilangan privasi
sebagai pejabat publik, sementara beliaupun lebih berat ujian
kesabarannya untuk terus konsisten dlm kebenaran dan membela rakyat.

Tidaklah yg disebut istiqamah itu orang yg bisa
istiqamah dlm keadaan di tengah2 berbagai kitab Fiqh dan Hadits
seperti ana yg lemah ini. Adapun yg disebut istiqamah
adalah orang yg mampu tetap konsisten di tengah
berbagai kemewahan, kesenangan, keburukan, suap-menyuap dan
lingkungan yang amat jahat dan menipu.

Ketika keluar dari rumah beliau ana melihat beberapa
rumah diseberang yang mewah bagaikan hotel dg asesori lampu2
jalan yg mahal dan beberapa buah mobil mewah, lalu ana bertanya pd supir DR Hidayat : Rumah siapa saja yg diseberang itu? Maka jawabnya : Oh, itu rumah pak
Fulan dan pak Fulan Menteri dari beberapa partai besar.

Dalam hati ana berkata: AlhamduliLLAH bukan menteri PKS.
Saat pulang ana menyempatkan bertanya pd ustaz Hidayat:
Ustaz, apakah nomor HP antum masih yg dulu? Jawab beliau:

Na’am ya akhi, masih yg dulu, tafadhal antum SMS saja
ke ana, cuma afwan kalo jawabannya bisa beberapa hari
atau bahkan beberapa minggu, maklum SMS yang masuk tiap hari ratusan
ke ana.

Kembali airmata ana menetes. alangkah beratnya cobaan beliau & khidmah
beliau untuk ummat ini, benarlah nabi SAW yang bersabda bahwa orang
pertama yg dinaungi oleh ALLAH SWT di Hari
Kiamat nanti adalah Pemimpin yang Adil. Sambil berjalan pulang ana
berdoa : Ya ALLAH, semoga beliau dijadikan pemimpin yg adil & dipanjangkan umur serta diberikan kemudahan dlm memimpin negara ini. Aaamiin ya RABB.

Hari Siswoyoto dan Budidaya Jamur Tiram

Kamis, 5 Maret 2009 | 04:03 WIB

Oleh AGUSTINUS HANDOKO

Usaha budidaya jamur yang dirintis Hari Siswoyoto sejak tahun 1995 itu tidak hanya mampu menghidupi keluarganya, tetapi juga memberdayakan sedikitnya 700 petani di daerah Sukabumi, Bogor, dan Cianjur, Jawa Barat. Padahal, ide membudidayakan jamur itu muncul secara kebetulan saat ia masih menjadi karyawan sebuah perusahaan otomotif di Jakarta pada tahun 1984. Awalnya, Hari Siswoyoto tak terpikir untuk mempunyai usaha sendiri, apalagi membudidayakan jamur. Dia merasa cukup nyaman menjadi karyawan dengan penghasilan tetap. Inspirasi menjadi pengusaha muncul justru dari seorang pedagang rokok dan minuman. Kalau pedagang rokok saja berani punya usaha sendiri, bahkan bisa mengembangkannya dari satu tempat menjadi 10 tempat berjualan, mengapa ia tak berani? Hari lalu berusaha mencari bidang usaha yang kira-kira bisa dia tekuni. Pilihannya jatuh pada jamur karena dia kerap melihat orang di kampungnya, daerah Sleman, DI Yogyakarta, suka mengonsumsi jamur, terutama ketika musim hujan. ”Ketika itu jamur belum banyak di pasaran. Saya langsung yakin, jamur bisa menjadi peluang yang menjanjikan,” kata Hari. Dimulai dari keyakinan itulah, di sela-sela waktu kerjanya, Hari rajin berburu informasi hingga dia bertemu dengan seorang kepala sekolah pertanian di Sukabumi. Menimba ilmu pertanian dari ”ahlinya”, dia lalu membuat semacam kebun percontohan jamur di kawasan Cisarua, Bogor. Percobaan budidaya jamur mulai dari pembibitan hingga panen yang dilakukan Hari relatif berhasil. Namun, keberhasilan itu saja belum bisa dijadikan ukuran untuk memulai usaha. Pasalnya, Hari belum menemukan pasar yang bisa menyerap produk jamurnya secara rutin. Jaringan pemasaran ”Saya sempat putus asa karena pasar masih asing dengan produk pertanian bernama jamur. Harganya ketika itu juga masih sangat murah sehingga saya rugi jika budidaya jamur ini diteruskan,” cerita Hari yang menggunakan jamur tiram (Pleurotus ostreatus) jenis Oister oleim untuk memberdayakan masyarakat pedesaan di Sukabumi, Bogor, dan Cianjur. Namun, di sisi lain, dia juga pantang berhenti dengan usaha yang sudah dirintis itu. Hari kemudian menyambangi pasar-pasar tradisional di Bogor dan Jakarta untuk membuat jaringan pemasaran jamur. Ketika itu harga jamur relatif masih murah, sekitar Rp 2.000 per kilogram. Pasar pun mulai terbentuk, dari satu-dua pedagang, beberapa pedagang lainnya pun minta pasokan jamur darinya. Di sisi lain, produksi jamur yang bisa dia pasok ke pasar-pasar tradisional di Bogor dan Jakarta juga semakin stabil karena banyak petani di Cisarua yang mengikuti jejak Hari. ”Para petani di Cisarua bahkan bisa ikut mengontrol harga karena permintaan pasar cukup banyak. Petani jadi punya daya tawar tinggi terhadap pedagang,” kata Hari tentang kondisi pada tahun 1997 itu. Baru pada tahun 2000 Hari dan seorang rekannya mengembangkan budidaya jamur itu secara besar-besaran sehingga makin banyak petani yang bisa dilibatkan. Harga jamur pun sudah meningkat menjadi Rp 6.000 per kilogram. Seperti layaknya sebuah usaha yang mengalami pasang-surut, budidaya jamur yang dikembangkan Hari juga sempat menyurut. Bedanya, usaha jamurnya menyurut karena dia dipindahtugaskan dari kantor di Jakarta ke kantor cabang di salah satu kota di Kalimantan. Namun, telanjur cinta pada jamur, Hari lalu memutuskan mengundurkan diri dari kantor tahun 2002. Dia memilih untuk fokus pada usaha jamurnya. Sampai tahun 2005 semakin banyak petani di daerah Cikidang, Kabupaten Sukabumi, dan Puncak, Cianjur, yang terlibat dalam budidaya jamur yang dikelola Hari. Dengan bertani jamur, para petani binaannya bisa mendapatkan penghasilan dari Rp 100.000 hingga Rp 300.000 per hari. Tumbuh cepat Dari pengalamannya selama ini, Hari berkesimpulan, budidaya jamur bisa diterima petani dalam waktu cepat sebab relatif mudah. ”Jamur itu parasit yang tumbuh cepat dan tidak memerlukan lahan yang luas,” katanya. Jamur tiram, misalnya, bisa dibudidayakan dengan media tanam polybag yang disusun di rak-rak. Untuk budidaya jamur tiram sebanyak 10.000 polybag diperlukan dana sekitar Rp 20 juta. Rinciannya, untuk bibit Rp 17 juta dan pembuatan rumah budidaya Rp 3 juta dengan ukuran 6 meter x 12 meter. Dari budidaya itu akan diperoleh hasil sekitar 60 kilogram jamur setiap hari. Belakangan harga jamur tiram sekitar Rp 6.500 per kg dari tangan petani. Di pasar modern harga jamur tiram mencapai Rp 22.500 per kg. Jamur tiram makin diburu konsumen karena memiliki kandungan protein tinggi. Karena berkembangnya amat cepat, jamur tiram harus dipanen setiap hari, bahkan bisa dipanen pada pagi dan sore. Pasalnya, jamur yang sudah dibudidayakan akan mati dalam waktu tiga hari sejak tumbuh. ”Satu bibit jamur tiram itu akan terus panen hingga empat bulan sehingga modal usaha rata-rata sudah akan kembali atau impas pada dua bulan pertama budidaya,” katanya. Setelah berhasil memberdayakan petani di pegunungan di wilayah Sukabumi, Cianjur, dan Bogor, belakangan Hari giat mengajak pemilik lahan sempit di Kota Sukabumi. Ia membuat percontohan di Jalan Bhayangkara, Kota Sukabumi. ”Dalam waktu empat bulan sudah 24 pembudidaya jamur yang ikut. Mereka umumnya memiliki lahan amat sempit. Bahkan, ada yang hanya seluas 2 meter x 3 meter, tetapi mereka rutin berproduksi dan menikmati keuntungan,” katanya. Sebagian pembudidaya bahkan melebarkan usaha untuk memberi nilai tambah pada jamur karena hanya jamur berkualitas bagus yang bisa masuk ke pasar modern. Mereka mengolah jamur berkualitas rendah menjadi keripik jamur. Setelah dikeringkan, jamur digoreng. Harga jual keripik jamur ini bisa mencapai Rp 400.000 per kg. Selain petani, budidaya jamur juga mulai dipraktikkan kesatuan militer dan kepolisian. Hari juga mendampingi usaha budidaya jamur di Sekolah Calon Perwira atau Secapa Polri Sukabumi. Menurut rencana, konsep budidaya jamur tersebut akan dikembangkan untuk membekali anggota kepolisian keahlian yang bisa memberikan penghasilan di luar kedinasan.

sumber : kompas cetak

Ki Enthus Susmono, Kreativitas Tiada Henti

Jumat, 27 Februari 2009 | 00:13 WIB

Siwi Nurbiajanti

Dalang wayang kulit dan wayang golek asal Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Ki Enthus Susmono, berusaha mengikuti persoalan yang dihadapi masyarakat. Kelebihannya berimprovisasi dan menciptakan kreasi wayang membuat dia diperhitungkan di dunia seni pewayangan. Akhir Januari lalu, karya wayang terbarunya, wayang Rai Wong atau wayang berwajah orang, dipamerkan di Museum Rotterdam, Belanda. Pameran yang rencananya berlangsung selama enam bulan itu bertajuk Wayang Superstar The Theaterworld of Ki Enthus Susmono. Pameran ini menampilkan wayang kulit dan wayang golek karya Enthus yang dimiliki Museum Tropen. Jumlah wayang yang dipamerkan sebanyak 57 buah, di antaranya wayang berwajah George Bush, Saddam Hussein, dan Osama bin Laden. Seusai pameran Juni nanti, Enthus akan mementaskan wayang kulit Rai Wong dengan lakon Dewa Ruci di Amsterdam, Dohctrect, dan Paris. Popularitas Enthus sebagai dalang tak diperoleh dengan mudah, meski darah seni sang ayah, Soemarjadiharja, yang berprofesi sebagai dalang wayang kulit dan wayang golek, mengalirinya. Meskipun lahir dari keluarga dalang, Enthus tidak diizinkan oleh ayahnya menjadi dalang. ”Alasan ayah saya, dadi dalang kuwi abot sanggane (menjadi dalang itu berat bebannya),” kata Enthus. Ketika itu dia tak begitu mengerti makna ucapan sang ayah. Seiring berjalannya waktu, ia mulai memahami maksud sang ayah. Katanya, hal paling pokok yang sering terjadi pada dalang adalah manajemen keuangan yang salah. Dalang sering menggunakan manajemen ayam, yaitu langsung menghabiskan uang yang diperolehnya. Oleh karena itulah, ayahnya tak ingin Enthus menjadi dalang. Dia diharapkan belajar sampai perguruan tinggi agar mempunyai bekal hidup cukup. Namun, sejak masih kecil ia justru sering mencuri kesempatan memainkan wayang milik ayahnya. ”Saya memainkan wayang kalau ayah saya sedang tidur, seusai pentas. Kalau beliau bangun, semua perlengkapan sudah saya rapikan lagi,” ujarnya. Disindir guru Semangat Enthus untuk menggeluti dunia wayang terusik ketika ia disindir salah seorang gurunya. Saat itu ia duduk di bangku SMP Negeri 1 Tegal. Gurunya mengatakan, sebagai anak dalang kok dia tak bisa memainkan gending. Merasa tertantang, ia lalu mengikuti kegiatan ekstra kulikuler karawitan. Enthus dibimbing gurunya, Prasetyo. Menurut dia, ilmu dari gurunya itu yang menjadi dasar kemahirannya memainkan gamelan dan mendalang. ”Bisa dikatakan, ilmu itu yang membuat saya bisa makan sampai sekarang,” tuturnya. Berkat latihan rutin karawitan, Enthus menjadi mahir memainkan kendang, hingga ia dijuluki teman-teman sebagai Enthus tukang kendang. Lulus SMP, ia bisa memainkan kendang untuk mengiringi tari Eko Prawiro. Selepas SMPN 1 Tegal, ia melanjutkan belajar di SMAN 1 Tegal. Saat duduk di bangku SLTA inilah, ia mulai mendalang. Ini berawal dari acara lomba karya penegak pandega dalam kegiatan ekstra kulikuler pramuka. Enthus mendalang menggunakan wayang dari batang pohon pisang, dengan gamelan cangkem (suara mulut). Layar atau geber diikatkan pada tongkat pramuka yang dipegangi teman-temannya. ”Lampu untuk penerangan dengan obor. Wayang yang dimainkan Punokawan,” ceritanya. Ternyata pentas sederhana itu mendapat sambutan para guru dan teman-temannya. Sejak itu ia sering diminta mendalang pada acara pramuka di sekolah-sekolah lain. Melihat potensi Enthus dalam dunia pewayangan, salah seorang guru SMA-nya, Marwadi, mendatangi ayah Enthus untuk memintakan izin agar anak itu diperbolehkan mendalang. Dari sinilah hati ayahnya luluh, bahkan membuatkan geber kecil untuknya. Untuk latihan ia membuat wayang dari kertas yang diwarnai dengan cat air. Saat lustrum V SMAN 1 Tegal pada 24 Agustus 1983, Enthus diminta mendalang selama dua jam. Ketika itu sang ayah menyaksikan pementasannya. Setelah itu, tak hanya mengizinkan, ayahnya pun mewisuda Enthus sebagai dalang di hadapan warga setempat. ”Dia hanya berpesan agar saya memahami pakem kehidupan lebih dulu, sebelum belajar pakem wayang,” katanya. Sejak itu, Enthus menjadi dalang yang sesungguhnya. Ia kerap diminta pentas di balai desa dan acara hajatan. Ekonomi keluarga Februari 1984, Soemarjadiharja wafat dalam usia 55 tahun, karena sakit. Ketika itu Enthus duduk di kelas II SMA. Kepergian sang ayah mengakibatkan ekonomi keluarga itu terseok-seok. Enthus pun mengambil alih peran sebagai kepala keluarga, untuk menghidupi ibu dan membiayai sekolahnya. Ia juga harus menghidupi 11 anak pungut sang ayah. Jadilah dia bersekolah pada pagi hari, dan malamnya mendalang untuk mendapat penghasilan. Selepas SMA ia diterima di Jurusan Biologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo lewat jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK). Mengingat keterbatasan dana, kesempatan itu tak diambilnya. Ia juga mendaftar di Akabri, tapi tak diterima. Memanfaatkan relasi sang ayah, Enthus terus mendalang. Ia pernah menjadi pembuat minuman di Akademi Seni dan Karawitan Indonesia (ASKI) Solo selama 1984-1986. Di sini pula ia belajar banyak hal dengan melihat bagaimana mahasiswanya berlatih. ”Di sini (ASKI), saya ketemu Pak Bambang Suwarno. Dia dosen yang mengajari saya menggambar,” kenangnya. Nama Enthus berkibar setelah ia memenangi Festival Dalang Remaja Tingkat Jawa Tengah di Wonogiri tahun 1988. Ia juga terus berkreasi mengembangkan berbagai jenis wayang, sampai wayang Rai Wong. Wayang Rai Wong dia buat untuk mengenalkan wayang klasik kepada orang yang baru mengenal wayang. Enthus mengakui, sebagai dalang ia tak terikat pakem sehingga dalam pementasan lebih sering menyesuaikan pada situasi dan suka memakai bahasa sehari-hari. Hal itu dia lakukan sejak awal mendalang, mengingat banyak orang yang menjadi tanggungannya. ”Jadi, wayang saya harus laku. Kalau ikut pakem, saya ada di urutan ke berapa?” tambahnya. Namun, justru dari kondisi seperti itulah Enthus merasa lebih bebas bereksplorasi. Sanggar Satria Laras yang dikelolanya pun makin berkembang, dengan lebih dari 200 orang terlibat di dalamnya.

sumber : kompas cetak

Zuckerberg, Si Pembuat Facebook

Sabtu, 28 Februari 2009 | 00:09 WIB

Lebih dari seratus juta warga dunia kini keranjingan dengan jaringan sosial di dunia maya, Facebook.com. Lewat situs ini pengguna dapat memperluas pertemanan lintas benua, bahkan kembali ”bertemu” dengan kawan-kawan atau pacar lama yang tidak terlihat lagi seusai perpisahan sekolah. Presiden AS Barack Hussein Obama bahkan memanfaatkan situs ini sebagai salah satu cara untuk meraih dukungan dalam Pemilihan Presiden AS, tahun lalu. Inilah buah karya Mark Elliot Zuckerberg, seorang keturunan Yahudi AS, salah satu dari tiga pendiri Facebook. Mengapa Facebook melejit? Pakar teknologi informasi, Dr Linda M Gallant, Asisten Profesor dari Emerson College, Boston, memberi penjelasan, ”Situs internet umumnya menyajikan informasi dan para penjelajahnya hanya menerima apa adanya. Sekarang ini para penjelajah ingin berpartisipasi sebagai pengisi situs. Facebook memenuhi hasrat itu.” Mengapa Facebook mengejar My Space, situs jaringan sosial terbesar pertama di dunia sebelum April 2008? Keadaan bahkan sudah berubah, Facebook tidak lagi nomor dua sebagaimana ditulis di situs Techcrunch. Situs Mashable (The Social Media Guide) menyatakan, desain Facebook lebih enak dilihat dan dijelajahi serta menawarkan hal-hal yang lebih riil. Sebagai contoh, Facebook menawarkan orang lain yang kira-kira Anda kenal untuk di-add (ditambahkan) jadi teman. My Space juga menyodori Anda beberapa teman, tetapi termasuk menyodori orang-orang dari negeri antah berantah menjadi teman. Apa pun latar belakang kemajuan Facebook, nama Zuckerberg sudah melejit ke seluruh dunia seperti meteor. Banyak pengguna Facebook yang merupakan orang-orang elite dunia. Facebook juga menjadi sarana komunikasi para karyawan Toyota, Ernst & Young, dan perusahaan kaliber dunia lainnya. Siapa Zuckerberg? Dia adalah pemuda berusia 25 tahun dan masih singel, perancang teknologi informasi sekaligus pemuda berjiwa wiraswasta. Saat belajar di Harvard University pada tahun 2004, dia menciptakan Facebook bersama kawannya, Dustin Moskovitz dan Chris Hughes. Hughes kemudian direkrut Obama saat masih menjadi calon presiden untuk membuat situs barackobama.com. Di Facebook, Zuckerberg bertanggung jawab untuk urusan garis kebijakan umum dan penyusunan strategi perusahaan yang kini menjadi rebutan para pemasang iklan dan para investor. Zuckerberg telah mendapat julukan sebagai ”salah satu orang yang paling berpengaruh pada tahun 2008” versi majalah Time. Pada Forum Ekonomi Davos 2009, Zuckerberg termasuk dalam daftar pemimpin muda karena prestasi dan komitmen terhadap masyarakat serta berpotensi menyumbangkan ide untuk membentuk tatanan dunia baru. Pemuda itu tampil dalam sesi ”Pengalaman Digital Mendatang” pada Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss. Peserta lain yang hadir antara lain Chad Hurley (YouTube), Craig Mundie (Microsoft), Shananu Narayen (Adobe), Hamid Akhvan (T-Mobile), dan Eric Clemmons (Wharton). Salah satu poin menarik yang diberikan Zuckerberg adalah bahwa lebih dari 100 juta orang secara aktif menggunakan aplikasi bergerak pada Facebook. iPhone Facebook saja telah memiliki 5 juta pengguna aktif bulanan dan Blackberry untuk Facebook memiliki 3,25 juta pengguna aktif bulanan. Kiprah Zuckerberg lewat Facebook melesat seperti roket. Pada Februari 2004 ketika Zuckerberg meluncurkan program itu, para siswa di AS langsung membuka akun di Facebook dan dari mulut ke mulut menyebar hingga merambah ke sekolah dan universitas lain. Zuckerberg dan timnya pun kemudian pindah ke Palo Alto, California, dan mulai merangkul investor, seperti pendiri PayPal, Peter Thiel, dan pendiri Napster, Sean Parker. Pada Agustus 2005 Zuckerberg secara resmi menamakan perusahaannya Facebook. Setelah berhasil mengumpulkan modal 12,7 juta dollar AS, dia mengembangkan perusahaan ke level berikutnya. Situs itu secara bertahap dan konsisten terus memperluas jaringan. Saat ini ada lebih dari 175 juta pengguna aktif dengan berbagai fasilitas yang ada di situs itu. Facebook kini menjadi situs keempat yang paling sering dikunjungi di dunia. ”Pencuri” Tentu saja sukses Zuckerberg dibarengi dengan kontroversi. Beberapa teman sekolahnya menuduh dia mencuri ide ConnectU untuk Facebook. Namun, gugatan soal itu ditepis pengadilan. Dia menyebabkan kehebohan karena dianggap ”menjual” data-data pribadi pemilik akun, tanpa menghargai privasi. Pada tahun 2006 Zuckerberg mencengangkan dunia karena menampik tawaran Yahoo untuk membeli Facebook seharga 1 miliar dollar AS (atau sekitar Rp 12 triliun). Setahun kemudian, Microsoft membeli 1,6 persen saham Facebook seharga 240 juta dollar AS. Kini nilai ekonomi Facebook ditaksir sebesar 15 miliar dollar AS. Zuckerberg yang lahir dari keluarga dokter yang kaya memiliki 20 persen saham di Facebook senilai 3 miliar dollar AS. Majalah Forbes mendeklarasikan Zuckerberg sebagai miliuner ”self made” termuda di planet ini. Namun, jangan tanyakan perihal kehidupan pribadinya, tidak banyak yang diketahui. Maklum, ketika di SMA pun dia sudah berkutat dengan urusan komputer. Ketika itu dia ingin membantu jaringan yang dimiliki ayahnya untuk dipertemukan lewat dunia maya. Kebiasaan ini terus melekat dan dia lupa belajar. Karena urusan komputer dan teknologi informasi inilah dia drop-out dari Harvard. Entah iseng atau tidak, Facebook kini kebanjiran uang. ”Mengherankan juga, begitu banyak tawaran datang,” kata Zuckerberg kepada Techcrunch pada 7 Desember 2008. Tidak banyak kalimat lain dari Zuckerberg selain ambisinya terus membuat Facebook senyaman mungkin untuk jadi alat penyatu warga dunia. ”Bukankah kami memiliki situs, yang membuat Anda merasa lebih enak menggunakannya?” ujar Zuckerber. Hmmm…. Zuckerberg, iya deh!

sumber : kompas cetak

Sapto Hidup dari Biola

Rabu, 24 Desember 2008 | 03:13 WIB

Jimmy S Harianto

Alunan biola menyusup di telinga dari paviliun rumah Sapto di Bekasi, suatu Minggu lepas magrib. Bukan Sapto yang main, tetapi Fafa (9), anaknya. Ia memainkan partitur sungguhan, Concerto No 23 karya GB Viotti, dengan iringan musik komputer dalam tempo alegro.

Meskipun masih bermain tanpa vibrasi, si kecil Fafa sudah cukup cermat membidik nada dengan jari-jemarinya di biola. Tidak false. Pada kesempatan lain, Sapto berduet dengan anak sulungnya itu, disaksikan sang adik, Lala (6).

Di paviliunnya yang sederhana itu, Sapto juga menerima murid privat, di samping juga berlatih sendiri untuk mempersiapkan diri jika mendapat permintaan main dari Twilite Orchestra (pimpinan) Adhie MS, Erwin Gutawa Orchestra, ataupun Magenta Orchestra.

Akan tetapi, bukan permainan biola Sapto yang menarik. Maklumlah, meski ia pemain biola profesional yang sering diminta memperkuat berbagai orkestra, ia tak se-virtuoso Idris Sardi, misalnya.

Sapto lebih hebat sebagai pembuat biola berkualitas konser dan reparator (ahli reparasi) biola-biola bermerek terkenal—mulai dari buatan Carletti Carlo (Italia) sampai biola-biola tipe terkenal Stradivari, Guarneri, Guadagnini, Jacobus Steiner, ataupun biola-biola bikinan keluarga Klotz dari Jerman.

Sejak sekolah

”Saya sudah bikin biola sejak di SMM (sekolah menengah musik) di Yogyakarta, sejak usia 16 tahun,” tutur Sapto yang sejak kecil memang terampil membuat sendiri permainan masa kecilnya, mulai dari ketapel sampai mobil-mobilan. (Ayah Sapto, Sipon Pawiroleksono, adalah seorang sopir angkutan beras antarkota).

Mula-mula sering mengutak-atik dan mereparasi biola-biola milik SMM yang rusak (umumnya bikinan luar negeri), lama-lama Sapto pun ”meniru” bikin biola, dengan mal (contoh) biola-biola yang direparasinya. Dari kopian biola Strad, sampai biola-biola bagus bikinan Belanda milik sekolahnya.

Ada lima buah biola yang ia bikin semasa sekolah, tiga di antaranya sampai kini dipakai oleh kalangan keluarganya. Sampai suatu ketika, tahun 2000, ia bertemu seorang pemain biola berkebangsaan Jerman, Barbara Meyer (kini tinggal di Spanyol), yang kebetulan punya keahlian sebagai reparator biola dan juga cello.

”Setahun penuh saya belajar sama Barbara, bikin biola dan mereparasi. Ia tertarik sekali dengan biola-biola bikinan saya dan membelikan buku-buku tentang pembuatan biola sehingga saya bisa pelajari lebih dalam anatomi tentang biola-biola Amati, Stradivari, Guarneri, Steiner, dan sebagainya.”

Sebenarnya Sapto juga sudah mulai mendalami pembuatan dan reparasi biola bersama seorang guru sekolah musik bernama Grace Sudargo, tiga tahun sebelum bertemu Barbara (1997). Sapto juga sering diminta membantu dosennya di ISI, Kristianto Christinus, yang juga memiliki keahlian sebagai pembuat biola dan ahli reparasi biola.

Dari Grace Sudargo—yang pernah membeli biola bikinan Sapto seharga Rp 4 juta (1997)—Sapto banyak mendapat kesempatan mengenal anatomi biola-biola terkenal. Itu berkat kebaikan hati Grace membelikan beberapa edisi majalah Strad, majalah yang berisi berbagai anatomi rinci—dalam ukuran sesungguhnya—berbagai biola terkenal dunia.

Buat kawin

Hasil penjualan biola ia tabung, sampai suatu ketika, kata Sapto, ia gunakan untuk biaya menikahi istrinya kini, Yenny Priyastuti—penari lulusan IKIP Yogyakarta di Karangmalang pada 1999.

Tak hanya Barbara dan Grace yang membesarkan kemampuan Sapto membuat dan mereparasi biola. Juga ketika Sapto bertemu dengan Mr Charles (ia lupa nama belakangnya) tahun 2005, pemain biola di London Symphony Orchestra. Charles menyediakan buku-buku tentang pembuatan biola, di antaranya yang paling berharga adalah The Art of Violin Making terbitan Hale, London (1999).

Tabungan Sapto pun semakin ”menebal” ketika Wence Singson—seorang Filipina yang memiliki hobi mengumpulkan biola-biola tua—sering mereparasikan biola-biola temuannya kepada Sapto. Juga ketika mantan petinggi Astra, Ridwan Gunawan yang kolektor biola, sering pula mereparasikan biola-biola koleksinya.

Guru biola dan juga dirigen orkes, Adidarma, bahkan juga ikut menyumbang Sapto dengan berbagai alat reparasi biola, yang semua tentunya tak bisa didapat di dalam negeri, seperti alat-alat pengerat putaran senar dan klem-klem khusus untuk merekatkan lem biola.

”Yang pasti, saya sepenuhnya hidup dari biola, termasuk ketika membeli rumah dan mobil ini,” ungkap Sapto tentang rumahnya yang nan jauh di Villa Nusa Indah Bekasi dan mobil sedan mungilnya kini.

Harga biola bikinan Sapto sekarang? ”Terakhir, laku dijual sekitar Rp 20 juta,” tuturnya tentang biola bikinan terakhirnya. Jika selama ini Sapto selalu menggunakan kayu impor khusus untuk membikin biola, belakangan dia juga mencoba menggunakan kayu lokal yang karakternya kurang lebih serupa.

sumber : kompas cetak edisi 24 desember 2008

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.