Afzalurrahman Assalam, Hafizh Quran ITB

Jangan salah sangka jika hafizh quran atau orang yang hafal quran 30 juz hanya ada di pesantren atau hanya sekolah di bidang keagamaan saja. Tak sedikit yang menempuh pendidikan formal di bidang selain agama. Contohnya yang ada di Institut Teknologi Bandung. Seorang mahasiswa yang hafal 30 juz quran, Afzalurrahman Assalam namanya. Mahasiswa Teknik Geofisika angkatan 2004 ini telah hafal al quran sejak duduk di bangku SMP. Melalui perbincangan via internet, Aaf, begitu ia akrab disapa menceritakan sedikit pengalaman menghafal quran hingga biaya kuliah yang ia tanggung sendiri.

Motivasi menghafal quran, Aaf akui keinginannya agar termasuk golongan yang Allah berikan keistimewaan di akherat kelak. Ketika sekolah di MTs (setingkat SMP), Aaf mengikuti program menghafal quran di Ponpes Al Hikmah, Cirebon. Dalam waktu kurang dari 3 tahun, Aaf telah menghafal seluruh isi quran. Menurutnya dengan menghafal quran, hatinya menjad tenang dan selalu menjadi juara kelas saat di MTs. Hingga kini pun diyakininya dengan menghafal dan berinteraksi dengan quran, emosinya lebih stabil dan tenang walau menghadapi persoalan seberat apapun. ”Membaca dan mendalami quran sudah menjadi hiburan khusus bagi saya” tukasnya.

Keberhasilan yang dicapainya diyakini tak lepas dari didikan orang tua. Selain pendidikan quran sejak kecil, penjagaan orang tua terhadap anak-anaknya yang ketat diakuinya menjadi kunci kesuksesannya. ”Gemblengannya setiap hari tidak boleh nonton televisi sebelum meyelesaikan tugas-tugas sekolah” akunya. ”(Pesan) yang paling saya ingat adalah motto mereka we are born to be the champ,” imbuh sulung dari sebelas bersaudara ini. Dalam menghafal quran menurutnya yang terpenting adalah semangat dan komunitas yang mendukung. Oleh karena itu saat di SMA dan sekarang kuliah, Aaf selalu mencari komuitas penghafal quran agar hafalannya terjaga.

Walaupun merupakan anak anggota DPR RI, Aaf memenuhi biaya kuliahnya secara mandiri, ”biaya kuliah dari bisnis (percetakan) sejak dua semester ini”, akunya yang menanam modal pada bisnis percetakan di Yogyakarta.

Selain membaca quran di waktu luangnya, Aaf juga senang menulis termasuk di blog pibadinya.”(Bahkan) lolos dalam seleksi Pertamina Youth Program (PYP) IV tahun ini karena (kemampuan) menulis terlebih dulu”, ungkap peserta Program Pembinaan SDM Strategis (PPSDMS) Nurul Fikri angkatan III regional Bandung ini.

Lebih banyak terlibat di organisasi luar kampus, membuat Aaf lebih banyak berinteraksi dengan masalah-masalah kemasyarakatan. Tergabung dalam Forum Indonesia Muda angkatan IV memberikan kesempatan padanya memperjuangkan RUU APP ketika pemerintah melakukan dengar pendapat masyarakat sebagai wakil mahasiswa. Aktif di bagian kepemudaan Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indonesia, menjadi narasumber acara TV Sahur Ramadhan di Lativi tahun 2004, dan pembicara acara dialog di MQTV  tahun 2007 salah satu pengalamannya. Tak mengherankan jika akhir bulan januari 2008 nanti, Aaf akan diundang ke Thailand oleh KBRI dan komunitas muslim Indonesia di sana.

Di ITB sendiri, Aaf merupakan anggota MPO Majelis Ta’lim (Mata) Salman. ”(Selebihnya) mendukung aktivitas-aktivitas kampus (ITB) supaya lebih banyak berkontribusi kepada masyarakat” yang menurutnya masih minim dilakukan. ”(Setidaknya) kurangi konsumsi BBM bagi yang membawa mobil, ini isu global warming, jangan tenggelam dalam dunia hedonisme”, pesannya.

sumber : http://www.itb.ac.id

Peneliti Membran Kelas Dunia (2)

(sambungan dari tulisan terdahulu)

Aplikasi membran untuk air minum

Aplikasi membran di bidang produksi air minum sudah sangat luas, dan teknologinya pun sudah berkembang pesat. Namun hingga kini produksi air minum kita  (PDAM) masih menggunakan cara-cara konvensional yang menyebabkan kualitas air masih di bawah standar air minum sehingga tidak dapat langsung diminum. ”PDAM sudah seharusnya menggunakan membran”, ungkap beliau. ”tapi apakah PDAM mau mengadopsi teknologi ini atau tidak itu bukan urusan kita, tekankan ini dengan keras”, lanjutnya.  ”Kita bersedia membantu tetapi saya tidak mau masuk dalam sistem mereka, birokrasi, yang akan menempatkan kita sesuai sistem mereka”, tutur beliau dengan tegas. Peneliti kita ini memang sosok yang ogah berurusan dengan masalah birokrasi pemerintahan. Namun beliau berani memberikan garansi bahwa penggunaan membran di sektor ini sangat kompetitif baik dari segi kualitas maupun segi keekonomisan.

“Level harga air minum kita saat ini masih terlalu tinggi sebenarnya. Jadi kalo akses air bersih itu mahal kita kurang setuju untuk itu. Kita sebenarnya sudah siap dengan teknologi portable drinking water yang mampu menghasilkan air kualitas tinggi. Bahkan rumah-rumah bisa memiliki instalasi air bersih sendiri dengan harga terjangkau”, itulah solusi yang ditawarkannya.

Posisi Industri Membran Indonesia

Indonesia memang terlambat start dalam teknologi membran. Negara-negara maju seperti USA, Jepang, telah mulai mengembangkan membran sejak 50 tahun yang lalu. Sementara kita jauh tertinggal dari mereka. Namun, saat ini kita sudah mulai bangkit dan mengejar ketertinggalan . ”Statemen kita di dunia membran keras dan saya rasa kita diakui diseluruh dunia”, kenang beliau saat memberikan plenary lecture pada Simposium membran ketiga beberapa waktu yang lalu. ”Membran kita lebih murah dari negara lain, khususnya di Asia. Bahkan lebih murah dari buatan Cina. Soal kualitas kita garansi”. Tanpa mengungkapkannya lebih jauh beliau lalu menceritakan sekilas tentang simposium membran yang diadakan di ITB beberapa waktu lalu (26-27/04/05). ”Afrika Selatan bahkan ngambil membran dari kita dan segala sektor sedang dijajaki untuk aplikasi membran dari kita”, lanjut beliau menjelaskan hasil dari simposium itu. Sebagai negara berkembang kita memang harus memiliki strategi jitu untuk mampu bersaing dengan negara-negara yang sudah maju.

Peran Pemerintah dalam Industri Membran

”Pemerintah nggak perlu ngrecoki, dan kita jangan terlalu berharap dengan peran pemerintah. Kalo mau regulasi juga silakan tetapi nantinya suka-suka mereka juga. Pemerintah ngatur pemerintahan dengan baik aja lah. Kalo pemerintah bisa akomodatif dan adaptif pasti kita dukung.  Kalo pemerintah memang akomodatif seperti PDAM kan merupakan salah satu peran pemerintah, jadi ya itu terserah mereka”, tutur beliau.

Tentang Penelitian

Masalah klasik seperti keterbatasan dana, diakui oleh beliau memang masih ada. Namun karena sudah terbiasa dan memiliki strategi tertentu maka hal itu bisa dihadapi. sendiri. ”Kalo kita mengandalkan pihak lain kita nggak jalan-jalan’, ujarnya. Tentang aplikasi di industri Wenten memiliki rumus jitu. ”Penelitian mengikuti alur mekanisme pasar. Kalo penelitian kita berkualitas dan dibutuhkan oleh industri maka tidak ada alasan kenapa mereka (industri) tidak membiayai dan menggunakannya”. Tidak seperti di Eropa dan negara-negara maju, peneliti di Indonesia tidak dibiayai negara.”Peneliti kita disuruh cari makan sendiri. Sehingga kita mati-matian membuat karya yang lebih kreatif dan inovatif agar penelitiannya tetap bisa jalan”, kenang beliau.

Ditanya tentang kerjasama penelitian, beliau ternyata memiliki banyak kerjasama dengan dunia Industri. Bahkan di bidang kelapa sawit nilainya mencapai empat miliar rupiah. Namun tidak sama halnya dengan kerjasama dengan peneliti lain. ”Saya itu berat sekali kalo mengenai kerjasama antar peneliti, karena kita tidak mau direpotkan oleh persoalan  rutinitas kampus persoalan antar peneliti yang seringnya hanya ’sama-sama’nya tapi kerjanya nggak jalan-jalan”, begitu penjelasan beliau.

Aplikasi Membran Skala Kecil

Aplikasi membran skala kecil banyak dirintis oleh beliau. Sebut saja alat portable drinking water, ’tebuku’ untuk petani tebu, Small Residential Ultra Purifier Package untuk rumah tangga, RO emergency kit, dan masih banyak yang lain. Bahkan tukang bakso pun diharapkan bisa memanfaatkan membran sehingga tidak perlu mencari air setiap saat. Alat-alat inipun telah digunakan dalam penanggulangan pasca Tsunami di Aceh, karena bentuknya yang kompak, ringan, dan mudah dibawa. Bahkan untuk RO emergency kit tidak membutuhkan pompa listrik hanya dioperasikan dengan pompa tangan.

”Kalo sekarang kemarau saya bisa jamin kalian tidak akan mengalami kekeringan. Air yang sudah dipake mandi ,cuci, dan sebagainya jangan dibuang. Ditampung ntar kita olah dan dipake lagi. Misalnya di atas dipake mandi, ntar dilewatkan membran berikutnya dipake apa gitu seterusnya”, papar beliau meyakinkan.

”Kalian harus bisa buktikan sendiri omongan saya. Kalo statemen kita keras seperti ini maka itu pasti sudah berdasar. Kalian harus bisa jadi penerus”, begitulah pesan beliau menutup pembicaraan.

(erwin)

sumber : http://www.itb.ac.id

Peneliti Membran Kelas Dunia (1)

Setelah melalui perjuangan panjang, akhirnya kami memperoleh kesempatan berbincang dengan I Gede Wenten. Diterima di ruang kerjanya yang sederhana, di Lantai I Gedung PAU (Penelitian Antar Universitas). Memasuki ruangan, kami disambut dengan berbagai piagam, plakat, dan medali penghargaan dari berbagai institusi yang pernah diraih, yang dipajang di salah satu sudut ruang. Segera setelah kami memperkenalkan diri, beliau menyilakan kami untuk duduk dan mulai wawancara.

I Gede Wenten merupakan sosok yang sangat energik dan bersemangat. Pria yang kerap dipanggil Wenten ini ini, selalu memberi inspirasi dan motivasi bagi lawan bicaranya. Dosen Departemen Teknik Kimia ITB yang mengaku senang menggunakan batik dalam kesehariannya ini, menghabiskan sebagian besar waktunya untuk dunia pendidikan dan penelitian. Selalu optimis namun tetap bersahaja adalah ciri khasnya.

I Gede Wenten merupakan sosok fenomenal di dunia industri membran. Betapa tidak, paten pertama sebagai hasil disertasi doktoralnya langsung mendapat perhatian dunia membran bahkan disebut-sebut sebagai revolusi terbesar pada industri bir dalam 50 tahun terakhir. Paten pertamanya tentang klarifikasi bir di Denmark ini adalah karya yang pertama mengangkat namanya. Penemuan itu sanggup membuat orang berdecak kagum karena sang penemunya justru orang Indonesia yang tidak memiliki industri bir besar seperti di Denmark. Penghargaan tertinggi dari Filtration society di London pun di sabetnya, bukti dari tingginya inovasi dalam temuan beliau. Produktifitas dan semangatnya yang sangat tinggi menjadikan beliau disegani banyak pihak, bahkan dari peneliti senior sekalipun.

Sejarah Pendidikan

Wenten lahir 43 tahun yang lalu di lingkungan keluarga nelayan kecil di Desa Pengastulan, Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali. Kehidupan sulit dimasa kecil telah menempanya menjadi pribadi yang mandiri dan pekerja keras. Ia meraih gelar sarjana di Jurusan Teknik Kimia ITB tahun 1987. Alur hidupnya kemudian membawanya melanjutkan studi ke Denmark. Gelar master tahun 1990 dan doktor tahun 1995 diraihnya dari Denmark Technical University (DTU). Saat mengambil program doktornya itu, ia berhasil menemukan dan mematenkan kontribusi pertamanya di dunia membran. Saat ini beliau aktif menjadi staff pengajar di Departemen Teknik Kimia ITB

Meraih Penghargaan dan Paten

Kiprah dan kualitasnya di bidang membran sudah diakui dunia. Berbagai penghargaan dari berbagai institusi telah diraihnya. Sebut saja “Suttle Award” dari Filtration Society di London, sebuah penghargaan tertinggi dari institusi tersebut bagi para peneliti di bawah usia 35 tahun. Penghargaan ini diperoleh atas karyanya yang berjudul “Mechanisms and Control of Fouling in Crossflow Microfiltration”,yang di buat pada tahun 1994. Dalam perjalanan kariernya yang bersangkutan juga berhasil meraih penghargaan “Adhicipta Rekayasa” dari Persatuan Insinyur Indonesia pada tahun 1995, “Science and Technology Award” dari Indonesia Toray Science Foundation tahun 1996, Penghargaan “Peneliti Muda Indonesia” dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia tahun 1996, Habibie Award tahun 2000, dan “Wipo Award” dari WIPO-UNDP sebagai “Best Inventor”, serta “RUT Award” dari Kementerian Riset dan Teknologi pada tahun 2004. Selain itu beberapa paten juga telah terdaftar di lembaga paten Indonesia, Jepang, Kanada, dan USA

Namun diluar sangkaan bahwa penghargaan yang menjadi favorit beliau, dan ternyata tidak pernah tercantum di CV, adalah dikukuhkan sebagai alumni terbaik ITB ’82. “Memperoleh pengakuan dari teman sendiri itu lebih sulit. Dunia boleh mengakui, tapi kalo teman, sampai mati pun kadang tetap nggak mau mengakui’, begitulah pengakuan Wenten ketika ditanya alasannya. “Penghargaan itu bagi saya adalah beban moral untuk tetap semangat berkarya”, lanjutnya.

Visi dan Misi dalam Dunia Membran

Saat ini perkembangan dunia membran sangat pesat dan kian hari pemanfaatannya bak jamur di musim penghujan. Namun aplikasi membran masih didominasi oleh perusahaan ataupun industri yang beroperasi dalam skala besar. ”Membran nantinya bisa dipake dimana-mana, membran dapat diaplikasikan disegala sektor bahkan termasuk rumah tangga dan penjual bakso sekalipun”, begitulah masa depan membran dalam pandangan Wenten. Selain itu, beliau juga bertekad untuk memerangi anggapan bahwa membran itu mahal sehingga tidak kompetitif. ”Saat ini harga membran sudah bisa ditekan sampai seperempat dari harga sebelumnya sehingga membran bisa sangat kompetitif”, ujar beliau meyakinkan.

Aplikasi Membran di Industri dan Medis

Aplikasi membran di industri sangat banyak. Saat ini yang paling banyak pada aplikasi pemurnian air dan pengolahan limbah. Aplikasi industri yang sedang dikembangkan di Indonesia, khususnya ITB, adalah aplikasi di bidang medis untuk produksi Dialysate dan mesin Mesin Hemodialisis. Bidang Bioteknologi untuk Single-Cell Protein Production, Cell recovery, dan membran bioreaktor (MBR). Juga dibidang lain seperti refinasi gula, pengolahan starch, Kelapa Sawit, tambak, dan sebagainya.

Beberapa aplikasi di Indonesia memang berbeda dari yang biasa digunakan di dunia. Seperti aplikasi di tambak udang, mungkin kita yang pertama di sektor ini. Bahkan menurut beliau, Indonesia adalah negara satu-satunya yang memanfaatkan teknologi membran di sektor ini.

Aplikasi membran untuk keperluan medis juga sangat diharapkan masyarakat, mengingat biaya cuci darah yang sangat mahal. ”Tidak hanya ginjal buatan, segala komponen cuci darah kita udah ada jalan ke sana. Ya kapanpun pemerintah siap ya kita siap untuk jalankan ini”, ungkap beliau optimis.

(bersambung)

sumber : http://www.itb.ac.id

Megah Mencetak Sawah di Kolong Timah

Jumat, 13 Maret 2009 | 03:29 WIB

BENNY DWI KOESTANTO

Sudah lama ada anggapan bahwa lahan bekas tambang timah atau kolong di Kepulauan Bangka Belitung tidak bisa direhabilitasi, direklamasi, apalagi menghasilkan. Namun, semua itu mentah di tangan Megah Hasan. Dengan tekun dan semangat luar biasa, pria asli Pangkal Pinang itu berhasil mencetak sawah di kolong timah.

Datanglah ke Kampung Jeruk, Pangkalan Baru, Bangka Tengah, 15 kilometer arah selatan kota Pangkal Pinang. Hamparan hijau petak-petak sawah yang sedang ditanami padi menjadi sebuah ”oase” di antara kolong-kolong timah, yakni kolam-kolam bekas galian dan gundukan tanah di sekelilingnya. Dua tahun lalu, kawasan itu mirip tempat ”jin buang anak”, tandus, sepi tak dijamah orang, dan merana setelah disedot bijih timahnya.

”Timah itu berkah bagi orang Bangka. Kita boleh menambangnya, karena itu memberi nafkah. Tapi, janganlah kita serakah untuk generasi kita semata. Penambangan membabi buta hanya meninggalkan nestapa bagi anak cucu kelak,” kata Megah di pondokan yang baru setengah selesai dibangun di lahan persawahannya, pekan lalu.

Pondokan itu berada di atas kolong terluas di kawasan itu. Di sinilah Megah terus memikirkan masa depan tanah kelahirannya, terutama fase ”apa lagi setelah masa jaya timah yang meninggalkan kerusakan lingkungan dahsyat di Bangka Belitung berakhir”. Terasa sulit membayangkan kenyataan lahan kritis di Bangka Belitung akibat pertambangan timah mencapai 1.600 hektar atau sekitar seperlima dari total wilayah kepulauan itu.

Selama ini upaya penyelamatan lingkungan lebih banyak dilakukan dengan reklamasi lahan, lalu ditanami aneka pepohonan. Namun, bagi Megah, pertanian lestari yang ditopang kegigihan menjadi salah satu jawabannya.

Dari lahan seluas 24 hektar, Megah mencetak seperempatnya menjadi lahan sawah dengan tanaman padi berbagai jenis dalam kurun waktu kurang dari dua tahun terakhir. Akhir tahun lalu ia mampu menghasilkan rata-rata 4-5 ton gabah kering per hektar lahan.

”Hasil itu tidak jelek, tapi juga belum berhasil. Pada sawah normal dengan irigasi lancar hasil rata-rata 8-9 ton gabah kering per hektar, sementara saya setengahnya. Cita-cita saya, masyarakat kepulauan ini tidak terlalu tergantung dari beras luar (pulau),” katanya.

Sekitar 200 meter dari pondokan Megah, di bagian depan lahan persawahan itu terdapat peternakan sapi pedaging dan sapi perah, serta lele dumbo. Ia mencoba mempraktikkan sistem pertanian terintegrasi. Namun, mencetak lahan sawah merupakan fase tersulit.

Pasalnya, tak ada irigasi teknis di sekitar kolong sawah Megah. Dia terpaksa menggunakan sumber air dari kolong-kolong yang ada. Tetapi, air kolong sangat rendah kandungan asamnya karena campuran timah dan logam-logam lain. Untuk menambah keasaman air, ia menanam eceng gondok di kolam-kolam tersebut.

Jika dirasa jumlahnya berlebihan, eceng gondok lalu diambil, dijemur, dan dijadikan pupuk kompos. Air dari kolong itulah yang digunakan mengairi sawah dengan cara dipompa. Sebelum untuk mengairi sawah, terlebih dulu air itu ditampung pada satu kolam khusus, dicampur air kencing sapi serta air dari kolam budidaya lele. Itulah mengapa ia tak menggunakan pupuk kimia pada tanaman padi di sawahnya.

Persoalan kedua adalah tanah. Gundukan-gundukan tanah harus diratakan. Untuk itu, Megah menggunakan ekskavator. Satu hektar lahan membutuhkan waktu dua hari, disusul seminggu untuk pencetakan sawah. Luas petakan tergantung selera, tetapi jangan terlalu luas agar air merata.

Langkah selanjutnya identifikasi tanah, terutama mengetahui ketebalan lapisan pasir. Kalau pasir terlalu tebal, air yang dialirkan tak tertampung karena meresap. Untuk menyiasati, ia menambahkan pupuk kandang dan kompos berupa jerami dan daun eceng gondok kering yang diaduk dengan traktor. Ia mendiamkan lahan itu beberapa pekan. Jika di atas tanah telah tumbuh ilalang, itu pertanda lahan siap dicetak menjadi sawah. Maka, tanah pun diaduk dan diolah kembali menjadi sawah.

Belajar dari Jepang

Upaya pencetakan sawah itu merupakan buah perjalanan Megah ke Kobe, Jepang. Hampir separuh perjalanan hidupnya dihabiskan di kota itu. Selepas SMA di Pangkal Pinang, ia merantau dan bekerja di perusahaan otomotif, hingga ia mampu mendirikan usaha berbasis otomotif pula. Ia menikah dengan gadis Jepang, dan menetap di Kobe dengan dua putranya.

Sejak menjadi petani di Bangka, otomatis ia tinggal sendiri di Pangkal Pinang. Dua bulan sekali ia menemui keluarganya di Kobe. Atau di kala liburan sekolah, keluarganya berkunjung ke Pangkal Pinang. Sementara bisnisnya tetap berjalan, dengan berkelakar ia mengaku mampu mengawasi usaha itu dari sawahnya di Kampung Jeruk. Di Bangka ia terdaftar sebagai komisaris salah satu perusahaan peleburan (smelter) timah swasta.

Ia memang hobi dan cinta bertani. Ia mulai bertani di Kobe sejak awal 1990-an, kala bersama dua teman membeli sepetak lahan sawah berukuran 1.000 meter di pinggiran kota. Ia bertani intensif di akhir pekan. Intensifikasi pertanian Jepang, katanya, sangat jelas. Lahan sempit dibayar lunas dengan hasil maksimal karena sistem pertanian yang maju dengan sistem bimbingan petugas lapangan pertanian secara simultan.

”Setiap petugas penyuluh di Jepang mempunyai kebun atau sawah percobaan sendiri. Mereka meneliti, beruji coba, dan dipraktikkan secara cermat. Coba bandingkan dengan penyuluh di sini,” katanya.

Praktik pertanian ala Negeri Sakura itulah yang diterapkannya di Kampung Jeruk. Hampir sehari penuh ia berada di sawah. Merenung dan berpikir di pondokan, lalu ke sawah lagi, begitu seterusnya. Tak jarang ia pergi ke sawah malam hari, sekadar melihat kondisi tanaman. Maka ia mampu menyebutkan berapa jenis hama, capung, hingga kupu di persawahan.

Salah satu hal menarik pada sistem pertanian Megah adalah jumlah petani. Untuk mengolah lahan seluas enam hektar itu, ia dibantu tiga karyawan. Katanya, pengaturan waktu dan jadwal pengerjaan lahan adalah kuncinya. Mereka bekerja profesional layaknya pekerja kantor, pukul 08.00-16.00 dengan istirahat satu jam per hari. Mereka digaji minimal Rp 1,25 juta per bulan. Mereka juga dibuatkan rumah tinggal di sekitar area persawahan, lengkap dengan listriknya.

Megah bangga dengan salah satu pencapaiannya ini. Pencetakan sawah menjadi bagian dari Bangka Goes Green, program corporate social responsibility PT Bangka Belitung Timah Sejahtera, konsorsium beberapa perusahaan smelter timah di Pangkal Pinang.

Namun ada hal yang menggelisahkannya, yakni bagaimana mengenalkan dan mengajak warga pemilik kolong mengikuti jejaknya. Sebab, butuh biaya tak sedikit untuk mencetak sawah. Ia telah menghabiskan Rp 600 juta untuk semua itu, di luar pembelian lahan.

”Tanpa bantuan pemerintah atau perusahaan swasta besar, pencetakan sawah sulit terealisasi dalam waktu singkat. Sudah saatnya pemerintah daerah di Bangka peduli lingkungan, demi generasi mendatang,” kata Megah.

Sumber : Kompas Cetak edisi Jum’at, 13 Maret 2009

Aku Ingin Bersedekah


Di Bontang, Kalimantan Timur ada sebuah perusahaan kaya raya dengan fasilitas yang luar biasa bagi karyawannya. Penghasilan para pegawainya berlipat-lipat dibanding dengan perusahaan swasta maupun nasional lainnya. Tunjangan berupa rumah, mobil, pendidikan anak bahkan makan pun diberikan. Beberapa kali saya berkunjung ke sana maka saya hanya berkomentar, “Betapa beruntungnya mereka yang tinggal dan bekerja di tempat ini!” Mereka hidup di sebuah komplek yang terisolir dari dunia Bontang. Pagar-pagar mereka kokoh berdiri dan lengkap dengan petugas keamanan yang membuat komplek perumahan itu terisolir dari dunia luar

Penghasilan besar yang mereka dapat, -mungkin sebab sulit untuk mendapatkan mustahik-, maka kewajiban zakat dan sedekah pun barangkali tak tersalurkan. Namun meski demikian hal yang menjadi hak Allah adalah tetap menjadi hak-Nya. Di mana suatu saat Dia pun akan menagihnya.

Kira-kira 17 tahun yang lalu Reni hamil untuk pertama kali. Allah Swt menakdirkan bahwa Reni keguguran. Maka dari Bontang, ia pun diantar oleh suaminya pergi ke Balikpapan dengan pesawat untuk berobat ke seorang dokter terkenal di sana bernama Yusfa. Akhirnya Reni dikuret rahimnya.

Sepulangnya dari Balikpapan, Reni mendapati dari qubulnya selalu keluar darah dalam jumlah banyak. Bahkan lebih banyak dari menstruasi rutin. Apalagi bila ia bangun tidur, ia dapati kasur dan sprei selalu bersimbah darah. Ia panik dan kalut mengatasi hal ini. Maka ia pun kembali lagi ke Balikpapan bersama suaminya untuk berobat ke dokter Yusfa.

Sayangnya sang dokter tidak mengerti sebab pendarahan hebat ini. Maka yang terjadi adalah kali itu Reni dikuret lagi. Sakit dan perih, itulah yang dirasakan Reni!

Namun pendarahan itu masih tetap saja terjadi, padahal hampir setiap dua hari sekali Reni dan suami terbang Bontang-Balikpapan untuk mengkonsultasikan penyebab pendarahan ini. Namun tindakan yang diambil oleh dokter Yusfa hanyalah mengkuret rahim Reni. Reni dan suami hanya bisa pasrah dan berharap pertolongan Allah Swt atas musibah ini.

Kejadian ini berlangsung cukup lama. Hingga tubuh Reni bertambah ringkih, rumah tangga tak terurus, uang tabungan terkuras dan suami tidak bisa bekerja tenang sebab harus sibuk mengurusi Reni. Sepertinya ada sebuah cobaan besar yang sedang Allah Swt timpakan kepada Reni dan suaminya.

Reni & suami terus berdoa kepada Allah Swt agar diberi jalan keluar dari masalah ini.

Hingga akhirnya Allah Swt pun mendengar dan mengijabah doa mereka

Hari itu Reni dan suami hendak terbang ke Balikpapan untuk berkonsultasi dengan dokter Yusfa. Namun ada suara hati yang berbisik pada diri Reni. Ia bawa sejumlah uang dalam jumlah besar. Uang itu bukan ia niatkan untuk bayar biaya pengobatan, akan tetapi ada sebuah cita-cita mulia di sana yang ingin ia wujudkan. Cita-cita itu adalah, “AKU INGIN BERSEDEKAH!” Sejumlah uang itu pun ia masukkan ke dalam tas tangan yang Reni bawa.

Pesawat telah membawa Reni dan suaminya pergi menuju Balikpapan. Setibanya di bandara Sepinggan, Balikpapan Reni berjalan tertatih dipapah oleh sang suami. Dengan susah payah, Reni pun akhirnya tiba di dalam ruang bandara. Di dalam hati Reni berdoa kepada Tuhannya, “Ya Allah, datangkan untukku seorang pengemis yang bisa menerima sedekahku. Izinkan aku untuk bersedekah di hari ini!”

Keinginan untuk bersedekah itu membuncah lagi di hati Reni. Sungguh ia amat berharap untuk bisa bersedekah kali itu.

Pintu keluar bandara sudah dilalui oleh Reni dan suami. Subhanallah, tiba-tiba ada seorang pria berpakaian lusuh menyapa Reni dan menjulurkan tangan tanda minta sedekah. Reni bergembira dan yakin bahwa inilah ijabah doa dari Allah Swt. Tanpa banyak berpikir, ia merogoh tas tangannya. Sejumlah uang yang sudah disiapkan ia berikan ke tangan pengemis itu. Maka pengemis dan suami Reni melongo melihat jumlah uang yang Reni sedekahkan. Reni pun melanjutkan langkahnya bersama suami dan kemudian mereka masuk ke dalam sebuah taksi untuk pergi ke rumah sakit tempat dokter Yusfa berpraktek.

“Untuk apa uang sebanyak itu kau sedekahkan?! ” tanya sang suami. Reni menjawab dengan yakin, “Boleh jadi dengan sedekah itu Allah Swt menyembuhkan penyakitku, Pa!” Mendapati jawaban seperti itu suami Reni tidak banyak mendebat. Memang di saat-saat seperti ini, hanya pertolongan Allah saja yang dapat menyelamatkan mereka.

Seperti kali sebelumnya, tidak ada jawaban positif dari dokter Yusfa atas penyebab pendarahan yang keluar dari qubul Reni. “Hingga saat ini, saya belum tahu pasti apa penyebabnya” jelas dokter Yusfa.

Maka Reni dan suami pun kembali ke Bontang tanpa hasil memuaskan.

Pendarahan hebat masih terus terjadi dari rahim Reni setiap hari. Reni hanya bisa bersabar dan pasrah atas takdir yang telah Allah Swt tetapkan pada dirinya. Pagi itu, Reni tengah berada di dapur untuk membuat masakan ringan. Tiba-tiba terasa olehnya ada sesuatu yang tidak beres di perutnya dan ia pun ingin pergi ke toilet. Rasa ingin buang air itu seperti tak terkendali.. . Hingga Reni harus berlari sebab khawatir ia tak kuasa menahannya. Atas izin Allah Swt ia kini sudah berada di kamar mandi. Namun hanya pakaian luar saja yang sempat ia buka, sedangkan pakaian dalam tak sempat ia tanggalkan. Rupanya ada segumpal daging penuh darah yang keluar dari qubul Reni dan ternyata ia tidak mau buang air. Segumpal daging penuh darah itulah rupanya yang membuat Reni terdesak untuk buang air.

Merasa aneh dengan segumpal daging itu, maka Reni mengambil sebuah kantong plastik kecil dan memasukkannya ke dalam kantong tersebut. Reni berpikir bahwa ia harus menanyakannya kepada dokter Yusfa tentang benda aneh ini.

Pagi itu adalah jadwal Reni berkonsultasi dengan dokter Yusfa. Ia seperti biasa pergi ke Balikpapan didampingi oleh suaminya. Konsultasi kali itu, seperti biasa tidak memberikan perkembangan ke arah positif sama sekali. Hampir saja Reni putus asa dengan keadaan ini. Namun tiba-tiba ia teringat akan kejadian aneh kemarin pagi. Lalu ia pun merogohkan tangannya ke dalam tas dan mencari-cari plastik kecil berisi segumpal daging penuh darah. Ia keluarkan plastik kecil itu dan ia sodorkan kepada dokter Yusfa. Kejadian aneh kemarin pagi itu diceritakan oleh Reni kepada dokter Yusfa. Dokter Yusfa menerima plastik berisikan benda aneh itu. Dahinya berkerut tanda bahwa ia berpikir keras tentang benda ini. Dan beliau pun berkata, “Ibu dan bapak mohon tunggu sebentar di sini. Saya akan pergi ke laboratorium untuk memeriksakan hal ini!”

Saat dokter Yusfa pergi meninggalkan ruangannya, Reni dan suami hanya berharap bahwa dokter Yusfa akan datang membawa sebuah berita gembira untuk mereka.

Kira-kira 20 menit kemudian dokter Yusfa datang sambil berlari. Ya berlari, bukan berjalan! Begitu pintu terbuka dokter pun berteriak dengan nada keras, “Alhamdulillah bu Reni…. Alhamdulillah. …!!! Saya baru mengerti rupanya pendarahan selama ini disebabkan kanker rahim yang ibu alami… dan benda ini adalah kanker rahim tersebut. Cuma saya hanya mau bertanya bagaimana cara kanker ini bisa gugur dengan sendirinya.. .?!”

Subhanalllah. … rupanya penyebab pendarahan hebat selama ini adalah sebuah kanker yang tidak dapat terdeteksi. Pertanyaan terakhir dari dokter Yusfa tak mampu dijawab langsung oleh Reni. Namun Reni hanya mampu bersyukur kepada Allah bahwa akhirnya pertolongan itu datang juga untuknya setelah penantian yang cukup lama. Akhirnya pendarahan pun terhenti begitu saja, dan rupanya pertolongan Allah Swt tiba setelah Reni bersedekah dengan sejumlah harta yang sudah ia cita-citakan.

“Sembuhkan penyakit kalian dengan cara sedekah. Lindungi harta yang kalian miliki dengan zakat.” (HR. Baihaqi)

Sedekah sungguh sebuah perkara yang mengagumkan. Apakah anda pernah mengalaminya? !

Oleh: Dr. Amir Faishol Fath

Apa yang kita sombongkan??

Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya bercucuran deras. Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya, “Apa yang sedang Anda lakukan?”

Sang Guru menjawab, “Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka. Mereka pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya.”

Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih- benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.

Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.

Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.

Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence) . Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.

Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi.

Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan.

Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong.

Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala “tampak luar” lainnya. Yang kini kita lihat adalah “tampak dalam”. Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego.

Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri.
Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.

Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam.

Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri.
Kalau begitu, apa yang kita sombongkan?

sumber : milis Kalam Salman ITB

Kadek Ari, Keteguhan Peneliti Ikan

BM Lukita Grahadyarini dan Helena F Nababan

Ari Wahyuni atau biasa disapa Kadek semula tak berpikir untuk membiakkan spesies ikan laut yang jumlahnya mulai langka di alam. Namun, kecintaan pada dunia perikanan membuat dia tergerak membudidayakan beberapa jenis ikan yang populasinya terancam akibat terus diburu dalam jumlah besar.

Salah satu buah ketekunannya adalah pengembangbiakan kuda laut (Hippocampus spp) dan ikan nemo (Amphiprion sp) secara massal. Kuda laut yang dikembangkan ada dua jenis, yaitu Hippocampus kuda dan Hippocampus comes. Tahun 2008, total benih kuda laut yang dihasilkan 30.000 ekor dan benih ikan nemo sekitar 10.000 ekor.

Pergulatan Kadek membudidayakan ikan nemo atau ikan badut diawali pada 2003. Keinginan mengembangkan nemo muncul ketika seorang keponakan menggelitiknya dengan pertanyaan, ”Bisakah ikan lucu itu dikembangbiakkan?”

Pertanyaan itu membuat sarjana biologi ini terpana. Kadek yang terbiasa berkecimpung dalam pembiakan ikan malah belum terpikir mengembangkan ikan hias semacam itu. Di tingkat pedagang, ikan nemo yang mengandalkan tangkapan di alam dijual relatif murah, Rp 3.500 per ekor. Ikan mungil itu memiliki penampilan yang lucu sehingga terus diburu dan semakin sulit ditemukan.

Ia lalu bereksperimen dengan membeli sepasang ikan nemo berwarna dasar oranye cerah dengan corak garis putih dihiasi siluet hitam (Amphiprion ocellaris). Ikan itu diambil dari perairan Teluk Lampung, Provinsi Lampung. Percobaan awal tak berhasil. Sepasang nemo itu malah mati.

Kadek membeli lagi ratusan ikan nemo untuk dikembangbiakkan. Ia juga mencari konsep ”rumah buatan” yang tepat sebagai pengganti terumbu karang untuk bersarang dan tempat bertelur ikan karang itu. Proses uji coba ini menyebabkan ratusan ikan nemo mati. Ia lalu menggunakan anemon laut untuk tempat induk nemo bersarang dan menciptakan modifikasi pipa bekas sebagai tempat tinggal benih nemo.

”Hal tersulit adalah mencari tempat tinggal, bersarang, dan bertelur ikan itu. Jika perairan tercemar dan terumbu karang dirusak, populasi ikan ini di alam mudah terancam,” kata Kadek yang bekerja sebagai peneliti di Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung.

Hampir berbarengan dengan budidaya nemo, ia juga berinovasi memijahkan kuda laut yang tergolong hewan langka. Kuda laut hasil pemijahan itu memiliki masa pertumbuhan relatif cepat sehingga butuh waktu pemeliharaan hanya 6-7 bulan untuk siap panen dengan ukuran di atas 10 cm. Pemijahan kuda laut di Indonesia pernah dirintis pada 1990-an oleh peneliti BBPBL Lampung, Sudaryanto.

Sebagai peneliti, Kadek tak ingin setengah-setengah. Ia juga mencari formula pakan yang tepat bagi nemo dan kuda laut melalui pemberian jenis pakan yang disesuaikan dengan umur spesies. Ikan nemo yang terbiasa mengandalkan pakan alam bisa mengonsumsi pakan buatan berupa pelet setelah berukuran 3 cm.

Pengembangbiakan ikan nemo dan kuda laut menuai hasil tahun 2008. Keturunan ikan nemo sudah menghasilkan generasi kedua, sedangkan kuda laut generasi keempat. Kuda laut yang merupakan bahan dasar obat-obatan itu produksinya mencapai 14.000 ekor, di antaranya dipasarkan ke Jepang dan Jerman.

Benih hasil budidaya juga memiliki daya tahan lebih baik ketimbang tangkapan alam dan bisa beradaptasi dengan pakan buatan, perubahan lingkungan, dan salinitas. Selain menekuni budidaya ikan nemo dan kuda laut, Kadek bersama tim peneliti BBPBL Lampung juga mengembangkan budidaya kerapu bebek (Cromileptes altivelis) dan rumput laut.

Modal sendiri

Lulusan Fakultas Biologi Universitas Satya Wacana, Salatiga, ini yakin perikanan laut adalah kekayaan hayati yang potensial dibudidayakan. Sebagai peneliti yang juga pegawai negeri sipil (PNS), Kadek menyadari penelitian selama ini kurang aplikatif untuk diterapkan masyarakat.

Lebih jauh ia mengkritik budidaya perikanan di negeri bahari ini belum maju, lantaran sikap peneliti yang cenderung enggan bekerja lebih keras memajukan dan mengungkap kekayaan perikanan Tanah Air.

Sebagai bukti keseriusan mengembangkan penelitian, Kadek merogoh kocek pribadi hingga jutaan rupiah untuk penelitian ikan nemo. Keteguhannya meneliti dan membiakkan nemo tanpa biaya pemerintah itu sempat menuai kecurigaan petugas pengawas PNS yang mengaudit BBPBL Lampung pada 2005.

Pengawas itu mencurigai Kadek menggunakan dana ”gelap” dan secara sembunyi-sembunyi melakukan penelitian ikan nemo dan kuda laut. Setelah melalui proses interogasi, petugas itu berbalik mendukung penelitian yang dilakukan Kadek secara swadaya.

Terinspirasi nemo

Bergelut dengan budidaya satwa air membuat perempuan pemalu ini kerap terilhami sikap dan perilaku ikan. Ia terkesan saat mengetahui ikan nemo dan kuda laut adalah satwa air yang setia dan hanya mau dikawinkan dengan pasangannya.

”Kesetiaan nemo itu menginspirasi saya untuk terus setia pada (budidaya) ikan,” ujar anak keenam dari tujuh bersaudara itu.

Kadek tak ingin menyimpan hasil karyanya. Ia bercita-cita menghidupkan kembali tempat pembenihan udang (hatchery) milik rakyat yang kolaps sejak 2003 dengan mengajak petambak membudidayakan nemo dan kuda laut.

Ia berkeyakinan, maraknya upaya pengeboman karang dan perburuan ikan hias tak bisa dihentikan semata-mata dengan larangan dan sanksi. Lingkaran setan perusakan biota perairan bisa diputus bila ada solusi berupa penghasilan alternatif bagi masyarakat.

Untuk mewujudkan harapan itu, Kadek mendaftarkan hasil temuannya ke Departemen Kehutanan guna mendapatkan sertifikasi budidaya kuda laut. Dengan sertifikasi itu, langkahnya memperluas budidaya nemo dan kuda laut secara besar lebih mudah.

”Budidaya ikan diharapkan menjadi alternatif penghasilan baru bagi masyarakat. Ini lebih baik ketimbang mengebom karang dan merusak populasi ikan,” katanya.

Tahun ini dia bertekad memijahkan empat jenis nemo lain, yakni Amphiprion sandaracinos, Amphiprion sebae, Amphiprion melanopus, dan Premnas epigrama. Di Indonesia terdapat 34 jenis ikan nemo yang tergolong ikan hias.

Menurut dia, salah satu kendala yang harus dipecahkan adalah rantai pemasaran yang serba tak pasti. Di antaranya harga ikan hasil budidaya yang relatif rendah atau dipatok sama dengan hasil tangkapan, kendati ikan hasil budidaya punya daya tahan hidup lebih baik.

Harga jual ikan nemo Rp 3.500 per ekor, jauh lebih rendah ketimbang harga ekspor yang 15 dollar AS per ekor. Sedangkan kuda laut Rp 10.000-Rp 15.000 per ekor, padahal harga ekspornya 20 dollar-25 dollar AS per ekor.

”Tanpa memecah persoalan pemasaran, upaya membangkitkan budidaya perikanan sulit tercapai,” tuturnya.

sumber : kompas cetak edisi 10 Maret 2009

Air mata ana menetes di rumah Hidayat Nurwahid

Nabil Almusawa
e: nabielfuad@yahoo. com

BismiLLAAHir RAHMAANir RAHIIM,

Beberapa hari yang lalu ana berkesempatan untuk ikut dalam acara buka
bersama dengan Ketua MPR-RI, DR Muhammad Hidayat Nurwahid, MA di rumah
dinasnya, kompleks Widya Chandra dengan beberapa ikhwah.
Ketika ana masuk ke rumah dinas beliau tsb, maka dalam
hati ana bergumam sendiri: Alangkah sederhananya isi
rumah ini. Ana melihat lagi dengan teliti, meja, kursi2,
asesori yg ada, hiasan di dinding. SubhanaLLAH, lebih
sederhana dari rumah seorang camat sekalipun.
Ketika ana masuk ke rumah tsb ana memandang ke
sekeliling, kebetulan ada disana Ketua DPR Agung
Laksono, Wk Ketua MPR A.M Fatwa, Menteri Agama, dan
sejumlah Menteri dari PKS (Mentan & Menpera) serta
anggota DPR-RI, serta pejabat2 lainnya.

Lagi2 ana bergumam: Alangkah sederhananya pakaian
beliau, tidak ada gelang dan cincin (seperti yg dipakai teman2
pejabat yg lain disana). Ternyata beliau masih ustaz
Hidayat yg ana kenal dulu, yg membimbing tesis S2 ana
dg judul: Islam & Perubahan Sosial (kasus di Pesantren
PERSIS Tarogong Garut).

Terkenang kembali saat2 masa bimbingan penulisan tesis
tsb, dimana ana pernah diminta datang malam hari
setelah seharian aktifitas penuh beliau sebagai
Presiden PKS, dan ada 10 orang tamu yg menunggu ingin
bertemu. Ana kebagian yg terakhir, ditengah segala
kelelahannya beliau masih menyapa ana dg senyum : MAA
MAADZA MASAA’ILU YA NABIIL?

Lalu ana pandang kembali wajah beliau, kelihatan
rambut yg makin memutih, beliau bolak-balik menerima tamu, saat
berbuka beliau hanya sempat sebentar makan kurma &
air, karena setelah beliau memimpin shalat magrib terus
banyak tokoh yg berdatangan, ba’da isya & tarawih kami semua
menyantap makanan, tapi beliau menerima antrian wartawan dalam & luar
negeri yang ingin wawancara.

Tdk terasa airmata ana menetes, alangkah jauhnya ya
ALLAH jihad ana dibandingkan dg beliau, ana masih punya
kesempatan bercanda dg keluarga, membaca kitab dsb,
sementara beliau benar2 sudah kehilangan privasi
sebagai pejabat publik, sementara beliaupun lebih berat ujian
kesabarannya untuk terus konsisten dlm kebenaran dan membela rakyat.

Tidaklah yg disebut istiqamah itu orang yg bisa
istiqamah dlm keadaan di tengah2 berbagai kitab Fiqh dan Hadits
seperti ana yg lemah ini. Adapun yg disebut istiqamah
adalah orang yg mampu tetap konsisten di tengah
berbagai kemewahan, kesenangan, keburukan, suap-menyuap dan
lingkungan yang amat jahat dan menipu.

Ketika keluar dari rumah beliau ana melihat beberapa
rumah diseberang yang mewah bagaikan hotel dg asesori lampu2
jalan yg mahal dan beberapa buah mobil mewah, lalu ana bertanya pd supir DR Hidayat : Rumah siapa saja yg diseberang itu? Maka jawabnya : Oh, itu rumah pak
Fulan dan pak Fulan Menteri dari beberapa partai besar.

Dalam hati ana berkata: AlhamduliLLAH bukan menteri PKS.
Saat pulang ana menyempatkan bertanya pd ustaz Hidayat:
Ustaz, apakah nomor HP antum masih yg dulu? Jawab beliau:

Na’am ya akhi, masih yg dulu, tafadhal antum SMS saja
ke ana, cuma afwan kalo jawabannya bisa beberapa hari
atau bahkan beberapa minggu, maklum SMS yang masuk tiap hari ratusan
ke ana.

Kembali airmata ana menetes. alangkah beratnya cobaan beliau & khidmah
beliau untuk ummat ini, benarlah nabi SAW yang bersabda bahwa orang
pertama yg dinaungi oleh ALLAH SWT di Hari
Kiamat nanti adalah Pemimpin yang Adil. Sambil berjalan pulang ana
berdoa : Ya ALLAH, semoga beliau dijadikan pemimpin yg adil & dipanjangkan umur serta diberikan kemudahan dlm memimpin negara ini. Aaamiin ya RABB.

Berapa Nilai Anda?

Ada 3 kaleng coca cola, ketiga kaleng tersebut diproduksi
di pabrik yang sama.
Ketika tiba harinya, sebuah truk datang ke pabrik,
mengangkut kaleng-kaleng coca cola dan menuju ke tempat
yang berbeda untuk pendistribusian.

Pemberhentian pertama adalah supermaket lokal.
Kaleng coca cola pertama di turunkan disini. Kaleng itu
dipajang di rak bersama dengan kaleng coca cola lainnya
dan diberi harga Rp. 4.000.

Pemberhentian kedua adalah pusat perbelanjaan besar. Di
sana , kaleng kedua diturunkan.
Kaleng tersebut ditempatkan di dalam kulkas supaya dingin
dan dijual dengan harga Rp. 7.500.

Pemberhentian terakhir adalah hotel bintang 5 yang sangat
mewah.Kaleng coca cola ketiga diturunkan di sana. Kaleng
ini tidak ditempatkan di rak atau di dalam kulkas.
Kaleng ini hanya akan dikeluarkan jika ada pesanan dari
pelanggan. Dan ketika ada yang pesan, kaleng ini
dikeluarkan besama dengan gelas kristal berisi batu es.
Semua disajikan di atas baki dan pelayan hotel akan
membuka kaleng coca cola itu,
menuangkannya ke dalam gelas dan dengan sopan
menyajikannya ke pelanggan.
Harganya Rp. 60.000.

Sekarang, pertanyaannya adalah :
Mengapa ketiga kaleng coca cola tersebut memiliki harga
yang berbeda padahal diproduksi dari pabrik yang sama,
diantar dengan truk yang sama dan bahkan mereka memiliki
rasa yang sama

Lingkungan Anda mencerminkan harga Anda.

Lingkungan berbicara tentang RELATIONSHIP.

Apabila Anda berada dilingkungan yang bisa mengeluarkan
terbaik dari diri Anda, maka Anda akan menjadi cemerlang.
Tapi bila Anda berada dilingkungan yang meng-kerdil- kan
diri Anda, maka Anda akan menjadi kerdil.
(Orang yang sama, bakat yang sama, kemampuan yang sama) +
lingkungan yang berbeda = NILAI YANG BERBEDA.

Kesesuaian adalah Kunci Keberhasilan UKM

oleh : Aguntaran

Pada suatu hari, terdapatlah suatu kompetisi yang hanya bisa dilakukan oleh dua peserta saja. Kompetisi ini adalah kompetisi mendapatkan sejumlah tumpukan uang yang diletakkan di jarak yang j0auh dari kedua peserta itu. Mungkin mirip dengan lomba lari dengan target mengambil ‘segepok’ uang di akhir lintasan. Kompetisi dibagi menjadi dua ronde. Peserta yang ikut kali ini adalah Samson yang bertubuh tinggi besar dan Ucil si pemeran tuyul dan mbak yul. Uang diletakkan di tengah lapangan. Peluit dibunyikan untuk babak pertama. Dan tahukah anda siapa yang memenangkan pertarungan awal? saya bisa tebak anda akan memilih Samson sebagai pemenangnya, (dan memang dia yang menang untuk babak pertama ini).

Sekarang perlombaan memasuki babak kedua. Bedanya ‘gepok’ uang itu diletakkan di bawah kasur yang sangat berat bahkan sang Samson pun tak bisa mengangkatnya. Peluit telah berbunyi. Keduanya berlari menuju uang tadi. Tahukah anda siapa pemenang kali ini? Baiklah anda memang hebat dalam memilih. Sekarang Ucil adalah pemenang untuk kali ini. Kenapa bisa? Ini adalah masalah logika persaingan semata. Jelas dalam perlombaan pertama, tempat pertarungan yang terbuka di lapangan tidak menguntungkan bagi si Ucil yang berbadan kecil tetapi area kasur yang sempit tentu akan menyulitkan bagi sang Samson yang berbadan besar.

Jadi inti yang hendak saya sampaikan adalah bahwa ternyata ada tempat dimana usaha kecil bisa sukses tanpa susah payah untuk bertarung dengan usaha besar. Seperti ilustrasi diatas. Cukup banyak contoh usaha yang bisa disebutkan untuk menunjang hipotesa ini. Saya pernah mendengar sebuah cerita ada pengusaha industri kulit di Garut, sebelum krismon ($1 = Rp 2500), mendirikan mesjid Rp 450 juta. Bisa anda bayangkan berapa profit yang dihasilkan? Ada lagi pengusaha kapas kecantikan, Bandung Selatan, mampu menyekolahkan anak, hingga S3. Seorang Ibu, Pangandaran, buta huruf, pedagang ikan asin, omset ½ milyar rupiah untuk tiap periode usaha. Terakhir ada pengusaha tekstil, Kabupaten Bandung, kelas 4 SD, telah mengunjungi seluruh bagian dunia, kecuali Afrika. Kelihatannya amazing, tetapi kisah diatas merupakan kisah nyata. Kenyataan diatas membuka mata saya tentang sesuatu dibalik kesuksesan sebuah usaha (kecil). Seringkali kita mendapatkan gambaran bahwa kunci sukses sebuah usaha adalah modal, bakat wirausaha, dan teknologi. Coba lihat lagi contoh seorang Ibu dan usaha ikan asinnya. Kira-kira teknologinya apa sih? Saya kira tidak perlu high tech untuk ’sekedar’usaha ikan asin.

Jadi kunci sukses usaha kecil menurut saya adalah kesesuaian antara produk/jasa dengan corak pasarnya. Jika kita memilih jenis usaha yang cocok dengan corak pasar kemungkinan berhasilnya akan semakin tinggi. Sekali lagi disini kita butuh sedikit kecermatan dalam memilih usaha. Sampai disini mungkin belum banyak yang terlalu paham. Baiklah kita ambil ilustrasi lagi. Kita ambil contoh usaha tekstil. Menurut saya ini adalah usaha yang hanya cocok untuk usaha besar. Tidak disarankan bagi pengusaha kecil untuk masuk ke dalam usaha jenis ini (kecuali beberapa segmen dari usaha tekstil). Usaha besar dengan mesin canggihnya akan membuat proses produksi semakin cepat dan semakin murah, akibatnya usaha kecil dengan sendirinya akan kalah oleh usaha besar. Semacam hokum rimba pasar, yang murah dan berkualitas yang akan menang. Hal ini merupakan jawaban dari fenomena matinya sebagian besar usaha tekstil Majalaya. Sewaktu pemerintah mewajibkan setiap pegawai negeri memakai batik Korpri, seharusnya banyak usaha tekstil batik yang berjaya, tetapi fenomena yang ada malah mengatakan sebaliknya. Banyak pengusaha kecil batik yang berguguran. Selidik punya selidik ternyata ada pengusaha besar (dengan modal besar) yang masuk ke usaha batik Korpri tadi. Dia mampu membuat batik dengan harga yang jauh lebih murah karena dukungan modal dan teknologi proses produksi yang dia miliki (mungkin juga koneksi bisnisnya). Contoh lain kita ambil usaha lotek. Saya kira sampai sekarang saya belum menemukan usaha besar yang bergerak di bidang usaha lotek ini. Jelas ambil langkah mati jika ada usaha besar yang masuk ke area ini. Permintaan lotek tidaklah sebesar permintaan tekstil. Kunci keberhasilan ini seringkali tidak disadari oleh banyak orang. Salah satu contoh diatas mengatakan usaha kecil akan gagal jika masuk ke dalam area yang tingkat permintaannya besar sehingga hanya cocok dimasuki oleh usaha besar.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.