Archive for November, 2008|Monthly archive page

Andri Fajria, “Raja Kambing Jabodetabek” dari ITB

LATAR BELAKANG

Diawali oleh keinginan berbuat sesuatu untuk masyarakat kota Tangerang, pada bulan April 2004 saya mengumpulkan beberapa orang teman praktisi usaha mikro (pedagang sembako, pedagang buah, pemilik kantin di sekolah – sekolah, penjual buku, dll). Kota Tangerang merupakan kota industri di mana banyak terdapat pabrik. Akan tetapi pada saat itu ada beberapa pabrik yang mulai tutup, sehingga banyak buruh yang semakin resah. Maka tidak ada jalan lain kecuali mendorong masyarakat ke arah kewirausahaan. Maka kami mendirikan lembaga inkubator bisnis bernama ”Lembaga Pengelolaan, Pembinaan dan Pengembangan Wirausaha (LP3W) HARMONIA”. Kegiatannya berupa seminar – seminar kewirausahaan setiap bulan sekali. Akan tetapi setelah 3 bulan berjalan, kami evaluasi, ternyata hasilnya kurang memuaskan karena hanya memberikan motivasi berbisnis, namun tidak menjelaskan ”how to make and run a business”. Maka kami kemudian membuat training bisnis yang pertemuannya setiap pekan, dengan mengundang para praktisi bisnis. Alhamdulillah, peserta sangat antusias mengikutinya.

Selanjutnya, agar tidak hanya dikenal sebagai lembaga pelatihan bisnis saja, atau malah membisniskan pelatihan kewirausahaan, maka kami kemudian membuat unit – unit usaha, seperti : event organizer, handphone, panel listrik, kursus bahasa inggris, digital printing, dll.

Sementara itu, Secara periodik Kami bersilaturrahmi kepada orang – orang yang kami anggap pakar dalam bisnis, untuk berguru kepada beliau. Salah satu yang kami temui adalah Rhenald Khasali dari UI. Kami memperkenalkan diri dan memberikan profil lembaga Kami, sambil meminta kesediaan beliau menjadi pembina Kami. Ketika membaca profil LP3W Harmonia, beliau berkomentar : ” Saya punya sebuah pohon mangga di depan rumah. Sudah bertahun – tahun saya tanam dan daunnya sangat lebat. Akan tetapi belum pernah berbuah. Maka suatu saat saya papas daun – daunnya, dan hanya menyisakan beberapa lembar … eh malah dia berbuah !!! Jadi tidak bisa seperti ini, Dik …bisnisnya terlalu melebar. Sebaiknya pilih satu usaha, fokuskan itu !! Pasti hasilnya akan lebih baik dibandingkan melebar ke banyak bidang.”

Setelah itu Kami berkumpul untuk membahas masukan dari Pak Rhenald tersebut. Mengingat idealisme awal kami membangun LP3W Harmonia adalah untuk membangun masyarakat (pengusaha mikro), maka untuk sementara kami lupakan semua bidang yang agak – agak ”High Tech” dan kami pilih usaha yang dianggap bisnis pinggir jalan/kaki lima, yaitu bisnis kambing. Dengan harapan kami bisa membuat contoh usaha bisnis kambing yang berhasil dan kemudian mengangkat ”gengsi” dan taraf hidup peternak kambing. Kami memulai usaha ini pada bulan Februari 2006.

PEMASARAN

Dalam memasarkan kambing aqiqah, Kami tidak menggunakan cara – cara yang biasa seperti beriklan di koran dan majalah, melainkan melalui :

  1. Memasang mini banner di pohon – pohon.
  2. Bekerjasama dengan rumah sakit dan bidan.
  3. Memberikan voucher discount aqiqah sebagai souvenir pernikahan.

Dengan strategi pemasaran tersebut, alhamdulillah penjualan kambing aqiqah kami menjadi salah satu yang terbesar di Jabodetabek, sehingga tidaklah berlebihan kalau kami mengklaim sebagai ”Raja Kambing Jabodetabek”, dengan beberapa ”prestasi lain” seperti :

  1. Pernah secara rutin supply untuk PT Widodo Makmur untuk ekspor ke Malaysia.
  2. Pernah supply para pedagang daging kambing di beberapa pasar secara rutin 100 ekor per hari.
  3. Profil kami pernah dimuat di majalah ”Pengusaha” edisi Agustus 2006.
  4. Terpilihnya saya sebagai ketua umum Himpunan Peternak Domba & Kambing Indonesia (HPDKI) DPD Banten makin memperkuat image ”Raja Kambing”.
  5. Salah satu penjual hewan qurban terbesar di Jabodetabek, yaitu 1.500 ekor kambing dan domba.
  6. Menjadi pelaksana teknis ”AQIQAH MASSAL” yang diadakan oleh minyak telon cap lang, yaitu menyembelih kambing aqiqah 200 ekor (rekor MURI)–> iklan Commercial Ad di TV selama bulan Ramadhan. Versi lebih lengkap ditayangkan dalam “RAHASIA SUNNAH” di Trans TV

PERMODALAN

Usaha ini kami mulai dengan modal Rp 15 juta, yaitu untuk sewa tempat, membangun kandang dan membeli beberapa ekor kambing sebagai modal awal. Untuk mengatasi keterbatasan modal, kami sering mengajak teman – teman yang memiliki kemampuan finansial untuk membiayai ”proyek – proyek jangka pendek” (seperti supply kambing untuk ekspor) dengan sistem bagi hasil.

Pada Idul Qurban di akhir tahun 2006, usaha kami mendapat kucuran dana dari Koperasi Karyawan Awak Pesawat Garuda (KOAPGI) sebesar Rp 120 juta. Setelah selesai Idul Qurban dan pinjaman dikembalikan, KOAPGI memberikan lagi pinjaman Rp 200 juta untuk jangka waktu 1 tahun (s/d Februari 2008). Pinjaman tersebut Kami manfaatkan untuk menyewa lahan yang lebih luas dan lebih strategis serta membangun kandang yang lebih besar. Sebagian dana tersebut Kami manfaatkan juga untuk biaya promosi.

Setelah 2 tahun menjalankan usaha ini, rupanya ada beberapa investor yang melirik usaha kami dan ingin bergabung. Alhamdulillah setelah itu kami bisa membuka peternakan di Balaraja dan Rangkasbitung. Untuk meningkatkan penjualan, bulan lalu kami mengajukan Kredit Usaha Rakyat ke Bank Syariah Mandiri (BSM) Rp 500 juta untuk jangka waktu pengembalian 5 tahun. Akan tetapi sayangnya ditolak hanya karena saya memiliki kartu kredit (salah satu kriteria penerima KUR adalah tidak pernah menerima bantuan Bank, termasuk kartu kredit).

BADAN HUKUM

Pada saat memulai usaha ini, Kami belum memiliki payung usaha sama sekali, dan itu berlangsung kira – kira 1 tahun. Setelah melewati tahun pertama dengan selamat, maka kami membuat CV Harmonia Adil Mandiri. Kami berharap dengan memiliki CV, kami terpacu untuk bekerja secara lebih profesional. Alhamdulillah saat ini (September 2008) Kami bahkan dalam proses meningkatkan lagi menjadi PT Harmonia Saga Makmur.

TEKNOLOGI

Ada sedikit rasa bersalah yang menghantui diri saya karena memilih dunia yang tidak berhubungan dengan latar belakang pendidikan saya. Alhamdulillah Allah SWT mendengar suara hati kecil saya dan memberikan peluang lewat kenaikan harga BBM. Saya memiliki unit usaha catering yang mensupport penjualan kambing aqiqah, karena hampir 90% pelanggan minta kambing tersebut dimasak. Tadinya kami menggunakan minyak tanah. Ketika pemerintah membatasi minyak tanah dan menggantinya dengan gas LPG, harga minyak tanah meroket dari Rp 2.000 menjadi Rp 6.000/liter. Maka kami terpaksa mencari alternatif bahan bakar lain. Kami akhirnya mengembangkan bio gas dari kotoran kambing sebagai bahan bakar memasak. Dalam waktu dekat kami akan mengembangkannya untuk sumber listrik.

CITA – CITA

Sesuai dengan idealisme awal kami, yaitu mendorong masyarakat untuk berwirausaha, saat ini Kami cukup sering berbagi pengalaman, baik dengan sesama peternak, calon pensiunan, mahasiswa yang menjelang lulus, dll. Selain itu Kami membentuk kelompok peternak SAGA MAKMUR yang diresmikan oleh wakil bupati Tangerang H Rano Karno pada tanggal 13 Juli 2008. Selanjutnya kami juga mendirikan Koperasi Peternak SAGA MAKMUR yang diresmikan oleh Mentri Koperasi H Suryadarma Ali pada tanggal 8 Agustus 2008 pada saat puncak peringatan hari koperasi di Kabupaten Tangerang.

Setelah Idul Fitri, Kami berencana bekerjasama dengan anggota koperasi dalam memelihara hewan qurban untuk keperluan Idul Qurban tahun ini. Target penjualan kambing dan domba pada tahun ini adalah 2.250 ekor.

Pada awal tahun 2009, Kami akan mulai membuat usaha – usaha yang mendatangkan nilai tambah (Added Value), yaitu membuat kerajinan kulit, tulang, tanduk dan bulu, membuat usaha bakso kambing keliling, dan rumah makan kambing. Bila sesuai dengan rencana, pada tahun 2010 Kami akan mendirikan pabrik pengolahan kambing, dan pada tahun 2011 kawasan peternakan kami di Balaraja akan menjadi agrowisata khusus kambing, dimana pengunjung bisa melihat peternakan kambing, minum susu kambing, makan daging kambing olahan dan membeli souvenir kerajinan kambing.

PENUTUP

Demikianlah sekelumit cerita dari seorang alumni ITB yang terdampar di dunia peternakan namun memiliki cita – cita tinggi untuk mengembangkan dunia yang belum dilirik para pemodal besar ini.

sumber : milis Kalam Salman ITB

Pergerakan Mahasiswa 2.0

Modal pergerakan mahasiswa diatas harus dikuasai, karena itu adalah modal minimal. Meskipun itu semua tidak cukup ketika kita bergerak di era dunia datar dengan perkembangan internet dan web yang semakin pesat yang saat ini menuju ke generasi kedua (Web 2.0).

Barrack Obama tidak hanya mengandalkan tim suksesnya secara penuh ketika mengupload video pidato dan kampanye lewat YouTube, tapi sebagian diupload oleh para pemilihnya dengan sukarela. Inilah keindahan user-generated content. Influence tactics ala Web 2.0 ini saya yakin bisa dimanfaatkan oleh aktifis pergerakan mahasiswa, sehingga berbagai opini yang kita keluarkan akan lebih bergema, lebih luas dipahami masyarakat, dan wacana ini akan banyak dinikmati mahasiswa lain karena mahasiswa adalah pengakses Internet di Indonesia yang terbesar. Ingat menurut InternetWorldStats. com pengguna Internet di Indonesia mencapai 20 juta, dan menurut APJII bahkan 28 juta. Pengguna Internet di Indonesia bahkan lebih banyak daripada Spanyol atau negara tetangga kita yang ada di Asia. Tidak ada oplah media massa di Indonesia yang melebih angka 20 atau 28 juta, kecuali TV tentunya yang menurut berbagai data mencapai angka 40 juta.

Kalau boleh saya gambarkan, pergerakan mahasiswa generasi kedua alias 2.0 saya pikir akan seperti gambar di bawah.

pergerakanmahasiswa2.jpg

· Tebar Keshalehan Sosial dan Kreatifitas Maya. Ini adalah sumbangan besar mahasiswa plus sebagai solusi nyata untuk masyarakat. Efek langsungnya mungkin ke pengguna Internet, tapi efek tidak langsungnya bisa ke masyarakat yang bahkan tidak mengenal Internet. Misalnya, download materi IlmuKomputer. Com mungkin hanya bisa dilakukan oleh pengguna Internet. Tapi ilmu pengetahuan yang ada di dalamnya dapat dimanfaatkan oleh dosen dan guru untuk mengajar anak didik yang berada di berbagai pelosok tanak air.

· Lakukan Image Branding Lewat Dunia Maya. Sekali lagi dengan 20-28 juta penguna, Internet adalah media massa yang paling efisien dan efektif untuk melakukan marketing dan branding baik untuk personal maupun organisasi.

· Webpreneurship. Arah entrepreneurship yang sudah kita pupuk sebelumnya, mungkin bisa dikembangkan ke arah technopreneurship, khususnya webpreneurship. Organisasi pergerakan mahasiswa bisa membangun lini bisnis yang memikirkan berbagai bisnis model yang menarik, dan dari sinilah operasional organisasi dibiayai. Kemandirian finansial ini adalah teladan yang baik bagi masyarakat, membuat teriakan lantang kita tentang pembebasan kemiskinan dan kemandirian bangsa menjadi bermakna. Mengemis dana dari para pejabat, mentri maupun institusi pemerintah atau swasta, sebenarnya membuat rantai ikatan yang mengakibatkan organisasi kita tidak independen lagi. Pada saat memimpin PPI Jepang, saya juga berkonsentrasi ke kerjasama bisnis dengan berbagai perusahaan penerbangan, perusahaan telepon seluler dan bahkan perusahaan elektronik yang punya pasar ke Indonesia.

· Tebar Pengaruh Lewat Tulisan di Blog. Lanjutkan influence tactic yang sudah kita lakukan di media massa cetak, ke arah blogging di Internet. Bahkan ketika objek yang kita bidik adalah pelajar di level SMA dan kebawah, gunakan layanan social networking semacam Friendster yang pengguna di level itu sangat besar. Ingat, Indonesia pengguna Friendster nomor tiga sedunia.

· Fokus di Core Competence. Ini yang mahasiswa kita sering lupakan. Jurusan yang kita pilih di kampus seolah-olah bagaikan bidang garapan sampingan. Jurusan computing yang kita pilih, tidak membuat kita fasih berbicara tentang statistik pornografi di Internet ketika kita beraudiensi tentang RUU Antipornografi. Jurusan ilmu kehutanan yang kita geluti, juga seolah-olah tidak bermakna karena kita malah mengkritik sisi lain, ketika berteriak lantang tentang masalah kerusakan hutan kita, penebangan hutan yang liar atau monopoli pemanfaatan hutan oleh perusahaan. Jurusan sosial politik yang kita geluti, juga kadang tidak membuat kita fasih berbicara tentang teoritika dan strategi politik atau komparasi sistem politik kita dengan negara lain. Wahai aktifis mahasiswa, konsisten di kompetensi inti adalah jalan yang luruk, bijak dan bertanggungjawab. Jangan pernah mengatakan hal yang tidak kita kuasai permasalahannya, karena itu membuat kita dan segala sesuatu yang kita sampaikan terasa hampa.

· Leadership di Komunitas Maya. Buktikan bahwa leadership kita di dunia nyata juga terbukti di dunia maya. Bangun komunitas, pimpin pergerakan komunitas maya, sebagai penambah dukungan pergerakan kita di dunia nyata.

Terakhir, tiga pesan saya untuk para aktifis pergerakan mahasiswa.

1. Perdjoeangan yang mahasiswa lakukan adalah untuk memberi manfaat bagi rakyat. Semua itu bukan bertujuan untuk jalan kita menuju senayan (menjadi anggota DPR), jalan kita menjadi pejabat, jalan kita mendapatkan uang secara instan, atau jalan-jalan berpamrih lain yang membuat kita tidak ikhlash

2. Ucapan menjadi bermakna ketika kita juga bergerak melakukan perubahan dan memberi contoh yang nyata. Think globally but act locally.

3. Kembalikan perdjoeangan ke karakter dan kredo mahasiswa yang sebenarnya. Mahasiswa adalah akademisi, pemikir muda, intelektual muda, entrepreneur muda dan agen perubahan bangsa. Baca kembali dengan detail semua visi, misi dan kredo organisasi pergerakan mahasiswa kita, pasti selalu menyebut masalah intelektualitas, jiwa pemikir dan kekuatan akademik lain. Karena itulah akar dan dasar kita bergerak.

Tetap dalam perdjoeangan!

penulis : Romi Satria Wahono

“Curhat” dan Sketsa Kehidupan Tita Larasati

Jumat, 28 November 2008 | 03:00 WIB

FRANS SARTONO

”Curhat /choor-hat/ singkatan dari curahan hati.” Begitu Tita Larasati memberi catatan pada kata pengantar karyanya, Curhat Tita. Ini adalah catatan harian grafis yang berbentuk serupa komik . Curhat, dan catatan kehidupan dalam bentuk sketsa itu menjadi komik alternatif yang mengajak pembaca untuk melihat dunia nyata secara lebih dekat.

Tita Larasati (36) adalah ibu dengan dua anak bernama Dhanu (7) dan Lindri (5). Setiap pagi, doktor lulusan Universitas Teknologi Delft, Belanda, 2007, itu mengantar anak-anaknya ke sekolah menggunakan angkot, alias angkutan kota. Setelah itu, ia mengayuh sepeda ke tempatnya mengajar di Jurusan Desain Produk Institut Teknologi Bandung (ITB).

Dari rumahnya di kawasan Kanayakan, Dago, Bandung, Jawa Barat, Tita mula-mula harus menuntun sepeda karena jalan di kampung menanjak tajam. Selepas itu, ia tak perlu mengayuh karena jalan menurun terus menuju Kampus ITB di Taman Sari. Tita akan melesat di tengah jalanan Bandung yang penuh mobil angkot atau angkutan kota serta sepeda motor. Ia akan melewati penjaja serabi, nasi kuning, hingga bubur ayam di sekitar Simpang Dago.

Setelah dari kampus, ia harus bekerja keras mengayuh sepeda pulang ke rumah yang menanjak terus. Ketika ia sedang terengah- tengah mengayuh itu, sering terdengar sapaan ramah dari orang di sepanjang jalan. Enggak capek neng!” Atau juga godaan yang agak iseng, seperti ”Eeeh… awas itu rodanya muter!”

”Dari hari ke hari segala teriakan seperti itu terdengar,” begitu bernama lengkap Dwinita Larasati itu mencatat ”ritual” paginya dalam Curhat Tita, sebuah buku harian grafis atau graphic diary terbitan CV Curhat Anak Bangsa, Bandung, Maret 2008.

Bentuk catatan ini bisa disebut sebagai komik, tanpa alur cerita. Buku itu berisi catatan kehidupan sehari-hari Tita dalam sketsa. Ia menggambarnya dengan pena Pilot Gel –I warna hitam. Cetakan pertama sebanyak 3.000 eksemplar kini tinggal tersisa ratusan buku. Pekan ini di Bandung, Tita akan meluncurkan lanjutan diary grafisnya berjudul Curhat Tita Back in Bandung.

Judul itu merujuk pada keberadaan kembali Tita di Kota Bandung setelah sepuluh tahun lebih tinggal di Belanda. Tita kembali ke ITB, almamaternya, untuk mengajar di jurusan Desain Produksi. Perempuan kelahiran Jakarta tahun 1972 itu kuliah di jurusan Desain Produksi, 1991. Tahun 1998 ia ke Belanda untuk melanjutkan studi program S-2 dan S-3 hingga mendapat gelar doktor di Universitas Teknologi Delft tahun 2007. Di Amsterdam, dia menikah dengan Sybrand Zijlstra yang berdarah Belanda. Tahun 2007 itu juga keluarga Tita boyongan ke Bandung berikut dua anak mereka.

Keseharian keluarga itu menjadi catatan menarik dalam Curhat Tita Back in Bandung. Tercatat dalam buku itu antara lain tentang anak-anaknya yang beradaptasi di negeri tropis. Misalnya tentang keheranan Dhanu tentang kulitnya yang tak juga berubah sawo matang setelah sebulan tinggal di Indonesia. Atau juga pengalaman naik angkot yang bagi anak-anak itu merupakan petualangan mengasyikkan. Sebab untuk pertama kali dalam hidup, mereka naik mobil dengan pintu terbuka.

Kartunis Dwi Koendoro mencatat garis skets dan teks Tita sebagai ceria, nakal, dan menggelikan. ”Kita diajak naik angkot, berlomba naik sepeda bersama keluarganya…,” kata Dwi Koen di sampul belakang Curhat Tita Back in Bandung.

Tidak untuk pasar

Catatan harian dalam bentuk sketsa itu dibuat Tita layaknya orang mengisi buku harian. Hanya saja, Tita membuatnya tidak dalam tulisan, tetapi sketsa. Catatan bergambar itu dibuat Tita secara spontan, langsung, tanpa rancangan dengan pensil terlebih dulu. Di dalamnya tercatat proses persalinan dari menit ke menit, termasuk detik-detik kontraksi. Atau juga ketika Tita jijik saat kejatuhan cicak. Catatan harian itulah yang menjadi materi Curhat Tita dan buku lanjutannya.

”Isinya asli, plek (sama persis), dengan diary yang saya buat. Kalau ada tulisan salah, ya dibiarkan salah, tidak dihapus,” kata Tita sambil menunjukkan sembilan buku harian berisi ratusan halaman dengan ribuan coretan. Ia juga menunjukkan ratusan kertas ukuran A 4 yang berisi penuh sketsa.

”Jadi, saya membuat ini tidak untuk menyenangkan pasar. Ketika saya menggambarkan semua itu, saya hanya mencatatkan apa yang saya alami setiap hari. Ini seperti ketika orang lain membuat puisi atau lagu,” kata Tita di rumahnya yang teduh yang dirancang oleh arsitek yang adalah ayahnya sendiri.

Ayah dan ibu Tita adalah arsitek sehingga sejak kecil ia dekat dengan dunia corat-coret. Dia juga tumbuh dengan komik seperti Asterix, Tintin, Trigan, plus komik dari Eppo, majalah komik dari Belanda. Ia juga mengenal komik wayang jenis Mahabarata dari RA Kosasih yang merupakan bacaan eyang atau kakeknya.

Tahun 1995, ketika mendapat kesempatan magang selama sepuluh bulan di sebuah biro desain di Jerman, Tita suka berkirim catatan harian dalam bentuk sketsa ke orangtuanya di Jakarta. Sketsa itu ia kirim lewat faksimile. Oleh ibunya, lembar faks itu difotokopi, diperbanyak, dan disebar ke saudara-saudara Tita. Itulah cikal bakal dari catatan harian grafis yang kini menjadi buku itu. Ratusan halaman sketsa itu telah terkumpul dalam delapan buku. Sebagian diseleksi dan terkumpul dalam Curhat Tita dan buku lanjutannya.

Tahun 2007, sekembali dari Belanda, Tita menggelar pameran tunggal ”Curhat Tita” di Spaces59, Bandung. Dari pameran itulah kemudian tergagas untuk mewujudkan buku Curhat Tita. Kebetulan ada penerbit yang kreatif, jeli, dan percaya diri untuk menerbitkan curhat-nya Tita. Mereka ingin memberi pilihan lain kepada masyarakat, selain komik semacam manga, komik Jepang yang banyak beredar di toko buku itu. Atau juga komik ala Amerika.

”Kalau ada komik Indonesia di toko buku, itu justru komik lama yang tokohnya jagoan,” kata Tita menyebut komik era Ganes Th dengan tokoh para jagoan dari dunia persilatan.

Dari cetakan pertama yang 3.000 eksemplar itu, Tita dan penerbit bisa membaca bahwa catatan harian grafis Tita mendapat respons pasar. ”Dalam Curhat Tita Back in Bandung, pasarnya sudah mulai jelas dan kebaca siapa pembacanya. Mereka yang tak suka atau tak bisa baca komik sudah mulai nyambung,” kata Tita yang juga membaca respons pasar itu lewat situs Internet Tita di http://www.esduren.multiply.com. ”Teman-teman ingin ada nuansa baru di komik Indonesia,” kata Tita.

Suasana baru itu datang dari catatan harian tentang kehidupan sehari-hari seorang ibu dengan dua anak kecil yang setiap hari mengantar anak-anaknya ke sekolah naik angkot di Bandung.

Pengamat komik, Yasraf Amir Piliang, mencatat Curhat Tita sebagai karya yang mengajak pembaca untuk ”…merebut kembali dunia harian yang nyata, yang nyaris tergilas oleh hiruk pikuk dunia urban, nyinyir media massa, dan banalitas dunia hiburan…”.

sumber : Kompas cetak edisi 28 November 2008

Belajar dari Gujarat, Membuat Ibu dan Bayi Panjang Umur

Jumat, 28 November 2008 | 01:18 WIB

Evy Rachmawati

Terik matahari terasa menyengat. Sejumlah warga tampak memasuki halaman Puskesmas Sanathal, Blok Sanand, Distrik Ahmedabad, Gujarat, India. Di atas bangku panjang, sejumlah perempuan yang mengenakan kain sari duduk menanti giliran diperiksa. Sebagian dari mereka tengah hamil.

Satu per satu mereka ditangani oleh dokter spesialis kandungan dan kebidanan atau ginekolog. Mereka juga mendapat suplemen zat besi dan makanan penambah gizi. Semua layanan itu dapat dinikmati masyarakat miskin secara gratis, termasuk biaya persalinan dengan komplikasi yang ditangani tenaga kesehatan terlatih. Mereka malah diberi uang 200 rupee (setara Rp 50.000) oleh pemerintah setempat, 50 rupee di antaranya untuk transpor orang yang mengantar.

Hal itu merupakan bagian dari skema Chiranjeevi Yojana (seseorang hidup panjang umur) yang diluncurkan Pemerintah Gujarat, India, tahun 2005 dengan proyek percontohan di lima distrik. Skema ini untuk melindungi ibu dan bayi dari komplikasi saat melahirkan, mencegah kematian ibu selama kehamilan dan persalinan, serta menghindari kematian bayi baru lahir sampai satu bulan pasca- persalinan.

Sulit mengakses

Di Gujarat, sekitar 25.000 ibu meninggal saat melahirkan dan mayoritas tinggal di daerah terpencil. Setiap 1.000 kelahiran, dua ibu meninggal saat bersalin. Penyebabnya, antara lain, perdarahan dan infeksi. Angka kematian bayi baru lahir juga tinggi. ”Banyak ibu sulit mengakses fasilitas kesehatan saat melahirkan karena tak punya biaya dan terbatasnya sarana transportasi,” kata Chief Minister Pemerintah Gujarat Shri Narendra Modi.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Pemerintah Negara Bagian Gujarat meluncurkan skema Chiranjeevi untuk menjamin ibu hamil yang miskin dapat melahirkan dengan aman di klinik bersalin atau rumah sakit rujukan pemerintah. Pelayanan itu termasuk pemeriksaan kehamilan, USG, persalinan, dan la- yanan kesehatan dasar bayi baru lahir.

Layanan ini diberikan di rumah sakit dan klinik swasta yang ikut dalam skema itu. Setiap ginekolog yang ikut dalam skema ini menandatangani perjanjian dengan Kepala Distrik Bidang Kesehatan untuk menangani persalinan minimal 100 pasien miskin. Kepada para dokter spesialis kandungan dan kebidanan itu, pemerintah membayar 1.795 rupee (setara Rp 500.000) per kelahiran. Dalam waktu kurang dari dua tahun, jumlah ginekolog meningkat drastis dari 7 orang di daerah terpencil menjadi 868 dokter spesialis.

Di lima distrik yang menjadi proyek percontohan, sampai September 2006 tercatat 26.969 perempuan yang mendapat layanan dari skema itu. ”Dengan peningkatan akses dan kualitas layanan persalinan, angka kematian ibu (AKI) dan bayi baru lahir turun drastis. Dari perkiraan AKI 101 jiwa, setelah skema itu dijalankan hanya tercatat angka kematian ibu dua orang,” kata Sekretaris Jenderal Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga Pemerintah Gujarat Rita Teaotia.

Keberhasilan itu membuat skema tersebut dikembangkan dari 5 distrik menjadi 25 distrik di Negara Bagian Gujarat pada akhir September 2008. Data terakhir menunjukkan, 235.289 persalinan di bawah skema Chiranjeevi. Dari total jumlah itu, 205.922 adalah persalinan normal, 14.535 dengan operasi cesar (6,18 persen), persalinan dengan komplikasi 14.832 (6,30 persen). Adapun keterlibatan dokter spesialis sebesar 868 per 2.000 persalinan.

Skema Chiranjeevi juga menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan perempuan lainnya di antaranya pencegahan penyakit yang ditularkan lewat hubungan seksual, pap smear untuk mencegah kanker serviks, dan pelayanan kontrasepsi. Atas terobosan itu, pada tahun 2006 Wall Street Journal menganugerahkan Penghargaan Inovasi Asia kepada Pemerintah Gujarat, India.

Adapun pemerintah pusat India memberi dukungan dana nutrisi 500 rupee dan uang transpor ke fasilitas kesehatan 200 rupee untuk setiap ibu. Dengan skema Chiranjeevi dan sejumlah program inovatif lain, angka kematian ibu melahirkan turun drastis. Dari perkiraan angka kematian 941 ibu melahirkan, ternyata angka kematian yang dilaporkan di bawah skema Chiranjeevi hanya 46 jiwa. Ini berarti 895 jiwa ibu berhasil diselamatkan.

Angka kematian bayi baru lahir juga turun drastis. Dari perkiraan angka kematian 8.941 jiwa, ternyata jumlah bayi baru lahir yang meninggal 987 bayi. ”Ini membuktikan kerja sama pemerintah dan dokter spesialis memberi peluang pasien miskin di daerah terpencil untuk mendapat pelayanan kesehatan yang bagus,” kata dr Amarjit Singh, Sekretaris Jenderal sekaligus Komisioner Kesehatan, Pelayanan Kesehatan, Pendidikan Kedokteran dan Riset Pemerintah Gujarat.

Inovasi

”Kemitraan pemerintah dan swasta di Gujarat merupakan inovasi bagus untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir dalam mencapai sasaran pembangunan milenium,” kata Direktur Kesehatan Keluarga dan Komunitas WHO Regional Asia Timur dan Selatan (SEARO) Dini Latief, pada pertemuan tingkat tinggi WHO SEARO di Ahmedabad, Gujarat, India.

Sejauh ini, 11 negara anggota WHO SEARO memberi kontribusi populasi 1,7 miliar jiwa atau seperempat dari populasi dunia yang berjumlah 6,6 miliar penduduk. Dari 536.000 kasus kematian ibu di dunia tahun 2005, hampir 32 persen atau 170.000 di antaranya ada di kawasan tersebut. Secara global ada 9,7 juta kasus kematian anak balita pada tahun 2006 dan 28 persen di antaranya di Asia Timur dan Selatan.

Prof K R Nayar dari Universitas Jawaharlal Nehru, India, memaparkan, ada perbedaan nyata angka kematian ibu, bayi baru lahir, dan anak balita di negara maju dan berkembang. Contohnya, angka kesakitan tuberkulosis di India 100 kali lebih tinggi dibandingkan dengan Amerika Serikat.

Untuk itu, kemitraan pemerintah dan swasta sebagaimana dilakukan di Gujarat merupakan salah satu jalan mempercepat peningkatan derajat kesehatan ibu, bayi baru lahir, dan anak balita.

Ketua Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Suryono Santoso optimistis berbagai inovasi dalam pemeliharaan kesehatan ibu, bayi baru lahir, dan anak balita juga bisa dilakukan di Indonesia.

sumber : kompas cetak edisi 28 November 2008

Sarno dan Pohon Durian Bhineka Bawor


Rabu, 19 November 2008 | 03:00 WIB

Oleh Madina Nusrat

Instingnya terhadap durian begitu kuat. Cukup melihat bijinya, ia tahu jenis durian itu. Pengalaman semasa kecil menemani sang ayah mencari durian hingga ke pelosok desa membuat Sarno Ahmad Darsono terobsesi pada durian. Ia lalu ”menciptakan” pohon durian bhineka bawor, hasil okulasi 20 jenis durian varietas lokal dan luar. ”Begitu banyak jenis durian di negeri ini, kenapa kita kalah dari Thailand?” pikirnya.

Permenungan itu menantang Sarno, petani durian dari Desa Alasmalang, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, untuk mendapatkan kelebihan dan peningkatan produktivitas durian. Tahun 1996 ia berkeyakinan, pohon durian yang sebelumnya baru berbuah setelah berusia delapan tahun dapat dipersingkat menjadi empat tahun dengan okulasi.

Tetapi, ketika itu dia juga tak pernah berhenti berpikir, apakah okulasi adalah cara yang paling tepat? Sementara itu, ingatannya selalu kembali pada masa kecil, saat ia berjalan dari kebun satu ke kebun yang lain untuk mendapatkan buah durian berkualitas baik.

Pada usia tujuh tahun, Sarno sudah mampu membedakan durian berdasarkan jenisnya. Dengan memegang dan menimbangnya, ia tahu durian yang ada di tangannya telah matang atau belum, berkulit tebal atau tipis.

Ketajaman penciuman ikut membantu dia memilah durian yang puket (manis, berlemak, dan beralkohol) atau bukan. Dalam ingatan, dia menyimpan koleksi durian apa saja yang berkualitas baik. Sebut misalnya durian petruk, sunan, dan kuningmas. Kepekaannya itu telah membantu sang ayah mengumpulkan durian, dan menjualnya di pasar-pasar di Banyumas.

Namun, Sarno pun menyadari bahwa kepekaannya pada durian itu tak bisa menjawab pertanyaan yang selalu muncul di kepalanya, mengapa kita kalah dari Thailand? Ia lantas berusaha mendapatkan jawabnya, antara lain lewat buku-buku pertanian.

”Setelah memperoleh bahan informasi yang cukup, saya yakin okulasi bisa meningkat- kan produktivitas durian,” ucapnya.

Meskipun demikian, ia tak melakukan okulasi hanya pada dua pohon durian yang berbeda jenis. Pada percobaan pertama, Sarno langsung mencoba mengokulasi pohon durian montong oranye dengan 20 jenis durian lokal, seperti sunan, petruk, otong, cinimang, kereng, kuningmas, oneng, bluwuk, dan kumba karna.

Dalam percobaannya itu, ia membagi pohon primer, sekunder, dan tersier. Pohon durian montong oranye dijadikan pohon primer. Tubuh pohon itu dilukai pada beberapa bagian untuk menempelkan 10 tunas pohon durian lokal berkualitas baik, seperti petruk, kuningmas, dan kumba karna, yang menjadi pohon sekunder.

Setelah berselang tiga-empat bulan, okulasi pohon primer dengan sekunder mulai melekat. Sarno lalu mencoba membuat okulasi lagi pada pohon-pohon sekunder, dengan melukai pohon-pohon itu untuk menempelkan pohon durian lokal berkualitas sedang sebagai pohon tersier.

Banyaknya pohon durian yang digunakan untuk okulasi membuat pohon primernya tumbuh menyerupai pohon bakau yang akarnya mencuat dari tanah.

Menurut Sarno, tingkatan pada okulasi itu berguna untuk menjamin ketersediaan makanan yang lebih banyak untuk pohon primer. Adapun fungsi pohon sekunder adalah memengaruhi kualitas buah yang dihasilkan pohon primer.

Empat tahun kemudian atau tepatnya akhir tahun 2000, pohon hasil percobaannya sudah menghasilkan 30-40 buah durian montong oranye yang berbeda dari aslinya. Kulitnya tipis, daging lebih tebal, warna daging buah lebih merah seperti durian kuningmas, rasa lebih puket, dan beralkohol seperti durian petruk. Ukurannya sebesar durian kumba karna dengan berat bisa lebih dari 10 kilogram.

Menjaga erosi tanah

Batang-batang okulasi yang ditempelkan pada pohon primer, kata pria yang sehari-hari berprofesi sebagai guru SD Negeri Manggungan 1 ini, juga berfungsi untuk menjaga erosi tanah. Oleh karena itu, lebih dari lima tahun ini dia juga giat mengimbau para petani durian di sekitar Kemranjen, yang umumnya bermukim di kawasan perbukitan, untuk menanam pohon durian ”ciptaannya”.

Kini, setiap bulan Sarno tinggal menunggu pembeli dari Banyumas maupun Jakarta untuk mengambil durian dari pohon hasil ”ciptaannya”. Harganya per kilogram sekitar Rp 17.000, sedangkan bobot per buah 6-12 kilogram.

”Beberapa hari lalu saya menjual durian montong oranye seharga Rp 200.000 karena bobotnya sampai 12 kilogram,” ucapnya.

Tak hanya itu, setiap bulan Sarno juga memperoleh pesanan untuk memasok bibit okulasi bhineka bawor-nya ke Jawa Timur, Sumatera, dan Sulawesi. Untuk satu kali pengiriman bisa sampai 200 bibit. Bibit pohon durian itu dijualnya seharga Rp 75.000-Rp 150.000 per pohon, tergantung jumlah tunas pohon durian yang digunakan untuk okulasi.

Tentang nama bhineka bawor untuk durian ”ciptaannya”, kata Sarno, ”bhineka” diambil dari semboyan negeri ini, Bhinneka Tunggal Ika, yang bermakna keragaman budaya seperti keragaman jenis durian lokal di Indonesia. ”Bawor” diambilnya dari salah satu tokoh wayang yang menjadi simbol Kabupaten Banyumas, dengan ciri khas cablaka atau berbicara apa adanya.

Dengan semangat keragaman itu pula, pengurus Paguyuban Petani Durian Unggul Kemranjen ini menamakan duriannya Sarakapita yang merupakan akronim nama dirinya, sang istri, dan nama ketiga putrinya.

”Buah durian ini juga menjadi simbol kebersamaan keluarga kami,” ucapnya.

Kelas transisi

Namun, masih ada masalah yang mengganjal dalam pikiran Sarno, yakni bagaimana mengupayakan pohon durian bisa berbuah di luar musim. Seperti sekarang, petani durian di Kemranjen tak bisa memperoleh panen maksimal karena banyak buah yang rontok pada usia dini akibat curah hujan yang cukup tinggi.

”Untuk tahun depan, saya sedang mempersiapkan formulasi pupuk dan waktu yang tepat untuk memupuk pohon durian agar bisa berbuah sebelum bulan November,” ucapnya berharap.

Kompleksitas pemikiran Sarno tak hanya tecermin pada durian, tetapi juga pilihan lapangan tugasnya sebagai guru. Baginya, tak ada tantangan untuk mengajar siswa kelas tiga sampai lima karena siswa relatif sudah dalam kondisi stabil.

Kelas-kelas transisi bagi siswa merupakan pilihan dia, yakni kelas enam serta kelas satu dan kelas dua. Kelas enam, misalnya, menurut Sarno, merupakan lapangan tugas yang ”tiada akhir” lelahnya bagi guru sebab harus mempersiapkan para siswa sampai matang agar bisa lulus SD. Oleh karena itulah, sejak diangkat sebagai guru tahun 1988 hingga 2004, ia menjadi guru kelas enam.

Baru empat tahun belakangan ini dia pindah menjadi guru kelas satu dan dua. Kedua kelas ini, menurut Sarno, juga memiliki tantangan yang tak kecil karena siswa umumnya mengalami peralihan dari dunia bermain ke dunia belajar.

”Pada garis-garis berisiko inilah saya menemukan kenikmatan berkarya,” kata Sarno.

Awalnya, I Wayan Mertha tidak berpikir muluk-muluk saat menanam berbagai jenis bibit pohon di antara tanaman kakaonya di Desa Balinggi, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong, sekitar 120 kilometer arah timur Palu, pada tahun 2000.

Tanaman kakao harus dilindungi dengan tanaman lebih besar dan rimbun demi mendapatkan buah-buah yang bagus,” cerita Wayan Mertha mengenai pemikiran sederhananya waktu itu.

Selain itu, ia juga berharap, tanaman pelindung tersebut suatu saat bisa dipanen dan menghasilkan uang. Di sisi lain, untuk lingkungan sekitarnya, tanaman pelindung juga dapat berfungsi menguatkan tanah dan menyerap air.

Maka, Wayan Mertha pun menanam berbagai jenis tanaman berakar kuat, berdaun rimbun, dan berbatang besar di antara tanaman kakao. Bibitnya dia pungut di hutan sekitar kebunnya. Pembibitan dia lakukan sendiri hingga menjadi anakan pohon siap tanam.

”Saat itu, banyak yang mencemooh dan menertawakan apa yang saya lakukan. Kata mereka, ngapain tanam pohon, enggak ada untungnya, enggak bisa jadi uang. Lagi pula, orang-orang pada menebang pohon, saya malah menanam pohon,” tutur Wayan Mertha.

Dicemooh, dia bergeming. Dengan tekun, ia terus menanam bibit pohon, seperti meranti, palupi, nantu, dan durian. Khusus pohon durian, Wayan tidak menanam untuk mengambil buahnya, tetapi lebih memanfaatkan batang kayunya.

Suami Ni Wayan Aryani ini tak peduli bahwa penanaman pohon itu mengakibatkan tanaman kakao miliknya jadi tak sebanyak di kebun orang lain yang memenuhi kebunnya hanya dengan tanaman kakao. Namun, kebun sekaligus hutan kecil Wayan Mertha itu terus bertambah sedikit demi sedikit karena ia membeli lahan terbengkalai di sekitar kebunnya. Luas kebunnya pun mencapai 17 hektar.

Ketekunan Wayan kemudian mulai membuka mata warga sekitarnya, terutama para pemilik kebun. Sebab, pohon kakao di kebun Wayan ternyata tumbuh lebih subur dan berbuah lebih bagus dibandingkan kakao di kebun milik petani lainnya. Selain itu, tanah di kebunnya juga menjadi lebih subur. Sumber airnya pun tak pernah kering pada musim kemarau sekalipun.

”Warga lain lalu mulai ikut menanam pohon di antara tanaman kakaonya, atau menebang tanaman kakao yang sudah tua dan menggantinya dengan tanaman pohon. Bibitnya mereka ambil gratis dari saya. Memang, hampir sepanjang waktu saya terus melakukan pembibitan dan memberikan kepada siapa saja yang mau,” katanya.

Industri kayu

Mata warga sekitar betul-betul terbuka, bahkan tidak sedikit yang terenyak ketika, Agustus lalu, Wayan Mertha memanen tanaman pohon yang sudah berumur dari lahan sekitar satu hektar. Kayu dari hutan miliknya itu dijual dengan harga ”lumayan”. Bahkan, ia bisa membuat industri kayu kecil-kecilan untuk mengolah kayu dari hutannya tersebut.

”Tetapi, saya tidak memanen pohon dengan begitu saja. Jauh sebelum saya panen, saya sudah menanam anakan pohon di sejumlah luas areal, atau batang yang saya panen. Jadi, lahannya tidak akan kosong. Lagi pula, pola penanamannya saya atur juga agar panen tidak serentak, melainkan bergiliran sesuai usia pohon dan besarnya anakan yang ditanam,” ceritanya.

Wayan Mertha sejauh ini sudah terbilang berhasil memadukan bisnis dan penghijauan, dengan mengawinkan kebun dan hutan. Dari sisi penghijauan, lahan kosong yang semula telantar kini sudah penuh tanaman dan menjelma menjadi hutan.

Dari sisi bisnis, kayu yang ditanamnya pun menghasilkan uang. Bahkan seperti virus, apa yang dilakukan Wayan mulai menjalar kepada para pemilik kebun lainnya. Di sekitar kebunnya saja sudah ada 50-an petani yang mengikuti jejaknya.

Mukramin, Kepala Dinas Kehutanan Parigi Moutong, bahkan mengakui, konsep bisnis dan penghijauan yang dilakukan Wayan Mertha dijadikan percontohan oleh dinas kehutanan untuk disosialisasikan kepada para pemilik kebun yang lain.

”Masyarakat sudah mulai mengikuti apa yang dilakukan Wayan. Dampaknya, selain menjaga kesuburan tanah dan terpeliharanya sumber air, warga juga sedikit demi sedikit mulai sadar agar tidak menebang hutan sembarangan. Mereka sadar pada pentingnya fungsi tanaman pelindung, sekaligus melihat tanaman pelindung sebagai investasi jangka panjang,” tutur Mukramin.

Manja dan seenak hati

Wayan Mertha adalah lelaki sederhana yang hanya tamat sekolah dasar. Sebagai anak tunggal diakuinya membuat dia menjadi manja dan berlaku seenak hati, termasuk tidak melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.

Masa muda lebih banyak dia habiskan dengan bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Keinginannya merantau keluar dari Bali, kendati pada awalnya ditentang orangtuanya, membawa Wayan ke Parigi Moutong pada tahun 1976. Saat itu ia sekadar mengikuti beberapa temannya yang sudah terlebih dahulu pergi ke Parigi.

Tanpa bekal keterampilan dan pendidikan memadai, Wayan Mertha bertahan hidup dengan menjadi kenek. Hidup jauh dari orangtua dan sanak keluarga membuat dia sadar harus menata sendiri kehidupannya, dan tidak bergantung kepada orang lain. Terlebih saat ia memutuskan menikahi Ni Wayan Aryani pada 1982.

Pendapatan jadi kenek dan buruh kasar sebagian dia tabung, dan digunakan untuk membeli sebidang sawah. Penghasilan dari sawah itu dia kumpulkan pula guna membuka usaha warung kecil-kecilan.

Seiring berjalannya waktu, Wayan Mertha lalu membeli lahan kebun untuk bertanam kakao. Lahan yang semula cuma sepetak terus bertambah. Dia kemudian mulai menanam pohon pada tahun 2000.

Pengetahuannya mengenai penanaman pohon, antara lain, diperoleh saat masih tinggal di Bali. Wayan bercerita, tempat tinggalnya di Bali berada di tepi hutan sehingga dia mengenal jenis-jenis pohon, termasuk bagaimana pemeliharaannya.

Belakangan, Wayan Mertha juga melakukan berbagai eksperimen menanam pohon dengan menggunakan batang pohon, bukan bibit.

Kalau semula menanam pohon sekadar melindungi tanaman kakaonya, kini Wayan Mertha terobsesi menghijaukan lahan gersang. Setidaknya hal ini sudah dia mulai dengan membeli 17 hektar lahan kosong di Kayumalue, Palu. Lahan ini akan dia tanami berbagai jenis pohon. Penanaman dilakukan pada November ini, bersamaan dengan datangnya musim hujan.

”Menanam pohon itu mudah, yang penting bibitnya bagus, anakan yang ditanam sudah cukup umur, dan waktu penanamannya tepat. Kalau akarnya sudah cukup kuat, dibiarkan saja juga tidak jadi soal karena pohon akan tumbuh alami. Setelah itu kita tinggal menikmati hasilnya, baik dampaknya pada lingkungan, maupun sebagai tambahan penghasilan,” tutur Wayan Mertha bersemangat.

sumber : Kompas Cetak edisi 19 November 2008

Balada Uang Seribu dan Seratus Ribu Rupiah

Konon, uang seribu dan seratus ribu memiliki asal-usul yang sama tapi
mengalami
nasib yang berbeda. Keduanya sama-sama dicetak di PERURI dengan bahan dan
alat-alat yang oke. Pertama kali keluar dari PERURI, uang seribu dan
seratus
ribu sama-sama bagus, berkilau, bersih, harum dan menarik. Namun tiga bulan
setelah keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu bertemu kembali di
dompet seseorang dalam kondisi yang berbeda. Uang seratus ribu berkata pada
uang
seribu :
“Ya, ampiiiuunnnn. ……… darimana saja kamu, kawan? Baru tiga bulan
kita berpisah, koq kamu udah lusuh banget? Kumal, kotor, lecet dan…..
bau!
Padahal waktu kita sama-sama keluar dari PERURI, kita sama-sama keren
kan….
Ada dapa denganmu?”
Uang seribu menatap uang seratus ribu yang masih keren dengan perasaan
nelangsa.
Sambil mengenang perjalanannya, uang seribu berkata :
“Ya, beginilah nasibku , kawan. Sejak kita keluar dari PERURI, hanya tiga
hari saya berada di dompet yang bersih dan bagus. Hari berikutnya saya
sudah
pindah ke dompet tukang sayur yang kumal. Dari dompet tukang sayur, saya
beralih
ke kantong plastik tukang ayam. Plastiknya basah, penuh dengan darah dan
taik
ayam. Besoknya lagi, aku dilempar ke plastik seorang pengamen, dari
pengamen
sebentar aku nyaman di laci tukang warteg. Dari laci tukang warteg saya
berpindah ke kantong tukang nasi uduk, dari sana saya hijrah ke
‘baluang’ (pren : tau kan baluang…?) Inang-inang. Begitulah
perjalananku dari hari ke hari. Itu makanya saya bau, kumal, lusuh, karena
sering dilipat-lipat, digulung-gulung, diremas-remas. ……”
Uang seratus ribu mendengarkan dengan prihatin.:
“Wah, sedih sekali perjalananmu, kawan! Berbeda sekali dengan
pengalamanku. Kalau aku ya, sejak kita keluar dari PERURI itu, aku disimpan
di
dompet kulit yang bagus dan harum. Setelah itu aku pindah ke dompet seorang
wanita cantik. Hmmm…. dompetnya harum sekali. Setelah dari sana, aku lalu
berpindah-pindah, kadang-kadang aku ada di hotel berbintang 5, masuk ke
restoran
mewah, ke showroom mobil mewah, di tempat arisan Ibu-ibu pejabat, dan di
tas
selebritis.
Pokoknya aku selalu berada di tempat yang bagus. Jarang deh aku di tempat
yang
kamu ceritakan itu. Dan…… aku jarang lho ketemu sama teman-temanmu. “
Uang seribu terdiam sejenak. Dia menarik nafas lega, katanya :
“Ya. Nasib kita memang berbeda. Kamu selalu berada di tempat yang nyaman.
Tapi ada satu hal yang selalu membuat saya senang dan bangga daripada
kamu!”
Apa itu?” uang seratus ribu penasaran.
“Aku sering bertemu teman-temanku di kantong-kantong kolekte di gereja dan
di kotak-kotak amal di mesjid atau di tempat-tempat ibadah lain. Hampir
setiap minggu
aku mampir di tempat-tempat itu. Jarang banget tuh aku melihat kamu
disana…..”

Peace,,,

anynomous story

Guritno, “Australian Artist” dari Bandung

Kamis, 27 November 2008 | 03:00 WIB

Agus Hermawan

Tarikan garis tampak sederhana, tetapi kuat menyedot perhatian dalam warna-warna yang memukau. Beragam ilustrasi flora-fauna-kanguru, koala, buaya, hingga Gedung Opera Sydney atau Jembatan Sydney diterakan dalam keramik berbagai produk suvenir, gelas, mug, mangkok. tatakan atau piring, sampai sabun atau buku catatan (notes). Gambar-gambar kartun, lucu dan mengundang senyum.

Di setiap suvenir selalu diterakan, ”Australian artist Guritno captures the essence of Australian culture, landscape and animals in his unique and colourful artworks.”

”Ha… ha… emang saya orangnya, Kang Guritno tea,” ujar si pemilik karya. Lelaki asal Bandung itu ditemui di tengah keramaian 150-an pedagang suvenir dan kerajinan pasar kaget The Rock Market, Sydney.

Masih kental dengan gaya anak Bandung, Agung Guritno kini dikenal sebagai seniman, desainer, serta perajin keramik papan atas di Negeri Kanguru itu. Karyanya tersebar tidak hanya di sekitar 400 toko cendera mata dari desa hingga kota, dari butik hingga toko biasa, dari mal hingga bandara internasional Australia. Akan tetapi, juga di seluruh dunia, dari Jepang, Selandia Baru, Amerika Serikat, hingga negara- negara Eropa.

Keberhasilan Guritno diraih setelah melalui jalan berliku. Cerita hidupnya mirip kisah sukses klasik, dengan kronologis waktu kecil hidup bersahaja, muda penuh perjuangan, dan pada akhirnya menikmati sukses yang didambakan semua orang. Kini dia memiliki sebuah bengkel kerja dengan tiga pegawai yang semuanya warga negara Australia dengan gaji per minggu 1.000 dollar Australia (sekitar Rp 8 juta), termasuk pajak, uang pensiun, dan fasilitas lainnya. Penjualan karya-karya Guritno setahun bisa mencapai 500.000 dollar Australia.

Putra pasangan Soeripto Prawirosemito dan Soepriyah itu memang sejak kecil, dari TK Bukit Dago hingga SMAN 14 Bandung, memang senang dengan hal-hal berbau seni, menggambar, dan bermusik. Kehidupan keluarganya yang bersahaja—ayahnya seorang pegawai negeri sipil golongan II di Bina Marga (Jalan, Jembatan dan Konstruksi ) Departemen Pekerjaan Umum.

”Ayah saya seorang surveyor sejati, dalam setahun paling dua bulanan ada di rumah, selebihnya keluar masuk hutan. Saya bangga sekali kepada beliau, karena peta jalan di Indonesia merupakan karya beliau,” katanya.

Berjualan kue

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sebelum pergi sekolah, Guritno kecil berjualan kue donat, dadar gulung, dan penganan khas lainnya buatan ibunya yang dia kenal jago masak. Keadaan itu tidak menyurutkan cita-cita Guritno kuliah di Fakultas Seni Rupa ITB dan ASRI Yogyakarta. Walaupun setamat SMA dia mengikuti bimbingan menggambar di Keluarga Mahasiswa Seni Rupa ITB, dua kali Guritno gagal menembus proses seleksi FSR-ITB. ”Peserta lain lebih pintar dan kreatif,” katanya merendah.

”Saya tidak patah arang,” kenangnya. Dia pun mulai bergaul dengan para seniman jalanan dari Jalan Braga hingga ke kawasan Alun-alun Bandung. Di kawasan wisata Bandung itulah dia mulai mengenal turis. Turis mancanegara kerap berseliweran di sekitar tempat Guritno nongkrong. Sambil mengasah bakat seninya, dia pun beralih profesi menjadi pemandu wisata. Guritno juga terus belajar membatik, menyablon, melukis T-shirt, hingga mengukir. Saat dia mencoba membikin kartu pos, ternyata turis-turis yang dipandunya suka dengan karyanya.

Kesenangannya bermusik dia salurkan dengan menghibur para tamu atau mengamen pada malam hari. ”Biasanya saya ngamen di Warung Kumis Pak Iing, depan Kantor PR Bandung,” kenangnya. Kehidupan jalanan membuat dia sering tertidur di emperan Jalan Braga Bandung.

Pertemanan dengan turis itulah yang mengantarnya ke Frankfurt, Jerman (1992), atas undangan temannya. Petualangan Guritno berlanjut di negara itu. Dia bekerja serabutan, dari kuli bangunan hingga di perkebunan bunga di Amsterdam dan Rotterdam, Belanda. Ini membuat dia menguasai bahasa Jerman dan Belanda.

Selama itu pula, kreativitasnya sebagai pekerja seni tak terhenti. ”Saya banyak mendapat order membuat dan melukis peralatan rumah seperti meja dan kursi,” kata Guritno. Kembali ke Indonesia, dia sempat nyangkut di kawasan wisata Cemoro Lawang dan tetap bergiat di bidang wisata.

Hidup Guritno semakin manis setelah berkenalan dan menikah dengan Rosalinda Corazon, wanita berkebangsaan Australia, di Bandung (1996). ”Rose, istri saya, mempunyai latar belakang jurnalis, penulis artikel, serta desainer dan editor untuk beberapa majalah di Australia,” katanya.

Pucuk dicinta ulam tiba, istrinya menghadiahi dia sebuah kamera Nikon FM2. Dia mulai tertarik belajar dunia fotografi. Erre Tasty A, seorang fotografer profesional di Jakarta, banyak mengajarinya perihal fotografi.

Guritno mulai masuk ke Sydney tahun 1997. Krisis ekonomi membuat dia harus banting tulang memenuhi kebutuhan keluarga. ”Wah, pokoknya edun- lah. Semua pekerjaan saya geluti, mulai dari membersihkan toilet, cleaning service , bahkan menjadi buruh kasar di pergudangan,” katanya. Dia juga pernah menjadi pegawai tetap di sebuah perusahaan perakit rolling door.

Ketertarikannya akan dunia seni mengantar Guritno belajar membuat keramik di TAFE Sydney Institute. Di sela-sela mandi keringat bekerja siang hari, selama tiga tahun setiap malam dia menimba ilmu perkeramikan di politeknik tersebut. Setelah lulus, dibantu Rose, dia mendirikan bisnis keramik berlabel ”Guritno”.

Jalan kehidupan

Lagi-lagi jalan kehidupan tidak selalu mulus. Pada awalnya banyak orang menertawakan soal prospek bisnis keramik Guritno. ”Carilah pekerjaan tetap, keramik hanyalah hobi semata,” ujar seorang guru keramiknya. Namun, Guritno tak patah semangat. Apalagi dia melihat peluang terbuka lebar di Sydney sebagai kota tujuan wisata dunia. Selama ini, cendera mata di Sydney didominasi produk dari China.

Guritno menawarkan cita rasa sendiri. ”Pokoknya, kalo budak Bandung yang umumnya kreatif mah enggak akan susahlah buat berkarya seni di sini, kata Guritno sambil melayani pembeli di Pasar York.

Pada mulanya dia memproduksi sendiri model keramik dengan konsep pengerjaan dan desain beragam, secara manual. Belakangan dia menemukan rahasia proses pembuatan yang mulai diakui pasar dan peminat keramik. Dia memakai bahan tanah liat white earthenware dan porselen, serta bone China.

”Setelah proses pengeringan, saya melakukan dekorasi, lalu dibakar untuk pertama kalinya, setelah itu barulah diberi lapisan glazur sebelum dibakar kembali,” katanya sambil memperlihatkan mug karyanya. Gambar kucing tertidur di selop wanita, mengundang senyum yang melihatnya.

Dia dan Rose mulai ”bergerilya” memasarkan produknya di pasar-pasar kaget di sekitar Sydney, setiap akhir pekan. Pameran dagang atau pasar raya tak pernah pula dia lewatkan. Semua itu mereka lakukan sendiri, dengan membawa anaknya, Daeya, yang kala itu berusia 3 tahun.

Demikianlah roda berputar. Karya Guritno mulai mendapat perhatian. Kerja keras mereka sangat diapresiasi di Australia. Itu terbukti dengan penghargaan tahun 2006-2007 sebagai finalis The Best Australia Gift Award. Pasar pun semakin terbuka lebar. Kini bahkan mereka mengimpor keramik dari China yang kemudian diberi sentuhan grafis dan pewarnaan di Sydney.

Mengapa tidak mendatangkan keramik dari Indonesia? Setelah terdiam sejenak, Guritno tersenyum, ”Birokrasi dan bea cukai di sana harus dibenahi dulu. Yang kitu-kitu-lah (begitu-begitu),” ujarnya. Katanya, banyak pebisnis Australia yang merasa kejegal dengan persoalan itu. Di Australia, menurut Guritno, pemerintah sangat mendukung para usahawan.

”Saya sangat bersyukur, bisnis keramik ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Melalui keyakinan, komitmen yang kuat, dan mendekatkan diri kepada Tuhan, kami berhasil melewati semua hambatan,” katanya.

Satu hal, dia tak pernah lupa akan Bandung, kota yang menempa jiwa seninya di usia muda. ”Insya Allah, saya segera membuka gerai karya (workshop) di Bandung. Pokokna mah Bandung euy!” katanya tertawa lepas.

sumber : kompas cetak edisi 26 November 2008

Bang Yos, Perempuan dan Pemadam Kebakaran

KOMPAS/AGNES RITA SULISTYAWATY / Kompas Images

Kamis, 20 November 2008 | 03:00 WIB

Oleh Agnes Rita Sulistyawaty

Nama Yosi Anita kurang populer di kalangan pemadam kebakaran Kota Padang. Namun, sebutlah nama Bang Yos atau buyuang (sebutan ala Minangkabau untuk anak lelaki), maka sosok perempuan Pesisir Selatan inilah yang akan ditunjuk.

Pekerjaan sebagai petugas pemadam kebakaran sekaligus anggota tim SAR Kota Padang, Sumatera Barat, mungkin profesi yang relatif belum biasa dilakukan perempuan. Namun, kecintaannya akan pekerjaan ini sudah tumbuh dalam diri gadis lajang itu.

”Kalau ada orang yang hingga tua masih sulit menemukan profesi yang dicintai, saya sudah cinta mati dengan profesi sebagai petugas pemadam kebakaran sejak lima tahun silam. Kalau boleh, sampai tua nanti saya ingin jadi petugas pemadam saja,” ujar Yosi.

Berawal dari kebosanan kuliah, Yosi iseng-iseng meminta pekerjaan kepada Dedek Nuzul Putra yang pada tahun 2002 menjabat sebagai Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Padang.

Oleh Dedek, ia disuruh menjadi operator yang bertugas mengangkat telepon dan berkomunikasi dengan radio amatir di kantor Pemadam Kebakaran Padang. Inilah awal perkenalan Yosi dengan tugas pemadam kebakaran dan penanggulangan bencana.

Yosi, yang sejak kecil terbiasa berkawan dengan laki-laki, mudah akrab dengan rekan kerja yang semuanya pria. Lewat keakraban dengan kolega itulah, ia pertama kali diajak berpetualang di atas mobil pemadam kebakaran.

”Pertama kali diajak ikut memadamkan kebakaran, saya hanya membantu para petugas pemadam kebakaran. Dalam situasi terburu-buru untuk memadamkan api, bantuan saya sering dibutuhkan,” ceritanya.

Pekerjaan di lapangan inilah yang kemudian terasa nikmat bagi Yosi. Status dalam surat keputusan pengangkatannya sebagai pegawai negeri sipil pada 2003 masih mencantumkan jabatan dia sebagai operator. Namun, tugas di lapangan lebih menarik hatinya. Katanya, di sinilah dedikasi itu diikatkan.

Ia merasa lebih tertantang dengan berjuang di dalam kobaran api, menahan pedihnya asap, ketimbang hanya duduk di kantor untuk menjawab telepon atau berkomunikasi lewat radio.

Kerja keras sebagai petugas pemadam kebakaran justru menantang untuk berpacu dengan waktu, mengalahkan keganasan kobaran api. Urusan jenis kelamin tak diperhitungkan ketika tugas memanggil. Yosi kerap memanggul selang yang bila sedang dialiri air bertekanan tinggi berbobot sampai 20 kilogram.

Bila sedang sering terjadi kebakaran, Yosi pernah berpindah tempat sampai tiga kali dalam satu malam. Dia acap kali langsung melompat ke mobil pemadam kebakaran bila tanda kebakaran berbunyi, kendati saat itu bukan gilirannya dinas. Jika esok paginya ia harus tugas jaga, Yosi tetap bangkit dan bertugas di posko piket.

Selain memegang selang air, Yosi juga kerap ikut menyusuri sungai dengan perahu karet untuk mencari korban yang tenggelam. Yosi yang jago berenang itu menganggap pencarian korban di sungai dan laut sebagai pekerjaan yang tak kalah berbahayanya dibandingkan memadamkan api.

Bila ditotal, rata-rata dalam sebulan ada 29 kasus—mulai dari kebakaran hingga pencarian orang hilang—yang dia tangani bersama rekan-rekan.

Menjadi perempuan

Pekerjaan sebagai pemadam kebakaran mungkin hanya diimpikan sedikit perempuan pada masa kecil mereka. Namun, justru di sinilah perempuan yang pada masa kecilnya lebih akrab dengan kelereng ketimbang boneka itu mendapatkan penghasilan.

Sebagai perempuan dewasa, keinginan tampil feminin seperti yang dicitrakan para pemeran sinetron atau model iklan sempat menyelinap dalam benaknya. Keinginan untuk tampil dengan busana perempuan sempat dia sampaikan kepada teman kos.

Suatu hari Yosi menanggalkan kaus oblong bertuliskan ”Pemadam”, celana kargo, dan sepatu bot. Ia lalu memakai rok, blus, serta sepatu hak tinggi, lengkap dengan riasan di wajahnya. Hasilnya?

”Tidak cocok! Saya pun menerima bahwa memang saya tidak bisa berpenampilan sebagai perempuan yang feminin. Begini dan inilah saya apa adanya,” ucap Yosi yang sehari-hari merasa nyaman berkaus oblong dengan celana kargo.

Perilaku tomboinya, diakui Yosi, sempat mengundang cemooh dari sebagian tetangga. ”(Mereka bilang) mau jadi apa kalau sejak kecil suka bermain dengan anak laki-laki?” kata Yosi menirukan ucapan sebagian tetangga di kampung kelahirannya, Kambang, Pesisir Selatan, Sumbar.

Namun, menjadi perempuan dengan citra seperti perempuan dalam sinetron atau bintang iklan bukanlah satu-satunya pilihan untuk meraih sukses. Tekad Yosi untuk mengabdi sebagai petugas pemadam kebakaran juga membuahkan keberhasilan.

Selain membantu memadamkan api, mencari orang hilang, dan menjalankan tugas penyelamatan bencana lainnya, beberapa kali sosok Yosi muncul dalam surat kabar lokal, televisi nasional, sampai jaringan BBC.

Yosi pun menjadi bahan pembicaraan tetangga di kampung. Mereka yang dulu mencemooh kebiasaannya berteman dengan laki-laki belakangan justru bangga pada profesi pilihannya.

Sebagai petugas pemadam kebakaran, Yosi menempati rumah dinas yang terletak di kompleks Pemadam Kebakaran Kota Padang. Di ruang depan rumah itu, pakaian pemadam kebakaran bisa dikatakan menghiasi semua penjuru dinding.

”Agar mudah diraih kalau ada kebakaran,” kata Bang Yos beralasan.

Berkawan

Di ruang itu juga, koleganya, sesama petugas pemadam kebakaran (semuanya pria) serta keluarga mereka yang tinggal di kompleks yang sama, acap kali bertandang ke rumah Yosi. Dengan santai, para petugas pemadam kebakaran itu ngobrol dengannya, merebahkan badan di lantai, atau ikut menikmati masakan yang dibuatnya.

Semua itu mereka lakukan dengan santai sebab memang begitulah cara mereka berteman di kompleks rumah dinas yang menyatu dengan tempat parkir mobil pemadam dan peralatan SAR tersebut. Bila tugas malam, Yosi pun tidak sungkan tidur di tempat tidur lipat di ruangan untuk petugas pemadam kebakaran.

Dengan seluruh kehidupan dan karier yang tergenggam dalam tangan, Yosi masih menyimpan satu harapan. Dia ingin menyelesaikan kuliah yang terbengkalai sejak tahun 2002, atau ketika dia baru menyelesaikan semester ketiga.

Dengan penghasilan sebagai pegawai negeri sipil golongan IIA, Yosi yakin bisa menutupi sendiri biaya kuliah hingga selesai.

”Saya ingin mendapatkan ilmu dari kuliah. Ijazahnya nanti bisa menambah peningkatan golongan. Ya, semoga saja ini bisa meningkatkan uang pensiun saya nantinya,” ucap Yosi menambahkan.

sumber : kompas cetak edisi 20 November 2008

Bertanam Sengon di Lahan Bekas Tambang

KOMPAS/KENEDI NURHAN / Kompas Images

Jumat, 21 November 2008 | 03:00 WIB

Bentangan lahan kritis sisa penambangan timah di Sadai, Bangka Selatan, akhirnya menggugah kesadaran Yono Muchtar. Namun, pohon-pohon sengon yang kemudian ia tanam di atas tanah berpasir itu tidaklah murni didorong keprihatinannya atas kerusakan lingkungan di tempat ini.

Ada sisi bisnis yang ia bidik. Juga obsesi untuk menjadikan kawasan ini sebagai pusat pertumbuhan baru di Provinsi Bangka Belitung. Di luar itu, ”dendam” yang membuncah akibat gagal mengeruk keuntungan ketika menjadi bagian dari pelaku penambangan timah (ilegal) juga ikut memicu niat Yono menghijaukan areal itu dengan pohon sengon.

Haji Yono Muchtar (61) memang bukan ahli ekonomi. Sekolah dasar pun ia tak tamat. Namun, sebagai pedagang yang bermukim di kawasan Pelabuhan Sadai, ia tahu persis gelar sarjana ekonomi—seperti yang diraih dua di antara empat anaknya—pun tak akan banyak membantu perkembangan daerah ini bila hanya berkutat pada timah dan lada. Dua komoditas yang sejak lama menghidupi warga Bangka.

”Timah segera habis, hanya akan menyisakan lahan kritis. Sementara tanaman lada kian menyusut, banyak yang tak diurus lantaran biaya perawatannya mahal. Belum lagi harga jual lada di pasaran makin tak menentu,” ujarnya.

Timah dan lada bagai dua sejoli yang ikut membentuk struktur sosial-ekonomi masyarakat di Pulau Bangka. Tak terkecuali di Bangka Selatan, tempat Haji Yono bermukim sejak 1979. Sebelum masyarakat mulai mengenal tanaman kelapa sawit, juga karet, timah dan lada (orang Bangka menyebutnya sahang) adalah tiang kehidupan.

Sebelum era reformasi, sebetulnya masyarakat Bangka Selatan, khususnya di daerah Toboali dan Sadai, lebih akrab dengan tanaman lada daripada mendulang pasir timah. Selama puluhan tahun, lada memberi mereka napas kehidupan, sedangkan timah hanya melibatkan segelintir warga. Itu pun tak lebih sebagai buruh di perusahaan negara (PT Timah) dan swasta (PT Koba Tin).

Ketika harga lada melambung pada 1980-an dan mengantarkan para petani lada ke puncak kejayaan mereka pada 1987, desa-desa miskin di Bangka Selatan tiba-tiba seperti disulap. Bangunan rumah yang semula kebanyakan berupa gubuk berubah seperti real estat yang tumbuh menjamur. Mobil dan motor baru yang diparkir di depan rumah warga jadi pemandangan biasa di desa-desa sepanjang menuju Toboali.

Haji Yono bukan bagian dari petani lada yang bernasib mujur itu. Sebagai pendatang, ia hanya kecipratan sedikit rezeki dari booming lada. Perantau dari tanah Jawa yang datang melalui kampung halaman istrinya di daerah Tulung Selapan, Sumatera Selatan, ini cuma ikut sebagai pemetik lada di Pulau Besar, Kecamatan Payung. Hasilnya ia belikan sepeda motor.

Jualan jamu

Di saat orang-orang terbuai menikmati hasil lada, Yono malah sibuk jualan jamu. Dengan sepeda motor yang dibeli dari upah memetik lada, ia berkeliling dari desa ke desa, sembari memperkenalkan cita rasa ramuan obat tradisional Jawa tersebut.

Bertahun-tahun pekerjaan sebagai penjual jamu ia tekuni, sebelum berganti menjadi pedagang kelontong. Keluarganya di Tulung Selapan ia ajak bermigrasi ke Bangka, persisnya di Kampung Terep, masih di wilayah Bangka Selatan.

Pada saat yang bersamaan, harga lada—yang pada paruh pertama tahun 1990 mulai turun—terus anjlok. Kebun lada penduduk mulai tak terawat, bahkan tak sedikit yang ditinggalkan, mengingat harga lada di pasaran di bawah biaya produksi. Rugi!

Tahun 1994 Yono pindah ke Sadai. Saat itu, Sadai sudah menjadi pelabuhan antarpulau, pelabuhan terbesar kedua di Bangka setelah Mentok. Perkenalannya dengan seorang pengusaha keturunan dari Toboali semakin membuat usaha Yono terus berkembang. Ia bahkan dipercaya menjadi agen penyalur bahan bakar minyak di wilayah ini.

Krisis ekonomi yang menimpa Indonesia tahun 1998 ternyata tak begitu memengaruhi usaha Yono. Di sisi lain, kehidupan warga Bangka pada umumnya kian sulit setelah selama satu dekade sempat dininabobokkan masa kejayaan sebagai petani lada.

Ketika rezim berganti, euforia reformasi datang bagai penawar dahaga. Menyusul pencabutan komoditas timah sebagai mata dagangan strategis oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan pada 1999, serta semangat otonomi daerah yang muncul belakangan di tingkat lokal, kebijakan ini lalu diterjemahkan sebagai peluang bagi rakyat untuk ikut terlibat dalam pencarian pasir timah.

Sejak itu, konsentrat pasir timah di lahan-lahan tandus sisa aktivitas pertambangan PT Timah selaku pemegang kuasa pertambangan (KP), ataupun wilayah kontrak karya (KK) PT Koba Tin, digarap ulang oleh penduduk, juga di Bangka Selatan.

Sebagian besar petani lada pun berubah haluan: ramai-ramai mendulang timah. Lokasinya tak hanya di wilayah KP PT Timah atau KK PT Koba Tin, tetapi juga hingga membabat kebun lada dan pekarangan rumah.

Ia sempat tergiur ikut membuka lubang tambang. Namun, ternyata rezekinya tidak di sini. Lokasi yang ia ajukan izin usahanya tak banyak mengandung konsentrat timah. Modal usaha yang ia keluarkan untuk membeli peralatan tambang, seperti pompa dan selang berikut upah pekerja, tak kembali.

”Ada sedikit kekecewaan. Tapi saya segera sadar, ternyata biaya untuk mengembalikan kondisi tanah bekas galian tambang juga tidak sedikit sehingga tidak heran kalau banyak yang dibiarkan begitu saja. Saya merenung, wah kalau begini, bisa-bisa daerah ini kelak jadi padang pasir,” tuturnya.

Berangkat dari pengalamannya ketika masih di Tulung Selapan pada awal 1970-an, menjadi pedagang kayu gelondongan hingga ke Jakarta, ia memutuskan menanami lahan bekas galian tambangnya dengan pohon sengon. Ternyata berhasil. Sengon Haji Yono cukup subur. Padahal, tanaman lain sulit tumbuh di tanah yang sudah kehilangan unsur organiknya itu.

Sejak itu, lahan-lahan bekas kebun lada yang sudah digali pemiliknya untuk menambang timah—yang tak bisa lagi ditumbuhi lada—ia beli dan ditanami sengon. Sejak 2005, sudah 25 hektar pohon sengon Haji Yono meneduhi tanah berpasir yang semula tandus, kini menjadi hijau.

Guna mengurusi pohon sengonnya, tiga pekerja khusus ia datangkan dari Jawa. Ia sendiri sehari-hari sibuk mengurusi barang dagangan di kawasan Pelabuhan Sadai.

”Kalau kelak sudah bisa dipanen, kayu-kayu sengon ini akan saya olah di sini, baru setelah itu dijual ke Jakarta. Dari Jakarta saya akan bawa barang ke Sadai. Kalau sekarang kan hanya barang-barang dari Jakarta yang dibawa ke Pelabuhan Sadai. Sedangkan dari sini kosong karena tidak ada muatan,” tuturnya.

Haji Yono adalah potret pekerja keras. Sejak kecil, ia sudah ditinggalkan orangtua. Yono kecil pun merantau dari tempat kelahirannya di Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah, ke Jakarta.

Berjualan jagung rebus, es lilin, dan koran ia lakoni di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, sebelum melanjutkan perantauan hingga ke daerah Tulung Selapan, Sumatera Selatan. Di sinilah ia menemukan jodoh, menikahi Nuraini (1977) yang memberinya empat anak, sebelum meneruskan perantauan ke Pulau Bangka…. (ken)

sumber : kompas cetak edisi 21 NOvember 2008

Wulandari dan Pengajaran Bahasa Inggris

Rabu, 26 November 2008 | 02:14 WIB

RUNIK SRI ASTUTI

Sri Wulandari menyadari, bahasa Inggris adalah media pembuka jendela dunia. Akan tetapi, karena faktor ekonomi, banyak masyarakat yang belum mampu berbahasa Inggris. Kesadaran itulah yang membuat dia ngotot mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak dari kampung ke kampung. Semuanya diberikan secara cuma-cuma.

Bersama enam temannya sesama alumni lembaga kursus bahasa Inggris di Kecamatan Pare, Kediri, Jawa Timur, Wulan mendirikan sebuah organisasi sosial kepemudaan yang bergerak di bidang pendidikan. Namanya Forum Putra Daerah Peduli Pendidikan (FPDP2) yang didirikan pada tahun 2003. Lembaga ini memberikan pendidikan bahasa Inggris yang baik dan benar kepada segenap lapisan masyarakat tanpa memandang strata sosial.

Materi bahasa Inggris dipilih karena merupakan bahasa internasional. ”Bahasa Inggris adalah suatu kebutuhan, sama halnya dengan bahasa Indonesia. Bangsa kita tertinggal, salah satu penyebabnya, karena masyarakat tidak dapat berkomunikasi menggunakan bahasa dengan baik dan benar,” ujar penerima penghargaan dari Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai Sarjana Penggerak Pemuda Pedesaan tahun 2006 ini.

Oleh karena itu, visi lembaga yang dibentuknya itu adalah membangun komunitas berbahasa Inggris di Kediri. Konkretnya, dengan membentuk klub- klub di lingkungan sekolah dan sanggar belajar di lingkungan masyarakat. Kegiatan klub di sekolah dilakukan seusai jam pelajaran. Ternyata, antusiasme siswa menyambut kegiatan belajar tambahan itu sangatlah tinggi.

”Peminat selalu membeludak, apalagi pada saat menjelang ujian akhir. Nuansa belajar di klub yang tidak formal membuat anak-anak merasa betah,” kata Juara I Bidang Kepeloporan Pendidikan oleh Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga, 2006. Untuk memotivasi siswa, setahun sekali digelar kompetisi bahasa Inggris antarsekolah. Untuk menjaga kesinambungan klub bahasa Inggris di sekolah, FPDP2 membina siswa-siswi berprestasi menjadi pengurus klub.

Mengembangkan kelompok belajar di sanggar jauh lebih sulit dibanding di klub di sekolah. Sampai tahun 2008, baru enam sanggar belajar di enam kelurahan dari 46 kelurahan di Kota Kediri yang berhasil didirikan. Akan tetapi, kini dua sanggar mati suri.

Kendala dana

Banyak kendala menghadang, terutama sulitnya mencari lokasi karena keterbatasan dana. Sebagai lembaga sosial yang bergerak di bidang pendidikan, pendanaan FPDP2 tergantung pada iuran pengurus. Iuran itu dipakai untuk membiayai operasional, mulai menyiapkan modul, membeli alat tulis, hingga menyewa rumah untuk mendirikan sanggar belajar.

Kondisi keuangan yang tidak cukup itu membuat Wulan kurang leluasa bergerak. Namun, ia harus mencari cara agar niat baik terwujud. Untuk mendirikan sanggar, misalnya, ia mencari orang yang bersedia meminjamkan ruang di rumahnya. Jika itu tercapai, barulah ia mencari pengajar yang rela tidak dibayar.

Bagi gadis kelahiran Kediri, 27 tahun silam ini, mengajar tanpa dibayar merupakan hal biasa. Bahkan, lebih sering ia harus merogoh kocek pribadi. Tak ayal lagi, hasil kerja kerasnya memberikan les privat terkuras untuk membiayai kegiatan sanggar belajar. Uang yang ia kumpulkan untuk biaya kuliah di Jurusan Bahasa Inggris Universitas Islam Kediri juga tak pernah bertahan lama di kantongnya. Padahal, Wulan harus membiayai sendiri kuliahnya.

Ayahnya yang bekerja di PT Gudang Garam Kediri berpenghasilan pas-pasan, sedangkan ibunya hanyalah ibu rumah tangga. Apalagi Wulan memiliki tiga adik yang juga memerlukan biaya sekolah.

Untuk memungut biaya dari murid-murid yang belajar di sanggar, ia tidak tega. Pasalnya, mereka adalah anak orang-orang dengan penghasilan pas-pasan. ”Anak-anak mau datang dan belajar saja sudah bagus. Kalau ditarik iuran, nanti malah kabur,” katanya.

Meski demikian, putri pasangan Waluyo dan Sugiarti ini tak pernah mengeluh soal uang. Semangatnya juga tidak meredup hanya karena kesulitan dana. Sebaliknya, semua masalah yang menerpa perempuan yang baru dipersunting Syam Al Anshory, Oktober 2008, ini justru menjadikan dirinya lebih dewasa.

Oleh karena itu, hampir setiap hari ia memeras otak mencari ide kreatif guna mendapatkan sumber pendanaan yang mampu membiayai kegiatan pendidikan. Salah satunya adalah mengirimkan proposal permohonan bantuan dana ke instansi pemerintah, swasta, dan perorangan.

Yakinkan masyarakat

Belum tuntas masalah pendanaan, masalah lain muncul lagi. Kegiatan belajar bahasa Inggris yang diselenggarakan Wulan dan kawan-kawannya mendapat penolakan dari masyarakat, terutama di kampung-kampung. Bagi sebagian orang awam, apalagi di daerah pedesaan, bahasa Inggris bukan sesuatu yang patut diprioritaskan. Bahasa Inggris juga dianggap membawa pengaruh negatif bagi anak-anak, seperti halnya pengaruh budaya Barat yang dinilai sangat bertentangan dengan nilai-nilai Timur.

Setelah memelopori pendidikan bahasa Inggris di Kediri, Wulan yang sekarang menjadi dosen di Universitas Islam Kediri itu mulai melebarkan sayap ke beberapa kota di Jatim. Ia membangun sebuah organisasi sosial yang dinamakan Aliansi Merah Putih, yang beranggotakan pemuda-pemuda dari berbagai kota di Jatim yang memiliki kepedulian di bidang pendidikan.

”Saat saya berada di luar negeri, saya sadar bahwa bahasa Inggris saya masih buruk. Saya jadi malu dan bertekad untuk memperbaikinya agar bisa memberikan yang lebih baik lagi kepada anak-anak bangsa,” kata perempuan yang pernah meraih ASEAN Youth Award 2006 for Singular Excellence in the choosen field in conjunction with the 13th ASEAN Youth Day Meeting di Malaysia tahun 2006 ini.

sumber : kompas cetak edisi 26 November 2008

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.